KARANGASEM – Puluhan siswa kelas X Tata Graha dan Tata Boga Utama Widyalaya Kejuruan (UWK) Parisada Amlapura mengikuti pembelajaran langsung ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Linggasana, Kabupaten Karangasem, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program kokurikuler sekolah yang mengangkat tema pengolahan sampah, khususnya sampah plastik.
Sekitar lima puluh siswa mengikuti kegiatan tersebut dengan didampingi guru. Pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi diarahkan pada pengalaman langsung dengan melihat bagaimana sampah yang dihasilkan masyarakat Kabupaten Karangasem diproses di lokasi pemrosesan akhir.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karangasem. Dalam kunjungan tersebut, para siswa mendapatkan penjelasan langsung dari Kepala Bidang DLH Kabupaten Karangasem, Made Yusta, mengenai kondisi persampahan serta proses pengelolaan sampah di TPA Linggasana.
Made Yusta juga mengapresiasi langkah UWK Parisada Amlapura yang membawa peserta didiknya belajar langsung ke TPA. Menurutnya, pembelajaran semacam ini penting untuk memberikan pemahaman nyata kepada generasi muda mengenai persoalan sampah yang terjadi di lingkungan mereka.
“Pembelajaran langsung seperti ini penting karena anak-anak dapat melihat dan memahami kondisi persampahan secara nyata, tidak hanya melalui teori di kelas,” ujar Made Yusta.
Guru pengampu program kokurikuler, I Ketut Yoga Pramuditya, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari program pembelajaran yang dirancang untuk menumbuhkan kesadaran siswa terhadap persoalan lingkungan, khususnya sampah plastik.
Menurut Yoga, persoalan sampah tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah atau petugas kebersihan. Kesadaran harus dibangun mulai dari setiap individu, termasuk para siswa sebagai generasi muda.
“Kami ingin memberikan kesadaran kepada setiap murid bahwa isu lingkungan, khususnya sampah, harus mulai diperhatikan dari diri sendiri. Jangan sampai kita hanya berbicara tentang sampah, tetapi tidak memahami ke mana sampah yang kita hasilkan berakhir,” kata Yoga.
Ia menjelaskan, pembelajaran tersebut juga menjadi salah satu bentuk implementasi program kokurikuler yang mengangkat tema pengolahan sampah plastik. Para siswa tidak hanya diajak melihat kondisi TPA, tetapi juga melakukan penggalian informasi sebagai bahan pembelajaran dan refleksi setelah kegiatan.
“Anak-anak kami dorong untuk aktif bertanya dan menggali informasi. Apa yang mereka lihat di lapangan nantinya menjadi bahan untuk mereka pelajari kembali dan mencari solusi sederhana yang bisa diterapkan mulai dari lingkungan sekolah maupun rumah,” imbuhnya.
Kegiatan pembelajaran di TPA Linggasana juga didukung Kepala UWK Parisada yang dikaitkan dengan penerapan nilai Panca Cinta, khususnya cinta terhadap alam dan lingkungan. Menurut I Wayan Budiasa selaku Kepala UWK Parisada, nilai tersebut perlu diterjemahkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar menjadi konsep yang disampaikan dalam pembelajaran.
“Panca Cinta, khususnya cinta terhadap alam dan lingkungan, harus diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari. Salah satunya dengan mulai mengurangi sampah, memilah sampah, dan bertanggung jawab terhadap sampah yang kita hasilkan,” jelasnya.
Sebagai lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Agama, UWK Parisada Amlapura juga memandang pembelajaran lingkungan sebagai bagian dari penguatan nilai Tri Hita Karana, khususnya hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
Nilai tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi dapat diimplementasikan siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
“Sekolah Widyalaya yang berada di bawah naungan Kementerian Agama memiliki ruang yang baik untuk menekankan nilai Tri Hita Karana. Hubungan harmonis dengan alam harus dibangun melalui kebiasaan dan tindakan nyata,” imbuhnya.
Selama berada di TPA Linggasana, para siswa terlihat aktif mengikuti proses pembelajaran. Mereka mengamati kondisi lingkungan TPA, menyimak penjelasan dari pihak DLH, serta menggali berbagai informasi berkaitan dengan pengelolaan sampah.
Bagi siswa Tata Graha dan Tata Boga, pembelajaran mengenai sampah dinilai memiliki relevansi yang kuat dengan kompetensi keahlian mereka. Aktivitas di bidang pariwisata dan jasa, termasuk tata graha maupun tata boga, tidak terlepas dari persoalan penggunaan bahan dan produksi sampah.
Melalui pembelajaran langsung tersebut, siswa diharapkan memahami bahwa pengelolaan sampah bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut perilaku manusia dalam menghasilkan, menggunakan, memilah, dan membuang sampah.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi upaya sekolah untuk menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, dengan mempertemukan materi yang dipelajari siswa dengan persoalan nyata yang ada di masyarakat. Dengan melihat langsung perjalanan sampah hingga sampai di tempat pemrosesan akhir, para siswa diharapkan memiliki kesadaran baru bahwa setiap sampah yang dibuang memiliki konsekuensi terhadap lingkungan.
Pembelajaran di TPA Linggasana pun diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya kebiasaan baru di kalangan siswa, mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah dari sumbernya, hingga ikut menjaga kebersihan lingkungan sebagai bentuk nyata kecintaan terhadap alam. (bs)

