Mengapa Kita Sebagai Manusia Wajib Beragama?

  • Perspektif Strukturalisme Agama dalam Rangka Debinatangisasi Terhadap Manusia

Artikel Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja *)

Pendahuluan

Pada umumnya kita menerima begitu saja sesuatu yang ada dalam masyarakat tanpa pernah memikirkannya secara mendalam dan kritis. Misalnya, kita orang Indonesia pasti beragama, sebagaimana tercantum pada KTP (Kartu Tanda Penduduk) yang tersimpan di dalam dompet yang berada di saku celana atau saku baju yang kita kenakan. Jika kita mempersoalkannya, misalnya kita mengajukan pertanyaan, “mengapa kita beragama?”

Pertanyaan tersebut bisa jadi dianggap mengada-ada. Bahkan bisa jadi muncul anggapan bahwa hanya orang yang iseng atau tidak memiliki pekerjaan (tusing ngelah gae) yang mempertanyakan masalah tersebut untuk mengisi waktu senggangnya.
Walaupun demikian bagi orang yang terbiasa berpikir ala filosof maka apa yang tidak dipertanyakan oleh orang lain atau orang Bali menyebutnya dengan istilah anak mula suba keto (ya memang demikian keadaannya) justru dipertanyakannya.

Apa gunanya mempertanyakan sesuatu yang termasuk ke dalam kategori masalah anak mula suka keto? Jawabannya, pertama, menggali gagasan-gagasan tersembunyi di baliknya, mengingat apa pun ungkapan kebahasaan dan/atau tindakan manusia dalam masyarakat, pasti ada maknanya yang mengacu kepada nilai-nilai tertentu sebagai skematanya. Makna-makna ini perlu digali untuk memberikan penyadaran kepada kita agar kita menjadi pribadi yang lebih berkeadaban.

Kedua, ungkapan-ungkapan kebahasaan dan/atau tindakan dalam masyarakat perlu dipertanyakan ala seorang filosof, mengingat bahwa apa yang berlaku, mungkin bermuatan kepentingan yang berpotensi meminggirkan orang dan/atau kelompok sosial tertentu. Gagasan ini berkaitan erat dengan adanya kenyataan bahwa ungkapan-ungkapan kebahasaan sebagai wacana acap kali tidak netral, melainkan bermuatan kepentingan berbasis suatu ideologi. Jika hal ini terjadi maka kita bisa menegoisasikannya, agar apa yang dianggap sebagai sesuatu yang suba mula keto, dilakoni secara berkeadaban untuk menuju kedamaian.

Bertolak dari pemikiran seperti ini maka saya mencoba menjawab pertanyaan, yakni mengapa kita sebagai manusia wajib beragama?. Saya mencoba mengangkatnya sebagai suatu wacana, karena menurut saya masalah tersebut termasuk ke dalam katagori masalah anak suba mula keto.

Jika kita menempatkan diri kita sebagai seorang filosof, maka jawaban atas pertanyaan tersebut sangat luas dan kompleks. Berdasarkan jawaban atas pertanyaan ini saya berharap kita bisa mendapatkan banyak manfaat untuk meningkatkan kualitas keberagaman kita, baik secara teoretis maupun praksis.

Pendekatan Strukturalisme

Jawaban atas pertanyaan “mengapa kita beragama?” saya kaji menggunakan pendekatan strukturalisme. Pendekatan ini berasumsi bahwa tindakan manusia ditentukan oleh struktur kognisi atau semacam tata bahasa dalam pikirannya. Struktur tersebut bercorak oposisi biner, binerisme atau rwa bineda. Misalnya, baik/buruk, benar/salah, indah/jelek atau normal/abnormal.

“Mengapa manusia tidak mencari?” Jawaban atas pertanyaan ini adalah manusia tidak mencari karena di dalam pikirannya ada struktur atau tata bahasa yang menyatakan bahwa mencari adalah tindakan buruk, salah, jelek atau abnormal.

Contoh lainnya, “mengapa Anda makan nasi? Jawabannya, karena dalam pikiran kita ada struktur kognisi atau tata bahasa yang menyatakan bahwa nasi adalah makan baik, benar, dan indah. Orang makan nasi adalah orang normal-kondisi ini mengakibatkan jika kita belum makan nasi, padahal kita sudah makan roti, ubi goreng, dan sebagainya, maka kita mengatakan diri kita belum makan.

Jika dikaitkan dengan agama maka secara strukturalisme agama melawankan manusia dengan binatang. Gagasan ini dapat dicontohkan pada tindakan seseorang yang bercumbu di muka umum, maka orang Bali menyebut yang bersangkutan seperti binatang atau beburon – bisa pula disebut jelma mabatis papat (manusia berkaki empat = binatang).

Begitu pula orang yang tidak bisa mengurus tempat tidurnya secara rapi dan tidak bersih, bahkan cenderung kumuh dan jorok, maka orang Bali menyebut kondisi seperti ini sebagai sebum bangkung. Artinya, tepat tidur/kamar tidur seseorang secara metaforis disebut sarang babi.

Mengapa manusia dilawankan dengan binatang? Jawabannya, tidak sekadar karena berbeda secara fisikal, tetapi yang lebih penting terletak pada kepemilikan akal budi. Kata manusia berasal dari bahasa Sansekerta, yakni manu + sa. Manu = manah = pikiran. Pikiran menyatu dengan budi, sehingga akal digandengkan dengan budi – terbentuk kata akal budi. Sa = sya = memiliki.

Jadi, manusia pada dasarnya adalah insan yang memiliki akalbudi. Sebaliknya, binatang tidak memiliki akalbudi. Kepemilikan akalbudi mengakibatkan manusia dapat berpikir dan membedakan benar/salah, baik/buruk, indah/jelek, dan normal/abnormal suatu tindakan dalam masyarakat. Kepemilikan akalbudi mengakibatkan manusia mampu menciptakan kebudayaan.

Kepemilikan kebudayaan mengakibatkan manusia mampu memperpanjang organ-organ tubuhnya dalam mewujudkan tujuannya melalui kebudayaan sebagai teknologi. Begitu pula kepemilikan kebudayaan mengakibatkan manusia mampu mengendalikan hasratnya. Anda melihat istri teman Anda cantik, maka sebagaimana manusia Anda tidak akan menyerangnya, sebagaimana halnya anjing jantan menjumpai anjing betina. Kebudayaan mengendalikan sifat kebinatangan kita menjadi sifat-sifat sebagai manusia.

Kondisi ini berbeda daripada binatang, yakni tidak memiliki akalbudi dan tidak mampu menciptakan kebudayaan. Tindakan binatang hanya mendasarkan pada insting. Jika anjing lapar, maka dia tidak tahu aturan. Kita lengah maka makanan di atas meja makan akan dijarahnya. Tindakan anjing di Amerika Serikat sama dengan tindakan anjing di Indonesia.

Bagaimana tindakan orang Amerika Serikat jika dibandingkan dengan tindakan orang Bali dalam urusan cara makan misalnya? Jawabannya adalah berbeda karena faktor akalbudi dan kebudayaanya berbeda. Kita melihat makan = nasi, orang Amerika Serikat makan = roti.

Begitu pula Agama Hindu menyatakan bahwa manusia memiliki Tri Pramana, yakni tiga kemampuan. Hal ini menyangkut kemampuan berpikir (akalbudi), kemampuan berbicara, dan kemampuan berpindah dari satu ruang ke ruang lain secara mewaktu guna memenuhi kebutuhannya.

Sebaliknya, binatang hanya memiliki Dwi Pramana, yakni kemampuan bersuara dan kemampuan berpindah/bergerak, tanpa kemampuan berpikir (tidak berakalbudi) – mengandalkan insting.

Agama untuk Melakukan Debinatangisasi terhadap Manusia

Tuhan menciptakan manusia. Tuhan Maha Tahu. Kemahatahuan ini mengakibatkan Tuhan, tidak saja tahu kelebihan manusia, tetapi juga kekurangannya. Misalnya, di satu sisi Tuhan tahu bahwa manusia memiliki akalbudi, namun di sisi yang lain Tuhan juga tahu bahwa manusia memiliki cacat bawaan yang mampu membelokkan akalbudinya, bukan ke kanan (tindakan benar, baik, indah, dan normal), melainkan ke kiri (tindakan salah, buruk, jelek, dan abnormal).

Apa cacat bawaan itu? Jawabannya secara psikogenetik manusia memiliki potensi bersifat seperti manusia atau sebaliknya bersifat seperti binatang. Sifat seperti manusia tercermin pada tindakan manusia mengikuti akalbudinya. Tindakan sebagai binatang, tercermin pada ulah manusia mengikuti insting atau nalurinya.

Misalnya, orangtua memiliki kasih sayang terhadap anaknya. Tindakan ini mencerminkan tindakan manusia sebagai manusia. Orangtua memperkosa anak kandungnya. Tindakan ini mencerminkan tindakan orangtua sebagai binatang – ciri binatang melampiaskan hasrat seksual kepada lawan jenis tanpa asas moralitas. Seseorang memukul temannya hanya karena memperebutkan nasi bungkus.

Tindakan ini adalah tindakan binatang – ciri binatang adalah bagaimana mencari makan agar bisa hidup. Seseorang membunuh tetangganya karena merasa terancam – tindakan ini adalah tindakan binatang – bertindak karena mencari aman – tidak dimakan oleh predator lainnya.

Kelemahan sikap manusia yang bersumberkan pada sifat kebinatangan diatasi oleh Tuhan dengan cara memberikan ajaran agama. Agama apa pun mengajarkan agar umatnya memupuk sifat-sifat kemanusiaan, sebaliknya menghindarkan sifat-sifat kebinatangan. Intisari sifat kemanusiaan yang diajarkan oleh agama adalah manusia mengendalikan hasrat-hasrat atau sifat-sifat negatif sebagaimana yang ditunjukkan oleh binatang.

Sifat-sifat negatif pada binatang, mohon perhatikan binatang di sekitar kita, misalnya anjing dan babi, menunjukkan perilaku yang penuh dengan kemalasan, kebodohan, kejorokan, kerakusan, tidak tahu malu, saling serang memperebutkan makanan, menyerang pihak lain karena merasa terancam, melampiaskan hasrat seksual tanpa mengenal rasa malu, hidup untuk makan tanpa mau bekerja, dan sebagainya.

Dengan demikian, jika dibuatkan kesimpulan terhadap jawaban atas pertanyaan, “mengapa kita sebagai manusia wajib beragama?” Jawabannya adalah kita sebagai manusia wajib beragama agar kita menjadi manusia, bukan menjadi binatang. Atau kita wajib beragama adalah dalam konteks humanisasi – proses yang tidak pernah berhenti untuk menjadikan diri kita agar menjadi manusia.

Posisi manusia adalah berlawanan dengan binatang (manusia versus binatang). Berkenaan dengan itu maka kita bisa pula mengatakan bahwa kita sebagai manusia wajib beragama adalah untuk menjadikan diri kita agar tidak menjadi binatang. Atau kita sebagai manusia wajib beragama adalah untuk menolak binatangisasi – proses dalam hidup menjadikan diri kita memiliki dan/atau menumbuhkembangkan sifat-sifat kebinatangan.

Dengan rumusan lain bisa pula dinyatakan bahwa kita sebagaimana manusia wajib beragama adalah dalam rangka debinatangisasi – memutuskan, melenyapkan atau mengendalikan sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada diri kita sebagai manusia. Karena itulah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang tidak memberikan agama kepada binatang, tetapi sebaliknya, yakni hanya untuk manusia. Tuhan tahu bahwa keinginan manusia untuk melakukan debinatangisasi pada dirinya bukan masalah mudah, sehingga perlu tuntunan dari-Nya dalam bentuk agama. (1-Bersambung)

*) Penulis adalah Guru Besar Emeritus pada Pascasarjana STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *