- Esai Sejarah dr. Soegianto Sastrodiwiryo
ANAK-ANAK Mumbul dari kelahirannya bisa dibagi tiga lapis. Lapis satu yang lahir tahun 30-an. Lapis dua yang lahir tahun 40-an dan lapis tiga yang lahir setelah tahun 50-an.
Yang lahir lapis satu adalah Mulyono, Wito, Saruddin, Parmo, Suryono, Sawal yang cewek Murti, Poniem Jumini, Suwarni dan Yatni.
Lapis dua Yatno, Sugiri, Fatimah, Dolok, Boadi, Mustopo, Paimin, Derahman, Puah, Kacung, Prapto, Sudiyono.
Pemimpin yang lahir tahun 40-an adalah Mustopo, tarzan Mumbul jago berenang. Suatu saat, Mustopo punya rencana untuk melanglang buana ke Buitan melihat raksasa yang konon suka sembunyi di rumpun-rumpun bambu lebat di tengah sungai (tukad) Buleleng.
Buitan letaknya tepat di belakang RRI dan Rumah Pak Koop, pelukis yang memperisteri wanita Jerman, ibunya Theo, dan seorang wanita kakaknya. Sebelum berangkat ke Buitan, dengan target menarik ‘menjumpai raksasa hitam’, mereka sempat berunding dengan kawan-kawannya dipimpin Mustopo. Sugiri, Yatno Dolok, Kacung, Boadi, Ako, Sudiyono, Derahman siap bergabung kecuali Juliah dan Fatimah karena keduanya cewek tak diijinkan.
Pagi sekali kesembilan anak-anak itu berbaris dari Mumbul menuju Buitan menyusuri tepi selatan alun-alun bawah. Lalu berbelok ke kiri di perempatan. Di tengah jalan, Boadi sempat ingin batal karena sangat takut ketemu raksasa. Dia hampir menangis tapi dibujuk oleh Dolok dan Derahman, akhirnya bisa ditenangkan.
Setelah berbelok di jalan sebelah selatan RRI, suasana makin mencekam, tapi Komandan Mustopo tetap tenang. Malah meminta anak buahnya buat bernyanyi lagu Malaya Dewi Murni. “Surya bathara dewangga berikanlah derma pada rakyat Indraloka.”
Dijawab serentak oleh anak-anak. “Moga-moga semuanya selamat dan sentosa di Indraloka”.
Suasana menjadi gembira dan meriah. Ketakutan pada raksasa telah hilang lenyap. Kini mereka telah mencapai tepian sungai yang mulai meluap. Suara tiupan angin mulai terasa dingin dan terdengar suara jepitan bambu yang mulai saling gesek menimbulkan suara menyeramkan.
Pekik gembira berubah menjadi rasa khawatir. Mereka semua terdiam kecuali Mustopo yang tertawa-tawa kecil sambil menuju ke sebuah rumpun pohon bambu lebat di tengah-tengah sungai.
Aneh, kumpulan bambu itu tampak bergerak-gerak ke segala arah. Kacung dan Boadi hampir saja melompat lari kalau tidak dipegang oleh Paimin, adiknya Mustopo, dan Derahman.
Tapi akhirnya mereka lari juga terbirit-birit melihat seorang manusia gelap hitam berambut panjang awut-awutan melompat dari ketinggian batu-batuan dekat rumpun bambu. Yang tidak lari hanya Paimin, Derahman dan Mustopo. Malahan mereka bertiga tertawa terpingkal-pingkal.
Anak-anak yang sudah lari berhenti semua, kecuali Boadi yang lari terus pulang ke Mumbul. Anak-anak merasa ada yang janggal. Akhirnya mereka baru sadar ditipu Mustopo.
Raksasa itu ternyata bernama Mukmin, orang sinting dari Kampung Kajanan. Mukmin sebenarnya orang baik, tapi kalau kumatnya datang, ia jadi aneh-aneh.
Sebenarnya Mukmin diberi pekerjaan oleh Haji Alawi, pemilik toko kelontong di gang jalan Kajanan. Tapi bila kumatnya datang, ia melayani pembeli hanya dengan satu harga, Rp 1.000. Apapun jenis barangnya. Saat itu uang seratus rupiah sudah amat besar. Seribu rupiah mah amat besar, bisa beli macam-macam barang.
Kalau sudah demikian, Mukmin diberi pesangon. Sementara diminta istirahat kerja. Nah saat-saat seperti inilah Mukmin paling gemar ke Buitan menakut-nakuti ibu-ibu yang lagi mencuci pakaian. Ia mengubah dirinya seperti raksasa. Tentu saja ibu-ibu pada ketakutan. []
*) Penulis adalah Cendekiawan, Sejarawan

