Ini 6 Identitas Unggul Desa Pegayaman

Dari Diskusi “Jejak Peradaban Islam Bali Utara”

BULELENG – Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng menyimpan jejak peradaban Islam di Bali, khususnya Bali utara. Desa dengan luas 1.548 hektar dan penduduk 7.200 orang tersebut mempunyai 6 identitas unggul.

Pemerhati Sejarah Drs. Ketut Muhammad Suharto, bercerita banyak tentang Pegayaman dalam diskusi bertajuk “Jejak Peradaban Islam Bali Utara” yang digelar Seksi Sejarah dan Kebudayaan BKM Masjid Agung Jami Singaraja bekerjasama dengan PC Ansor Buleleng dan Lesbumi, Selasa (15/2/2022) malam.

Menurut Suharto, setidaknya ada enam identitas unggul Desa Pegayaman. Yakni Desa Pegayaman sebagai desa bersejarah, desa tua, desa pejuang, desa unik, desa akulturatif, dan desa budaya.

Suharto yang juga lahir sebagai warga Pegayaman ini menjelaskan, sebagai desa bersejarah, warga Desa Pegayaman berasal dari laskar Blambangan yang direkrut oleh Raja Buleleng Panji Sakti pada 1647/1648 sebagai Laskah Goak Kerajaan Buleleng. “Dan warga Pegayaman berikrar tindih terhadap Raja I Gusti Anglurah Panji Sakti,” katanya.

Sementara sebagai desa tua, jelas Suharto, Desa Pegayaman sudah berumur 375 tahun. Menurutnya, itu bukan waktu yang singkat, dilihat dari masa pengabdian warga Pegayaman terhadap Kerajaan Buleleng.

“Sangat pantaslah Desa Pegayaman disebut sebagai desa tua. Bukan sekadar tua di umurnya, tapi secara kualitas pengabdian tindih kepada Kerajaan, juga berumur secara kuantitas. Jadi secara kuantitatif dan kualitatif Desa Pegayaman masuk dalam kategori desa tua,” ujar Suharto.

Desa Pegayaman sebagai desa pejuang, lanjut Suharto, sejak zaman Raja Panji Sakti, baik ketika invasi pertama ke Blambangan tahun 1647/1648, invasi kedua pada 1697, penyerangan kecil-kecilan di sekitar Kerajaan Buleleng, juga dalam Perang Jagaraga, Perang Banjar hingga Perang Kemerdekaan di era Revolusi Fisik, warga Pegayaman mempunyai peran penting.

“Warga Pegayaman selalu ikut dalam peperangan mempertahankan NKRI sesuai kondisinya. Semua itu dibuktikan dengan catatan-catatan yang ada dan foklor yang berkembang di masyarakat Pegayaman. Maka sangat tepat Desa Pegayaman disebut sebagai desa pejuang. Karena banyak terdapat pejuang di dalamnya,” paparnya.

Disebut sebagai desa unik, kata Suharto, merujuk dari ungkapan-ungkapan para peneliti yang selalu menjadikan Desa Pegayaman sebagai desa sasaran penelitian, sasaran kunjungan, sasaran perbandingan dan sasaran wisata religius.

“Dengan ungkapan-ungkapan dari para pengunjung desa inilah, kami mempunyai julukan desa unik,” ungkapnya.

Sementara sebagai desa akulturatif, menurut Suharto, nilai-nilai yang berkembang selama 375 tahun di Desa Pegayaman adalah nilai kearifan lokal. Nilai-nilai itu tumbuh dan berkembang secara alami tanpa dibuat dan direncanakan untuk sebuah kepentingan sesaat, membuat nilai akulturasi ini berkembang sedemikian adanya.

“Itulah yang memberikan kekentalan nuansa akulturasi, yang dibuktikan dengan kenyataan-kenyataan di lapangan. Yang memberikan identitas kepada Desa Pegayaman sebagai desa akulturatif dan sangat dibutuhkan di era seperti sekarang ini,” katanya.

Sedangkan sebagai desa budaya, lanjut Suharto, Desa Pegayaman memiliki nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang sangat kental. Ini menambah khazanah dan memberi warna terhadap budaya yang berkembang di Bali.

“Dengan nilai yang tampil beda dalam kesamaan, memunculkan adat istiadat dan budaya yang berkembang di Desa Pegayaman seakan-akan merupakan sebuah peradaban yang beda dalam kebersamaan. Inilah yang menjadikan Desa Pegayaman sebagai desa budaya,” tandas Suharto.

Menurutnya, enam identitas itulah yang membuat Pegayaman tampil beda dengan desa lainnya, baik secara khusus di Bali maupun di Indonesia umumnya. “Pegayaman adalah Bali yang bernuansa Islam,” pungkas Suharto.

Sementara Sekretaris Bidang Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Agung Jami Singaraja, M. Rezza Yunus, SE, menjelaskan, pihaknya akan terus menggelar diskusi sejarah semacam ini. “Nanti Masjid Agung Jami bisa menjadi pintu untuk mengenal peradaban Islam di Bali, khususnya Bali utara,” katanya.

Ia berharap, dengan diskusi sejarah ini semacam ini, umat Islam akan punya kesadaran bahwa umat Islam bukan ‘nak dauh tukad’. Namun, umat Islam sudah mampu memberikan kontribusi yang besar dalam perjalanan perjuangan dan pembangunan di Bali.

Sementara Ketua Seksi Sejarah dan Kebudayaan Masjid Agung Jami Singaraja, Lalu Ibrahim, mengatakan, diskusi “Jejak Peradaban Islam di Bali Utara” merupakan seri pertama. Nantinya diskusi sejarah serupa akan terus digelar. “Kenapa diskusi sejarah ini kami laksanakan. Karena teman-teman pemuda kurang begitu minat terhadap sejarah asal-usulnya,” ujarnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *