#Korelasi Antara Suku Osing Banyuwangi dengan Budaya Pegayaman Bali

KETERKAITAN suku Osing yang ada di Banyuwangi, Jawa Timur dengan Pegayaman Bali bisa dilihat dari budaya yang berkembang di sana. Misalnya Burdah Gembrung dan Pupuh Yusuf yang dibaca semalaman suntuk. Dalam budaya tersebut, ada penambahan konsonan-konsonan kata tegas seperti yang berkembang di Pegayaman.
Semua ini bila dikaji dapat merunut sejarah keberadaan Desa Pegayaman. Dari manakah asal orang Pegayaman, itu bisa melihat budaya yang berkembang di suku Osing. Budaya suku ini memiliki korelasi dengan budaya yang berkembang di Pegayaman. Jadi suku Osing di Blambangan dan Pegayaman merupakan satu korelasi keterikatan yang tidak lepas dari sejarah Panji Sakti Buleleng Bali.
Kerajaan Blambangan yang dihuni oleh suku Osing itu ada satu keterkaitan dan bisa dinyatakan sebagai sebuah sejarah tunggal antara Osing dan Pegayaman. Saya menjadi yakin dengan referensi yang ada, yakni cerita orang tua di Pegayaman yang berkembang bahwa orang Pegayaman berasal dari Blambangan. Suku Osing bisa menjadi salah satu buktinya. Dari sisi karakter, suku Osing ini memiliki karakter seperti orang Pegayaman. Soal karakter ini semakin memperkuat bahwa orang Pegayaman berasal dari Blambangan.
Alhamdulillah dengan data yang saya korelasikan dengan keadaan yang sebenarnya, ini bisa menuntun pada sebuah kesimpulan, bahwa orang Pegayaman itu berasal dari Blambangan. Akan tetapi, yang harus diingat juga bahwa pada saat itu, yaitu di tahun 1648, Blambangan merupakan sebuah kerajaan yang sangat diminati untuk dijadikan sebagai kerajaan taklukan. Hal ini memberikan sebuah jalan pemikiran juga bahwa pada saat itu di Kerajaan Blambangan ini sudah berkumpul warga dari sejumlah kerajaan-kerajaan atau warga yang memang mempunyai kepentingan terhadap Kerajaan Blambangan, baik itu yang berasal dari Jawa Tengah yaitu Mataram Islam dan yang berasal dari keluarga Trunojoyo dari kerajaan di Madura. Juga yang berasal dari keluarga Sultan Hasanuddin dari kaum Bugis Makassar.
Mereka yang sering berkumpul itu kemudian berkembang sebagai sebuah komunitas di Kerajaan Blambangan. Sebagaimana referensi yang banyak mencatat, Raja Anglurah Panji Sakti melakukan penyerangan dan berupaya menaklukkan Blambangan sebagai wilayah jajahan Kerajaan Panji Sakti. Kerajaan Buleleng berhasil menguasai Kerajaan Blambangan.
Invansi pertama Kerajaan Panji Sakti ke Blambangan dilakukan di tahun 1648. Sekembali dari penaklukan Blambangan, Panji Sakti membawa 100 orang Laskar Muslim. Inilah cikal bakal dari masyarakat Pegayaman.
Keterkaitan Pegayaman dengan suku Osing yang dibahas di atas diambil dari korelasi budaya yang berkembang di Desa Pegayaman yang juga mempunyai kesenian akulturasi, yaitu burdah. Burdah Pegayaman sangat mirip dengan burdah di suku Osing yang masih hidup sampai sekarang. Burdah Gembrong namanya di suku Osing.
Seperti dibahas sebelumnya, Burdah Gembrong yang ada di suku Osing sangat mirip dengan burdah di Pegayaman. Kidung-kidung ya hampir sama, mirip-mirip dengan kidung lokal yang berkembang.
Selain kesenian burdah, di Osing juga ada musik ketungan (alat untuk membuat gabah menjadi beras). Di Pegayaman juga ada budaya musik megotekan. Namanya mirip dengan apa yang berkembang di suku Osing.
Juga dari pembacaan Pupuh Yusuf dari yang dibuat sebagai syair tentang Nabi Yusuf yang berkembang di Osing. Kalau di Pegayaman membaca burdah dilakukan dari habis Isya sampai Subuh. Ternyata di Osing juga ada pembacaan Pupuh Yusuf. Pembacaannya juga dilakukan dari habis Isya sampai Subuh. Inilah salah satu korelasi yang bisa dijadikan sebuah benang merah untuk menuntun pencarian asal mula dari warga Desa Pegayaman.
Bisa ditarik kesimpulan bahwa di tahun 1648, ketika Raja Panji Sakti merekrut sekitar 100 tentara muslim yang diambil dari Blambangan, mereka merupakan kumpulan dari ksatria-ksatria Mataram, Madura, dan Makassar. Hal itu bisa lihat dari korelasi watak yang berkembang di Pegayaman.
Semua itu memberikan gambaran singkat, bahwa orang Pegayaman itu berasal dari Osing Blambangan, di mana di dalamnya ada yang dari Mataram muslim, dari Madura dan juga dari Makassar. Dan ketika mereka ada di Bali, para pengiring raja tersebut menikahi wanita Bali. Jadi nenek dari orang Pegayaman adalah orang Bali yang menjadi mualaf.
Jadi, warga Pegayaman itu berasal dari tiga suku, yaitu suku Jawa, suku Bali, dan suku Bugis Makassar. (bs)

