- Kolom Khusus Ketut Muhammad Suharto
DESA Pegayaman mengalami proses perjalanan yang cukup panjang. Penuh dinamika. Selama berabad-abad.
Para pemerhati literasi mengabadikannya dalam karya-karya mereka. Spirit warga Pegayaman. Sinergi mereka dalam kehidupan.
Spirit dan sinergi warga Pegayaman selama empat abad berjalan mampu melahirkan keunggulan-keunggulan. Desa Pegayaman dalam perjalanan sejarahnya, berproses dengan maksimal. Dan melahirkan ciri khas. Dan melahirkan nilai-nilai. Seni, budaya, adat istiadat dan peradaban.
Catatan saya, keunggulan-keunggulan dari Desa Pegayaman tersebut yaitu;
Pertama, sejarah Desa Pegayaman jelas tercatat dalam babad dan jurnal-jurnal yang ditulis oleh para pemerhati sejarah. Misalnya, sejarah Desa Pegayaman tercatat dalam Babad Buleleng, yang diterjemahkan oleh Saprah (seperti disebutkan dalam skripsi Ketut Daimudin Hasyim).
Dalam Babad Buleleng itu disebutkan “orang-orang Pegayaman diberi gelar dengan Sri Aji Bukit Sitindih”. Dan diberi tempat di sebuah bukit hutan gatep, yang sekarang disebut Pegayaman.
Juga disebutkan dalam buku yang disusun oleh dr. Soegianto Sastrodiwiryo. Dalam bukunya “Raja Buleleng I Gusti Anglurah Panji Sakti” juga banyak dikupas tentang penempatan para laskar rekrutan dari Blambangan, yang diberi lokasi tempat tinggal di sebuah bukit pegatepan, atau disebut sekarang dengan Pegayaman.
Jadi, para penulis yang menulis terkait dengan Kerajaan Buleleng, selalu mengaitkan dengan peran penting para Laskar Kumpi Bukit Pegayaman yang direkrut di tahun 1648 M, dari Kerajaan Blambangan, Jawa Timur, ketika penaklukan pertamanya I Gusti Anglurah Panji Sakti. Pada saat itu, I Gusti Anglurah Panji Sakti bekerja sama dengan Amangkurat I, Raja Mataram Islam Jawa Tengah, yang pada saat bersamaan punya kepentingan juga dalam penaklukan Kerajaan Blambangan.
Pada saat penyerangan tersebut Mataram Islam dipimpin oleh Tumenggung Danu Paya.
Kedua, Desa Pegayaman sebagai desa tua. Disebut desa tua karena jika dilihat dari tahun kedatangan para laskar Pegayaman dari hasil rekrutmen I Gusti Anglurah Panji Sakti dari Kerajaan Blambangan terjadi di tahun 1648 M.
Maka Desa Pegayaman sudah bisa dikatakan termasuk desa tua di Bali. Sebab, desa ini sudah berumur hampir empat abad.
Dari perjalanan empat abad inilah Desa Pegayaman mampu menorehkan kisah-kisah dalam semua sisi di bumi Bali ini, dan ikut mewarnai kehidupan Pulau Dewata. Baik dari sisi politik, sosial, budaya, adat istiadat, bahasa, pendidikan, seni dan yang lainnya.
Ketiga, Desa Pegayaman sebagai desa yang akulturatif. Geliat kehidupan di Desa Pegayaman selama perjalanannya selalu menampakkan kondisi Bali yang islami.
Apapun yang berkembang selama ini di Desa Pegayaman adalah kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di Bali. Seperti bahasa yang dipakai adalah bahasa Bali. Mulai bahasa Bali kasar, menengah, dan halus, akan tetapi dengan penekanan aksen yang khas Pegayaman.
Kuliner yang berkembang selama ini adalah kuliner Bali pada umumnya dengan tanda kutip yang halalan toyiba, seperti makanan untuk dikonsumsi sehari-hari dan makanan adat.
Model dalam pernikahan juga memakai model Bali, seperti utama, madya, dan nista, sebagaimana yang berkembang di Bali. Sistem pertanian subak juga memakai sistem subak di Bali, akan tetapi perlakuannya dengan gaya Islam Pegayaman. Misalnya kalau di Bali pakai kidung dan sesaji, maka di Pegayaman memakai zikir dan santapan selamatan sebagai bukti syukur pada Allah, atas panen yang telah dihasilkan.
Keempat, Pegayaman sebagai desa unik. Keunikan Pegayaman yang ada sampai saat sekarang ini, semuanya dihasilkan oleh nilai- nilai yang berkembang. Nilai-nilai itu dipertahankan selama ini, dan ini memunculkan nilai klasifikasi unik dibanding desa-desa yang lainnya di Bali.
Kelima, Desa Pegayaman sebagai desa budaya. Kebiasaan yang berkembang dalam bidang sosial, adat istiadat, budaya, seni tradisi, politik yang khas Pegayaman, membawa Pegayaman sebagai desa budaya. Budayanya khas dan sulit dicari persamaannya di desa lainnya.
Dan salah satu seni yang khas Pegayaman, yakni Ngarak Sokok Hadrah telah ditetapkan oleh Dinas Kebudayaan sebagai warisan budaya tak benda.
Keenam, Desa Pegayaman sebagai desa pejuang. Warga Desa Pegayaman dari awal kedatangannya dari tahun 1648 M sampai masa Perjuangan Kemerdekaan terus menjadi pejuang. Dalam diri warga Pegayaman tetap melekat rasa kesatria yang dalam untuk bela negara.
Tak heran kalau sampai ada empat pahlawan dari Desa Pegayaman, yaitu Maman Fauzi, Maman Harunan, Maman Bahrul, dan Maman Anwar Bek.
Dan sampai sekarang rasa bela negara para warga Pegayaman selalu hidup dalam keseharian mereka. Mereka sangat gampang untuk diajak dalam urusan pertahanan kemerdekaan.
Dari generasi ke generasi, warga Pegayaman selalu bergairah untuk belajar bela diri. Sejak usia dini. Dengan bela diri khas yakni Citembak, Cikalong, Cimande dan Pencak Belebet.
Itulah sejumlah keunggulan Desa Pegayaman, yang dihasilkan selama empat abad berselang. []
*) Penulis adalah Pemerhati Sejarah dari Pegayaman

