Kopdar Bike 10 Ngabuburide Ramadhan, Ikut Buka Puasa Bubur Kajanan di Masjid Agung Jami’ Singaraja

BULELENG – Kopdar 10 para pesepeda di kota Singaraja kali ini, Minggu (9/4/2023), agak berbeda. Dengan tagline “Kopdar Bike 10 Ngabuburide Ramadhan”, kegiatan bersepeda senang-senang ini sangat kental dengan nuansa ramadhan.

Para peserta mengambil rute bersepeda di jalur-jalur komunitas Muslim yang tengah menunggu buka puasa. Berangkat dari Masjid Agung Jami’ Singaraja, dan finish di masjid bersejarah ini. Acara diakhiri dengan ikut berbuka puasa bersama warga, menikmati menu khas dan istimewa, yakni Bubur Kajanan.

Masjid Agung Jami’ Singaraja sendiri memiliki jejak sejarah yang sangat erat dengan Puri Buleleng. Nuansa akulturasi sangat terasa melihat masjid ini. Ukiran Bali, khas Buleleng, tertera dan terawat di beberapa bagian masjid. Bahkan pintu gerbang dan pintu utama Masjid Agung Jami’ ini merupakan hadiah atau pemberian dari Raja Buleleng kala itu. Sampai saat ini pintu gerbang dan pintu utama masjid tersebut masih terpasang kokoh.

Dari Masjid Agung Jami’ Singaraja, peserta menyusuriJalan Sawo – Jalan Diponogoro – Masjid Keramat – Jalan Hasanudin – Kampung Lebah – Banjar Bali – Jalan Wibisana – Jalan Gajah Mada – Jalan dr. Sutomo – Jalan Patimura – Jalan Merak – Susur Pantai Kayu Buntil – Jalan Patimura – Gang Masjid Noor – Masjid Agung Jami’.

Menurut penggagas Kopdar Bike, Ida Bagus Mahadi, rute tersebut sengaja dipilih agar peserta juga mengenal bahwa di Buleleng ini beragam suku hingga agama. “Bukan mengenalkan kepada orang lain, tapi mengenalkan kepada diri kami sendiri dulu. Dan kopdar bike 10 ini kebetulan saat bulan puasa. Jadi kami juga turut mengajak bagi saudara-saudara kami umat muslim yang berkenan untuk ikut. Sekalian ngabuburit menunggu jam buka puasa,” jelasnya.

Setelah menyusuri komunitas-komunitas beragam suku dan agama, para pesepeda kembali ke Masjid Agung Jami’ Singaraja. Setelah beberapa saat menunggu, waktu berbuka puasa pun tiba. Para pesepeda ikut berbuka puasa bersama warga di masjid tersebut. Menu berbuka puasa yang khas dan istimewa di masjid ini adalah Bubur Kajanan.

Bubur Kajanan ini terbuat dari bubur beras yang dicampur dengan berbagai rempah-rempah. Bubur Kajanan menjadi menu utama suguhan bagi umat muslim yang berbuka puasa di Masjid Agung Jami’ Singaraja.

“Senang rasanya berbaur seperti ini. Ini juga pertama kalinya mencoba Bubur Kajanan yang menjadi menu buka puasa teman-teman muslim. Ini enak, saya suka,” ungkap salah satu pesepeda, Gede Suta Wijaya.

Setiap hari, pengurus Masjid Agung Jami’ Singaraja menyiapkan 1.000 porsi Bubur Kajanan. Dibutuhkan setidaknya 16 kilogram beras untuk bahan bubur.

“Makanan ini tidak saja untuk menu buka puasa saja. Tapi juga untuk umat yang melaksanakan tarawih saat malam di masjid. Jadi kami membuat konsumsi ini selama bulan Ramadhan. Jumlahnya setiap hari 1000. Awal puasa kami buat 700 porsi ternyata kurang,” ujar Sekretaris Badan Kemakmuran Masjid Agung Jami’ Singaraja, Muhammad Rezza Yunus, yang juga ikut bersepeda.

Menurut Rezza, Bubur Kajanan dulunya dibuat para tetua Kampung Kajanan saat berbuka puasa dan memilih tempat di masjid agar semua orang dapat menikmati tanpa rasa canggung.

“Kami hanya ingin mengembalikan momen itu supaya tradisinya tidak terputus. Dan kebetulan juga masjid ini masuk dalam Cagar Budaya. Kami hanya ingin bernostalgia pada jaman dulu. Terlebih masjid ini memiliki sejarah besar juga,” pungkas Rezza. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *