Pawai Maulid Nabi di Pegayaman, Burdah Anak-anak Unjuk Kebolehan

BULELENG – Pawai Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Rabu (26/8/2026), berlangung meriah. Ada yang berbeda pada Pawai Maulid Nabi SAW tahun ini, yakni tampilnya burdah anak-anak Pegayaman.

Menurut Pemandu Acara, H. Muhammad Qosim, S.Pd.SD, M.Pd., tampilnya burdah anak-anak sebagai wujud pelestarian budaya di Desa Pegayaman. Anggota sekaa burdah anak-anak ini merupakan murid di SDN 1 Pegayaman.

Seperti halnya burdah Pegayaman dewasa, burdah anak-anak ini juga kental dengan nilai akulturasi dengan dengan kearifan lokal Bali. Para pemain burdah berpakaian udeng dan kancut. Lagu-lagunya juga sama dengan burdah dewasa yang mirip dengan tembang-tembang di Bali.

Yang juga menarik, burdah anak-anak juga memainkan pencak belebet. Dua orang yang memang senjata rotan dan mereka menari-nari saling memukulkan rotan dan saling menangkis. Hadirin pun tampak berdecak kagum.

 

 

Pawai Maulid menjadi puncak peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW di desa yang berusia 4 abad tersebut. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam Pawai Maulid ini ditampilkan beragam defile, termasuk yang menjadi ciri khas yakni sokok taluh. Karena itu, acara ini sering disebut Muludan Sokok Taluh (telur).

Sebanyak 24 ribu butir telur dipakai sokok yang jumlahnya ratusan, baik yang diarak dalam pawai maupun yang langsung dibawa ke Masjid Jamik Safinatussalam untuk disedekahkan kepada masyarakat.

Sokok yang menyerupai pajegan dalam tradisi Bali bukan sekadar ornamen dalam perayaan keagamaan. Telur yang telah dihias dan disusun tersebut nantinya akan disedekahkan kepada anak-anak serta masyarakat. Tradisi ini menjadi bagian dari semangat berbagi sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga dalam momentum peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Rangkaian peringatan Maulid Nabi SAW di Pegayaman, menurut Ketua Panitia Maulid Nabi Desa Pegayaman, Abdul Manaf, telah berlangsung sejak 13 Agustus dan mencapai puncaknya pada 26 Agustus 2026. Beragam kegiatan digelar, mulai dari wiridan di masjid, pekan lomba Maulid, parade hadrah dan burdah, muludan tanggal akutus, rotibul haddad dan hiziban, hingga kegiatan gotong royong pemasangan ambu.

 

 

Sementara Perbekel Desa Pegayaman, Agus Asyghor Ali, menyebutkan, seluruh rangkaian Maulid Nabi merupakan bentuk rasa syukur masyarakat. Menurutnya, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ruang untuk memperkuat kebersamaan masyarakat Pegayaman.

“Ini merupakan wujud syukur masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, berbagi, dan mempererat persaudaraan,” kata Agus Asyghor Ali.

Setelah puncak peringatan, rangkaian Maulid Nabi di Desa Pegayaman masih berlanjut hingga 29 Agustus melalui kegiatan Manis Muludan yang diisi atraksi pencak silat. Tradisi tersebut menunjukkan bagaimana peringatan Maulid Nabi di Pegayaman tidak hanya menghadirkan nuansa religius, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga budaya, gotong royong, berbagi, dan memperkuat identitas masyarakat.

Sejumlah pejabat dan tokoh-tokoh ormas Islam di Kabupaten Buleleng hadir pada acara Pawai Maulid tersebut. Juga utusan dari Puri Sukasada, perbekel di sekitar Desa Pegayaman, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Usai acara pawai, dibagikan telur-telur dari sokok-sokok yang disedekahkan warga Pegayaman. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *