LSPR GENCAR LAKUKAN BERAGAM INOVASI TARIK MINAT ANAK MUDA BALI TEKUNI ILMU KOMUNIKASI

DENPASAR – London School of Public Relation (LSPR) Bali gencar melakukan berbagai inovasi untuk menarik minat anak-anak muda Bali untuk menekuni ilmu komunikasi. LSPR juga melakukan sosialisasi hingga ke pelosok Bali untuk menarik anak-anak muda untuk mempelajari ilmu komunikasi. Setidaknya sudah 80 sekolah yang dikunjungi tim LSPR Bali di seluruh Bali.

“Kami sudah keliling ke 80 sekolah di Bali. Di Kubu, Seririt dan juga Bali beyond, Banyuwangi, Mataram, Sumbawa Besar dan Bima. E-learning kami bahkan diikuti dari Papua, Korea Selatan dan Dubai,” kata General Manager LSPR Bali, Yackie, saat menggelar jumpa pers di Denpasar, Jumat (19/3/2021).

Sementara Senior Marketing Manager LSPR Bali, Nurdin Gustaf, menjelaskan, ada beberapa inovasi yang dilakukan LSPR untuk menarik minat anak-anak muda menimba ilmu komunikasi di LSPR. Misalnya melakukan webinar dengan anak-anak muda tentang LSPR.

“Kami juga menggelar kegiatan semacam LSPR Bali Festival 2021. Juga melaksanakan Kompetisi Tik Tok, seperti LSPR Bali Tik Tok Bali dengan tema pentingnya ilmu komunikasi. Seperti diketahui Tik Tok ini banyak diminati anak-anak muda. Ada juga Humas Muda Camp dengan mengusung tema “Work from Bali, Studi in Bali”,” kata jelas Nurdin.

Menurutnya, hal itu menyambut apa yang digaungkan Menperekraf Sandiana Uno, yakni “Kerja dari Bali, Belajar di Bali”. “Kegiatan ini targetnya anak-anak SMA atau mereka yang umurnya 20 ke bawah atau yang belum kuliah,” tambahnya.

Ia menjelaskan, untuk kuliah di LSPR Bali butuh biaya Rp 60 juta hingga Rp 75 juta selama 4 tahun. Namun, kata dia, pihaknya juga memberikan beberapa jenis beasiswa, di antaranya beasiswa prestasi dan beasiswa bagi mahasiswa yang berasal dari SMA-SMA di Bali dan mahasiswa kelahiran Bali.

Executive Director dan Dosen Marketing LSPR Bali, Miss Gesille, mengakui, selama pandemi Covid-19 ada penurunan peminat yang masuk LSPR. Bagi LSPR di Bali yang sebelumnya sudah menerapkan sistem pembelajaran 50 persen online, tidak begitu persoalan ketika harus melaksanakan sistem e-learning selama masa pandemi.

Gesille juga menjelaskan kelebihan lain dari LSPR Bali dibandingkan kampus-kampus lain, yakni mengundang partner LSPR di luar negeri untuk mengajar secara online. “Ada 25 – 30 dosen yang bekerjasama dengan LSPR Bali. Itu untuk semester lalu. Semester berikutnya akan terus dilanjutkan,” tandasnya.

Nurdin menambahkan, yang membedakan LSPR dengan kampus lain, sebelum pandemi Covid-19, untuk S1 di LSPR Bali ada inovasi yakni perkuliahan dilaksanakan 50 persen online, dan 50 persen offline. “Jadi mahasiswa hanya dua hari ke kampus. Dua hari lainnya dilakukan kuliah secara online dari mana saja. Itu sebelum pandemi. Setelah pandemi Covid-19, 100 persen perkuliahan dilakukan secara online. Itu untuk akademiknya,” katanya.

Sedangkan untuk nonakademik-nya, sama seperti LSPR Jakarta dan Bekasi, LSPR Bali juga punya 30 club student. Mulai public speaking, paduan suara, futzal, dan lain-lain.

Yackie menambahkan, perbedaan LSPR Bali dengan kampus lainnya ada, kurikulum LSPR 50 persen dari Inggris. “Ada ujian internasional dari partner kita di luar negeri,” jelasnya.

Menurut Gesille, yang menjadi unggulan dari LSPR Bali adalah program public relation yang sekarang menjadi public realtion digital, serta juga marketing communication. “Yang kita bangga. Belum lulus saja, mahasiswa di LSPR sudah banyak yang diterima kerja. Karena mereka jago bahasa Inggris. Jago Toefl,” ujarnya. (bs)

Keterangan Foto: Dari kiri Nurdin Gustaf, Miss Gesille, Yackie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *