BULELENG – Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali mulai memetakan bahaya potensi bencana alam dalam pembangunan kawasan Turyapada Tower Komunikasi Bali Smart 6.0 Kerthi Bali di Kabupaten Buleleng.
Atas dasar itu, Diskominfos Provinsi Bali menggelar Forum Group Discussion (FGD) terkait identifikasi dan kajian manajemen mitigasi bencana bertempat di Tower Turyapada Desa Pegayaman Buleleng yang dibuka oleh Kepala Diskominfos Provinsi Bali, Gede Pramana, Rabu (22/11/2023).
Gede Pramana menyampaikan tujuan dari FGD kali ini adalah untuk mendeteksi awal dan memitigasi bencana yang kemungkinan terjadi pada pembangunan Tower Turyapada. Dimana tower ini nantinya merupakan fasilitas umum yang akan banyak dikunjungi masyarakat yang tentu manajemen resiko bencana harus lebih dini diketahui penanganannya.
“Bangunan ini memiliki volume yang besar dan tinggi, jadi bagaimana kita menciptakan rasa aman nantinya melalui mitigasi bencana,” jelasnya.
Ia menyadari bahwa FGD ini sangat penting dilakukan pada proyek berskala besar. Untuk itu, dalam momen ini, pihaknya berharap dukungan seluruh stake holder terkait bersama-sama memberi informasi sehingga dapat mengetahui mitigasi apa yang bisa dilakukan.
Melalui kajian dari LPPM Universitas Udayana, Gede Pramana menyampaikan bahwa bencana yang patut diwaspadai dalam pembangunan ini adalah hujan lebat disertai angin kencang, longsor termasuk gempa bumi. Namun, dalam perhitungan desain dan kajian sudah diperhitungkan termasuk juga struktur bangunannya.
“Astungkara dalam proses pembangunan awal sampai sekarang tidak ada kejadian yang mengakibatkan hal yang tidak diinginkan. Kita sudah menerapkan K3 dan melindungi pegawai yang kerja untuk menepi jika ada hujan disertai angin kencang saat bekerja,” imbuhnya.
Untuk diketahui, progres pembangunan Tower Turyapada baru rampung 62% dan ditargetkan rampung pada bulan Maret tahun 2024 karena pada tahun ini ada skema pergeseran anggaran dari pemerintah.
Sementara Kalaksa BPBD Bali, Dr. I Made Rentin, menekankan bahwa bencana yang berpotensi di wilayah ini adalah gempa bumi dan tanah longsor. Oleh karena itu, ia meminta pertama, kajian risiko ini diharapkan dapat menganalisis risiko bencana secara lebih detil, meliputi analisis risiko eksisting dan analisis risiko saat beroperasi, mengacu pada Kajian Risiko Bencana (KRB) Provinsi Bali dan KRB Kabupaten Buleleng serta Histori kejadian disekitar kawasan Turyapada Tower.
Kedua, kajian ini dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan pengembangan pembangunan kawasan Turyapada Tower. Terakhir ditekankan bahwa kajian ini dapat menjadi bahan masukan dan rekomendasi mitigasi struktural dan non struktural yang perlu dilakukan, baik saat pembangunan maupun saat sudah selesai pembangunan. (bs)

