- Selama 6 Jam dengan 56 Pertanyaan
BULELENG – Penyidikan kasus LPD Anturan yang ditangani oleh Penyidik pada Kejaksaan Negeri Buleleng terus mengalami kemajuan. Rabu (3/7/2022) pukul 10.00 Wita, Penyidik melakukan pemeriksaan tambahan kepada tersangka Nyoman Arta Wirawan (NAW) selaku Ketua LPD Anturan hampir selama 6 (enam) jam.
Menurut Kasi Intelijen sekaligus Humas Kejari Buleleng, Anak Agung Ngurah Jayalantara, SH, MH, penyidik mencecar tersangka dengan 56 (lima puluh enam) pertanyaan terkait dengan proses, alur serta temuan-temuan terbaru mengenai uang reward dan SHM milik LPD Anturan.
“Hal yang menarik justru muncul saat ditemukan adanya polis asuransi sejumlah Rp 600.000.000 di PT. Asuransi Jiwasraya atas nama salah satu pengurus LPD Anturan. Dimana sumber uangnya diakui oleh tersangka NAW berasal dari LPD Anturan,” kata Gung Jayalantara.
Di sisi lain, kata dia, Penyidik Kejaksaan Negeri Buleleng juga menemukan kredit atas nama A (tersangka NAW) senilai lebih dari Rp 135 miliar yang tercatat tanpa akad kredit serta tanpa adanya pemberian jaminan apapun, yang diakui oleh tersangka merupakan akumulasi nilai kredit dari para nasabah.
Begitu juga terkait biaya Tirtayata yang nilainya lebih dari Rp 700.000.000 ternyata bersumber dari uang LPD Anturan, tetapi tidak terlaporkan pada keuangan LPD. Kegiatan Tirtayatra tersebut dianggap sebagai bonus untuk para pengurus, rekanan para ketua LPD, serta para nasabah (pemilik deposito) yang nilainya di atas 1 (satu) miliar.
“Tersangka yang didampingi oleh Penasihat Hukumnya menjawab pertanyaan penyidik dengan jelas dan terbuka,” ujar Jayalantara.
Di hari yang sama pada pukul 11.00 Wita, Penyidik Kejaksaan Negeri Buleleng didatangi oleh salah seorang Ketua Koperasi DMS. Kedatangannya bertujuan untuk menyerahkan menyerahkan 1 (satu) buah Sertifikat Hak Milik atas nama tersangka NAW seluas 8.700M2 (87 are) yang berlokasi di Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng serta 1 (satu) bundle fotocopy berkas pinjaman Koperasi Simpan Pinjam Dana Mukti Singaraja.
“Keberadaan sertifikat tersebut di tangan ketua koperasi DMS merupakan titipan dari tersangka NAW. Atas penyerahan sertifikat tersebut, Penyidik melakukan penyitaan dan membuat berita acara penyitaan,” jelasnya.
Secara beruntun, pada pukul 13.20 Wita, Penyidik Kejaksaan Negeri Buleleng juga didatangi oleh salah seorang Pengurus LPD Anturan berinisial LS (Sekretaris LPD) dimana yang bersangkutan menyerahkan uang senilai Rp 177.750.000 (Seratus Tujuh Puluh Tujuh Juta Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) yang berasal dari uang reward hasil kavling tanah LPD Anturan kepada Penyidik Pada Kejaksaan Negeri Buleleng.
Dikatakan, pengembalian uang reward tersebut merupakan bentuk pelunasan dari saudara LS yang mana sebelumnya ia telah menyerahkan 1 (satu) buah SHM sebidang tanah seluas 250M2 yang berlokasi di Desa Anturan senilai Rp 100.000.000,- (Seratus Juta Rupiah). Sehingga total uang yang dikembalikan oleh LS senilai Rp 277.750.000 (Dua Ratus Tujuh Puluh Tujuh Juta Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah).
Gung Jayalantara menegaskan, penyidik pada Kejaksaan Negeri Buleleng dalam hal ini akan terus mengupayakan optimalisasi asset recovery milik LPD Anturan. Harapannya juga para nasabah dan pengurus lain yang masih belum mengembalikan sertifikat maupun aset lain milik LPD Anturan segera menyerahkannya pada penyidik. (bs)

