Profesor Sejarah Yakin Tradisi “Ngarak Sokok” di Pegayaman akan Lestari

  • Peringatan Maulid Nabi SAW di Tingkat Dusun di Pegayaman Tetap Semarak

BULELENG – Tradisi “ngarak sokok” setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng diyakini akan lestari. Tradisi yang sudah masuk Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tidak akan pernah pudar.

Hal itu disampaikan Guru Besar Sejarah STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja, Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, saat menyampaikan kata sambutan dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Banjar Tegal, Desa Pegayaman, Minggu (15/10/2023).

“Kalau saya lihat pelaksanaan ‘ngarak sokok’ tadi saya sebagai sejarawan dan sekaligus arkeolog yakin tradisi ini akan lestari,” kata Prof. Nengah Bawa Atmadja.

Prof. Nengah Bawa Atmadja

Profesor yang sebelumnya menjadi guru besar di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja diundang secara khusus oleh Ketua Panitia Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Banjar Tegal, Drs. Ketut Muhammad Suharto.

Sejak pagi, Prof. Nengah Bawa Atmadja sudah hadir di Pegayaman. Menyaksikan berbagai kegiatan serangkaian Maulid Nabi Muhammad SAW di tingkat dusun/banjar yakni tepatnya di Banjar Tegal, Desa Pegayaman.

Acara Maulid Nabi SAW ini digelar setelah perayaan di tingkat Desa Pegayaman yang puncaknya dilaksanakan pada 12 Rabiul Awal 1445 H atau tanggal 28 September 2023. Meskipun tidak semeriah pelaksanaan maulid di tingkat desa, perayaan maulid di Banjar Tegal, 15 Oktober 2023 tetap dipadati massa. Orang-orang tua, remaja dan anak-anak laki-laki perempuan tampak semangat dan bergairah mengikuti tiap acara.

Acara dimulai pagi hari, yakni ‘ngarak sokok’. Grup hadrah menjemput sokok-sokok yang disediakan warga. Menurut Ketua Panitia Ketut Muhammad Suharto, pada peringatan maulid tahun ini ada 60 sedekah sokok. Itulah yang didatangi satu per satu oleh grup hadrah.

Pelaksanaan ‘ngarak sokok’ sangat diminati warga terutama anak-anak. Ke mana grup hadrah pergi  menjemput sokok, anak-anak selalu mengikuti. Apalagi setelah penampilan grup hadrah selesai, pihak tuan rumah atau yang melakukan sedekah sokok biasanya menaburkan uang recehan. Itulah yang ditunggu anak-anak dan mereka saling berebutan ketika uang recehan dilemparkan.

Setelah ‘ngarak sokok’, siangnya dilaksanakan pawai maulid. Para tokoh masyarakat, sesepuh, remaja, ibu-ibu sampai anak-anak sangat antusias mengikuti pawai maulid. Setelah pawai maulid selesai, dilaksanakan acara seremonial. Dilanjutkan pembagian sokok telur kepada warga.

Setelah itu, dilaksanakan pementasan dari peserta pawai. Baik penampilan burdah, hadrah, pencak belebet dan lain-lain. Semua rangkaian acara diikuti dengan antusias oleh warga Pegayaman.

Menyaksikan antusiasme masyarakat, mulai anak-anak hingga yang sepuh, mengikuti semua rangkaian acara itulah yang membuat Prof. Nengah Bawa Atmadja yakin tradisi ‘ngarak sokok’ tidak akan pernah pudar di Desa Pegayaman.

Sementara itu, Agus Asghor Ali, dalam tausyiahnya mengatakan, sokok yang dibuat saat perayaan Maulid Nabi SAW merupakan bentuk penyerapan budaya Bali. Kata dia, para penglingsir Pegayaman mempunyai pemikiran dan sikap yang terbuka.

Karena itu, pemikiran dan sikap terbuka itulah masyarakat Pegayaman tidak pernah berkonflik agama dengan masyarakat lainnya yang beragama Hindu. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *