Merajut Kebaikan: Mengajarkan Siswa SD untuk Menghargai Perbedaan dan Mencegah Bullying

  • Esai Dr. Surayanah *)

BERDASARKAN PISA tahun 2018, ada 15 persen anak dan remaja di Indonesia yang mengalami intimidasi, 19 persen yang dikucilkan, 22 persen yang dihina, 14 persen yang diancam, 18 persen yang didorong hingga dipukuli oleh teman, dan 20 persen yang menjadi korban gosip buruk.

Selain itu, UNICEF mencatat bahwa tingkat kekerasan anak di Indonesia sangat tinggi dibandingkan dengan negara-negara Asia lain seperti Vietnam, Nepal, dan Kamboja.

Indonesia menempati peringkat yang lebih tinggi dalam hal ini. Hal ini juga terbukti dengan kejadian tragis di Banyuwangi, di mana seorang siswa SD diduga bunuh diri karena sering diolok-olok oleh teman-temannya karena dia yatim, seperti yang dilaporkan oleh cnnindonesia.com.

Bullying dapat membuat korban merasa rendah diri, meragukan kemampuan dan nilai diri mereka, bahkan mempengaruhi performa akademik mereka. Selain itu, mereka juga bisa mengalami gangguan tidur, sakit kepala, dan sakit perut yang disebabkan oleh stres dan kecemasan.

Bahkan dalam beberapa kasus, seperti yang terjadi pada siswa SD di Banyuwangi, korban bullying bisa mengalami gangguan mental yang serius, bahkan bunuh diri.

Efek negatif dari bullying tidak hanya terbatas pada masalah kesehatan mental, tetapi juga bisa mempengaruhi kehidupan sosial dan emosional korban. Bullying dapat mengubah perilaku dan pandangan korban terhadap diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.

Korban bullying mungkin akan menghindari interaksi sosial, kehilangan kepercayaan pada teman dan orang lain, dan bahkan merasa kesepian dan terisolasi.

Jika kasus bullying tidak segera ditangani, maka korban bisa mengalami dampak yang lebih serius dan bahkan berakibat fatal. Beberapa kasus yang telah terjadi menunjukkan bahwa beberapa korban akhirnya melakukan tindakan yang merugikan diri mereka sendiri, seperti bunuh diri atau tindakan kekerasan terhadap orang lain.

Selain itu, bullying juga bisa meningkatkan risiko penyalahgunaan narkoba dan alkohol pada korban, serta meningkatkan risiko perilaku menyimpang pada masa dewasa mereka.

Selain dampak pada korban, bullying juga dapat berdampak negatif pada lingkungan sekolah dan masyarakat di sekitarnya. Sekolah dan masyarakat yang tidak menangani kasus bullying dengan serius, atau bahkan membiarkan perilaku bullying terjadi, dapat menciptakan lingkungan yang tidak sehat dan tidak aman bagi anak-anak dan remaja.

Hal ini bisa berdampak pada kesejahteraan psikologis dan fisik anak-anak, dan pada akhirnya berdampak pada kemampuan mereka untuk berkembang dan belajar secara efektif.

Merajut Kebaikan adalah inovasi yang sangat penting dalam mengatasi permasalahan bullying di Indonesia. Program ini dirancang untuk membantu anak anak SD dalam mencintai, menghormati, mengagumi, memelihara, menerima, dan memaafkan diri mereka sendiri.

Program ini dilaksanakan melalui kegiatan kegiatan yang menarik dan dikemas dalam bentuk sosialisasi yang dapat dilakukan dalam beberapa pekan selama semester, serta melalui poster-poster menarik yang ditempel di sekitar lingkungan sekolah.

Sasaran dari program Merajut Kebaikan adalah seluruh siswa sekolah dasar, karena keberagaman dan perbedaan sangat umum terjadi di lingkungan sekolah. Dengan mengajarkan nilai-nilai keberagaman dan membangun keterampilan sosial pada anak-anak SD, dapat membantu mereka dalam memahami nilai-nilai penting dalam menjalin hubungan sosial yang sehat dan harmonis.

Program Merajut Kebaikan tidak akan mudah berhasil tanpa partisipasi dan dukungan dari seluruh warga sekolah. Oleh karena itu, dukungan dari guru, orang tua, dan staf sekolah sangat diperlukan untuk mengimplementasikan program ini secara efektif.

Dukungan ini dapat berupa partisipasi dalam kegiatan-kegiatan program, menyebarkan informasi mengenai program ini, atau memberikan saran dan masukan dalam mengembangkan program. Selain dukungan dari seluruh warga sekolah, dukungan dari dinas pendidikan setempat juga sangat penting dalam hal penyebaran program Merajut Kebaikan di sekolah-sekolah wilayah sekitar.

Dalam kesimpulannya, Merajut Kebaikan adalah program inovatif yang dapat membantu mengatasi permasalahan bullying di Indonesia. Program ini dapat membantu siswa SD dalam memahami nilai-nilai keberagaman, membangun keterampilan sosial, dan menjalin hubungan sosial yang sehat dan harmonis.

Dukungan dari seluruh warga sekolah sangat penting dalam mengimplementasikan program ini secara efektif dan berkelanjutan. []

*) Penulis adalah Dosen Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *