PENGOLAHAN SAMPAH JADI LISTRIK DALAM PROSES TENDER

I Kadek Diana, SH

DENPASAR – Bali mendapat dana dari pemerintah pusat untuk pilot project pengolahan sampah menjadi energi listrik. Saat ini, proyek tersebut sudah memasuki proses tender. Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali, I Kadek Diana, SH, mengungkapkan hal itu usai pertemuan dengan Dewan Energi Nasional (DEN) di DPRD Bali, Denpasar, Jumat (21/2/2020).

“Itu akan segera dilakukan. Sekarang posisinya masa persiapan tender, khususnya untuk sampah di TPA Suwung. Nanti baru ke kabupaten/kota,” jelasnya.

Menurut Diana, Bali menjadi pilot project bersama beberapa daerah lainnya, di antaranya Kota Surabaya. Untuk sementara sampah yang diolah yang ada di TPA Suwung, Denpasar. Setelah itu, nantinya juga di kabupaten lainnya.

Dikatakan, sebagai daerah pariwisata utama di Indonesia, Bali membutuhkan energi yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Energi tersebut untuk kebutuhan akomodasi wisata seperti hotel dan restoran. “Hotel itu kan terus nyala listrik, baik malam atau siang hari,” jelasnya.

Diana mengatakan, Bali membutuhkan energi listrik 6 persen lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya setiap tahunnya. Kebutuhan energi listrik di Bali tiap tahunnya mencapai 100-200 MW.

Menurutnya, sesuai dengan visi Gubernur Bali, Wayan Koster, bahwa Bali harus mandiri di bidang energi, maka Bali harus menggali potensi-potensi energi yang ada. Apakah dari air, angin atau surya. “Masing-masing potensinya cukup besar, di atas 1.000 MW,” katanya.

Untuk menuju Bali mandiri energi, kata Diana, sudah saatnya merubah mindset ketergantungan energi dari Jawa. Bali harus mengupayakan energi sendiri, yang bersih dan ramah lingkungan.

Dalam pertemuan tersebut, DEN memaparkan potensi-potensi energi di Bali yang bisa dikembangkan jika Bali ingin mandiri di bidang energi. Yakni energi panas bumi, angin, air, dan surya (matahari).

Pertemuan dipimpin Wakil Ketua DPRD Bali, Cok Gede Asmara Putra Sukawati. Selain hadiri Sekjen DEN, Djoko Siswanto, dan Ketua Komisi III DPRD Bali, Kadek Diana, juga dihadiri dari Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Bali.

Sementara Wakil Ketua DPRD Bali, Cok Gede Asmara Putra Sukawati, mengatakan, energi di Bali masih bersumber dari energi berbasis fosil. Untuk menuju energi bersih di Bali, perlu dikembangkan sumber-sumber energi seperti air, panas matahari (surya), energi angin, dan panas bumi (geothermal). Untuk geothermal, menurut Cok Asmara, masih terbentur masalah kesucian. Ia mengakui, energi yang dihasilkan panas bumi merupakan energi paling bersih dan ramah lingkungan. Panas bumi juga paling tinggi menghasilkan energi. Namun, Bali menghindari untuk melakukan eksplorasi di tempat-tempat yang disucikan. Karena itu, diperlukan kajian yang melibatkan banyak pihak jika ingin mengembangkan energi panas bumi. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *