- Esai Dr. Surayanah *)
DALAM Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional diketahui bahwa di Indonesia terdapat tiga jalur penyelenggaraan pendidikan yang biasa disebut sebagai tritunggal pendidikan.
Tritunggal pendidikan tersebut meliputi pendidikan formal, pendidikan non formal, dan juga pendidikan informal. Dalam prakteknya, pendidikan formal dan non formal lebih dikenal. Hal tersebut berbanding terbalik dengan pendidikan informal yang sering dilupakan keberadaanya oleh publik.
Pendidikan informal sendiri adalah proses pembelajaran yang berlangsung di luar institusi pendidikan formal maupun non formal seperti sekolah, universitas, kursus, atau lembaga pendidikan resmi lainnya. Pendidikan informal berlangsung pada lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, atau melalui media dan internet.
Proses pembelajaran pendidikan informal dapat berupa pengalaman langsung yang nyata, pengamatan atau observasi, dan diskusi dengan orang lain. Dengan sumber pembelajaran yang berasal dari keluarga, teman, tetangga, media massa, atau lingkungan sekitar.
Pendidikan informal memiliki peran penting dalam membentuk sikap, perilaku, norma dan keyakinan yang akan dimiliki oleh seorang anak dan awal dari terbentuknya hal tersebut berawal dari keluarga. Keluarga memiliki peran yang penting dalam pembentukan karakter anak karena keluarga merupakan aset terdekat yang dimiliki oleh seorang anak.
Seorang anak membentuk karakter, perilaku dan keyakinannya melalui interaksi sehari-harinya dengan keluarga dan orang-orang terdekat di sekitarnya. Terlebih lagi, karakter anak mudah terbentuk di usia 1-2 tahun, dimana tidak ada orang lain selain keluarga yang mampu membantu untuk memfasilitasinya dengan nilai-nilai dan interaksi sosial yang bermakna.
Dengan demikian, seorang anak mampu mengembangkan kemampuan emosional dan sosialnya dengan baik. Seperti bagaimana ia dapat berkomunikasi dengan baik, bagaimana ia dapat bekerja sama dengan orang lain dan bagaimana ia dapat memanajemen emosinya di berbagai konteks kehidupan yang dinamis.
Beberapa kemampuan dasar tersebut akan berguna dalam menunjang kehidupannya di masa depan, khususnya dalam menjalani kehidupan formal di usia yang terbilang matang di masa depan. Sebagai seorang guru dan fasilitator, orang tua dituntut untuk bisa memberikan common sense, yaitu kemampuan dasar untuk melihat, memberi, merasakan dan menilai suatu kebenaran umum dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal ini dapat diajarkan melalui ucapan maupun tindakan langsung sebagai contoh kepada anaknya. Seperti teguran kepada anak jika anak melakukan kesalahan dan aksi nyata seperti berbagi kebaikan dengan mencontohkan langsung kepada anak.
Keluarga khususnya orang tua perlu untuk memberikan larangan dan batasan agar anak mampu dan dapat belajar akan hal hal yang seharusnya tidak dilakukan. Selain mengajarkan dan membentuk karakter anak, orang tua juga berperan penting dalam menyediakan dukungan dan konseling di dalam setiap proses belajar anak, khususnya saat anak mendapat pendidikan formal.
Saat mendapat dukungan yang baik dari orang tuanya, anak akan mendapat pengalaman belajar yang lebih baik serta terarah karena memiliki keluarga yang dapat memberikan arahan dan motivasi. Dengan demikian, seorang anak akan memiliki pemahaman tentang pembelajaran yang baik dan pentingnya sebuah pendidikan.
Dalam penyelenggaraannya, pendidikan informal mempunyai sumberdaya yang tidak terbatas, baik dari segi waktu dan tempat. Beberapa sumber daya tersebut adalah pengalaman hidup, komunitas sosial dan jaringan sosial, alam dan lingkungan sekitar, serta teknologi informasi dan komunikasi.
Kita mungkin pernah mendengar pepatah bahwa pengalaman hidup adalah guru terbaik dan hal tersebut adalah benar adanya. Melalui pengalaman hidup yang dialami langsung yang dialami oleh individu dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat kontekstual, pembelajaran yang terjadi menjadi lebih bermakna.
Yang kedua adalah melalui komunitas dan lingkungan sosial. Dengan bergabung pada sebuah organisasi yang dapat mengakomodasi minat yang sama, maka seorang individu dapat bertukar pengalaman dan pengetahuan serta memperluas jaringannya. Yang ketiga adalah alam dan lingkungan sekitar yang merupakan tempat bertumbuh dan berproses.
Berbagai pengetahuan dapat diperoleh individu melalui proses pengamatan alam dan lingkungannya melalui observasi pada objek secara langsung maupun melalui kunjungan ke museum, taman, atau galeri. Yang terakhir adalah melalui teknologi informasi dan komunikasi yang dapat berupa internet dan sosial media.
Melalui teknologi tersebut, seorang individu dapat mengakses berbagai informasi yang dapat memperkaya pengetahuannya dari manapun dan kapanpun. Informasi-informasi tersebut dapat berasal dari video tutorial, e-book, maupun website.
Tidak seperti pendidikan formal, pendidikan informal lebih bersifat luas dan memiliki lebih sedikit batasan. Dengan minimnya batasan yang dimiliki khususnya keterbatasan waktu, pendidikan informal lebih mendukung long-life learning atau pendidikan sepanjang hidup.
Long-life learning merupakan proses belajar yang bersifat berkelanjutan sejak manusia dilahirkan hingga dia meninggal dunia. Dengan demikian, pendidikan informal memungkinkan seorang anak untuk belajar apapun, dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun.
Di dunia dimana tidak ada satupun hal yang konstan selain perubahan, selalu mengikuti perkembangan dan perubahan adalah hal perlu dilakukan. Dengan menerapkan belajar berkelanjutan, seseorang akan lebih mungkin untuk mengembangkan pertumbuhan personal dan potensi maksimalnya. Hal ini akan sulit dicapai jika hanya mengandalkan pendidikan formal karena beberapa keterbatasannya.
Penerapan long-life learning melalui pendidikan informal juga membantu untuk seseorang tumbuh menjadi orang yang kreatif dan penuh inovasi. Hal tersebut dikarenakan oleh sifat pendidikan informal yang relevan dengan keadaan dunia sekitar yang memungkinkan untuk seseorang menerapkan pengetahuan yang dia dapat dari pendidikan formal ke dalam permasalahan kompleks yang sedang terjadi di sekitarnya.
Dengan demikian, penerapan long-life learning yang baik akan memungkinkan seseorang untuk selalu mampu dalam beradaptasi dalam setiap kondisi kehidupan yang bersifat tidak konstan.
Dari pemaparan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sama seperti jenis pendidikan lainnya, pendidikan informal penting keberadaannya terkhusus untuk pendidikan keluarga yang merupakan pondasi dari segala macam pendidikan. Akan tetapi, pendidikan informal sering dilupakan keberadaanya karena tidak terstruktur layaknya jenis pendidikan lain.
Oleh karena itu, siapapun kita, kita harus dapat menjadi pribadi yang ramah untuk membantu individu di sekitar kita menyelesaikan tugas perkembangannya dan belajar bersama dengan baik. []
*) Penulis adalah Dosen Universitas Negeri Malang


Terimakasih atas artikelnya sangat bermanfaat, sukses selalu Bu.