DENPASAR – Film “Jayaprana Layonsari” tayang perdana di Cinepolis Plaza Renon, Denpasar, Rabu (26/4/2023) sore. Ketua DPRD Bali yang juga Ketua Panitia Film Bali, Nyoman Adi Wiryatama, dan sejumlah pejabat Pemprov Bali nonton penayangan perdana film yang disutradarai Putu Satria Kusuma dan Putu Kusuma Wijaya tersebut.
Tampak juga menonton pemutaran pertama film ini yakni istri Ketua DPRD Bali, Ny. Ningsih Wiryatama, para sutradara dan artis atau pemeran dalam film “Jayaprana Layonsari”. Juga hadir Panitia Film Bali lainnya yang juga anggota DPRD Bali, Dewa Jack Mahayadnya, Sekretaris Dewan Provinsi Bali, I Gede Indra Dewa Putra, Kepala Dinas PUPR, Nusakti Yasa Weda, Kepala Dinas Perhubungan IGW Samsi Gunarta, dan Kalaksa BPBD Provinsi Bali, Made Rentin.
Ketua DPRD Bali yang juga Ketua Panitia Film Bali, Nyoman Adi Wiryatama, mengatakan, penayangan film perdana “Jayaprana Layonsari” dalam rangka mendukung visi dan misi Gubernur Bali dalam mempertahankan dan memajukan budaya Bali, khususnya di bidang cerita rakyat yang sudah turun temurun dalam masyarakat Bali.
Film “Jayaprana Layonsari” yang proses syutingnya memakan waktu selama 25 hari diperankan oleh orang Bali semua. Diharapkan, dengan film ini masyarakat Bali tidak lupa pada cerita rakyat di era baru seperti sekarang ini, terutama kalangan remaja, khususnya para pelajar.
Adi Wiryatama mengungkapkan, Panitia Film Bali terbentuk dari orang-orang yang peduli dengan Kebudayaan Bali, termasuk di dalamnya para seniman, khususnya seni perfilman.
Ia mengatakan, film “Jayaprana Layonsari” nantinya juga akan dipertontonkan di hadapan seluruh siswa SMA/SMK di Bali. Dan, selanjutnya akan dibuat lomba narasi film yang memberikan sejumlah hadiah menarik.
“Kita harapkan cerita rakyat ini yang sudah turun temurun ada di Bali tidak punah dan bisa dihayati oleh anak muda ke depan,” tegas Adi Wiryatama.

Kisah cinta Jayaprana dan Layonsari merupakan cerita rakyat Bali yang sudah banyak digarap dalam bentuk drama tradisional. Kisah tragis keduanya kini secara apik diangkat ke layar lebar dengan sentuhan sinematografi kekinian.
Film “Jayaprana Layonsari” ini diproduseri Panitia Film Bali dan digarap duet sutradara berpengalaman Putu Kusuma Wijaya dan Putu Satria Kusuma.
Film “Jayaprana Layonsari” yang menggunakan bahasa Bali diawali dengan kisah masa kecil Nyoman Jayaprana di sebuah wilayah Kerajaan Kalianget, Buleleng. Sejak kecil Jayaprana sudah menunjukkan kecerdasannya meskipun berlatar belakang rakyat biasa. Beranjak dewasa kisah cintanya dengan Nyoman Sekarsari membawa penonton ikut merasakan desiran asmara di antara keduanya.
Konflik dalam film dimulai ketika Raja Kalianget juga menaruh hati kepada Sekarsari yang sudah dipersunting Jayaprana. Seperti diketahui Jayaprana akhirnya rela dibunuh oleh patih yang ingin membela kepentingan raja. Hingga pada akhirnya Sekarsari memutuskan ikut mati mengikuti kepergian suami tercintanya. Raja yang juga merasa kehilangan atas kematian Sekarsari akhirnya meneriakkan nama Sekarsari menjadi Layonsari karena telah berupa jenazah.
Sang sutradara Putu Kusuma Wijaya menyampaikan, dirinya merasa bangga bisa menghadirkan film layar lebar menggunakan bahasa Bali. Ia ingin memperkenalkan bahwa bahasa Bali ternyata juga enak didengar sebagai bahasa pengantar dalam sebuah film.
“Bahasa Bali enak sekali kedengarannya. Itu yang sebenarnya saya nantikan selama ini,” ujarnya ditemui sesuai penayangan film.
Dalam menggarap film ini Wijaya mengaku ingin tampil beda dari drama Jayaprana Layonsari yang selama ini ditampilkan dalam drama tradisional maupun karya sastra. Dalam film ini kisah kerap kali maju mundur memungkinkan kejutan kepada penonton.
Sutradara nasional ini mengatakan, media film memungkinkan cerita digarap lebih kreatif. Dalam film, karakter setiap tokoh kisah klasik ini tidak digambarkan secara hitam dan putih, melainkan memiliki sisi baik dan buruknya masing-masing.
“Semua punya kesetian masing-masing tapi kesetiaan itu pun muncul menjadi sebuah konflik. Kita tidak ingin ada hitam putih di sini,” ujarnya.

Sementara itu Putu Satria Kusuma menambahkan, film garapannya bersama Wijaya menjadi sejarah perfilman karena untuk pertama kalinya film layar lebar menggunakan bahasa Bali.
Ia mengatakan, gempuran film asing belakangan ini tidak boleh membuat generasi muda lupa akan kisah cerita yang tumbuh di tanah kelahirannya. Satria yakin cerita rakyat Bali jika dikemas menjadi sebuah film secara profesional akan menarik perhatian penonton termasuk generasi muda.
“Kalau dikemas dengan baik bisa berkualitas dan berkesan di hati anak-anak muda,” sebutnya.
Ia juga berharap nilai-nilai kesetiaan yang ada dalam kisah Jayaprana dan Layonsari dapat memantik penonton untuk mempertanyakan kesetiaan yang ditampilkan orang-orang saat ini.
Film Jayaprana Layonsari sejatinya sudah digarap pada tahun 2020 saat pandemi Covid-19 sedang berkecamuk. Mengambil lokasi syuting di daerah Desa Kalianget, Buleleng dan sekitarnya.
Banyak pemeran baru dalam film yang mengambil waktu syuting sekitar 25 hari ini. Pemeran tokoh Jayaprana, Made Janhar Winatha Gautama, 22, misalnya mengaku belum memiliki pengalaman bermain film sebelum memerankan tokoh Jayaprana.
Pemuda asal Banyuatis, Buleleng ini pada saat proses syuting masih sibuk mengenyam pendidikan musik di ISI Yogyakarya. “Memang tertarik dengan tantangan baru. Karena awam persiapan harus matang terutama dari sisi bahasa karena jarang pakai bahasa Bali halus sehari-hari,” ujarnya.
Film “Jayaprana Layonsari” segera dapat disaksikan di bioskop-bioskop Indonesia. Janhar juga berharap, film pertamanya ini bisa memantik para sineas di Bali untuk terus berkarya menghasilkan film-film berkualitas.
Menurutnya, film Jayaprana Layonsari punya peluang untuk diperkenalkan hingga ke dunia internasional. “Kalau di luar punya Romeo Juliet, kita punya Jayaprana Layonsari,” ucapnya. (bs)

