BULELENG – Gema kemerdekaan terasa nyaring dan menjulang di bumi Panji Sakti bagi keluarga Madrasah Buleleng, karena kembali menorehkan tinta emas dalam peta pendidikan nasional. Betapa tidak, karena “pekik Merdeka” atas prestasi siswa Madrasah mewakili Bali menuju Nasional menjadi kado HUT Ke-81 RI bagi Kemenag Buleleng.
Dua siswa Madrasah Ibtidaiyah Terpadu (MIT) Mardlatillah Singaraja secara resmi ditetapkan sebagai duta Provinsi Bali untuk berlaga di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat nasional tahun 2026. Keduanya tidak hanya mewakili sekolahnya, tetapi juga membawa nama besar Buleleng dan Bali di panggung kompetisi sains paling bergengsi bagi jenjang pendidikan dasar di Indonesia.
Capaian ini menjadi catatan sejarah tersendiri, karena untuk pertama kalinya dua siswa dari madrasah yang sama berhasil lolos secara bersamaan sebagai utusan Bali dalam dua bidang studi berbeda.
Berdasarkan rilis resmi hasil seleksi OSN tingkat Provinsi Bali, untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), empat peserta terbaik yang berhak melaju ke tingkat nasional adalah Made Ariatih K dari SD Bali Kiddy Badung, Alif SKP dari MIT Mardlatillah Buleleng, Ni Luh Komang Hari dari SDK Marsudirini Jembrana, dan Putu Indra Laksmi dari SD Cerdas Mandiri Denpasar.
Sementara itu, untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), empat duta Bali yang akan bertanding di tingkat nasional adalah Wilson Fadil A dari MIT Mardlatillah Buleleng, Arsya Zafran dari SD Albana Denpasar, Gd Arjuna dari SDN Paguyangan Denpasar, dan I Gst Ayu Agung dari SD Cipta Darma Denpasar.
Dengan demikian, Buleleng mengirimkan dua wakilnya, dan keduanya berasal dari lembaga yang sama: MIT Mardlatillah Singaraja. Wilson Fadil A tampil sebagai Juara 1 Mapel IPS, sementara Alif SKP menempati posisi Juara 2 Mapel IPA. Dua anak ini, yang kesehariannya masih gemar bermain dan bercengkrama dengan teman-teman sebayanya, kini menyandang beban mulia sebagai duta daerah sekaligus duta provinsi.
Kepala MTs Mardlatillah, Muwafikni, tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan bangganya. Dalam percakapan dengan Kepala Seksi Pendidikan Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Lewa Karma, Muwafikni menyampaikan apresiasi mendalam atas pencapaian luar biasa tersebut.
“Ini adalah buah dari kerja keras anak-anak, bimbingan para guru, dan doa orang tua. Saya bangga melihat anak madrasah mampu berdiri sejajar, bahkan lebih tinggi, dari sekolah-sekolah lain. Ini membuktikan bahwa madrasah bukan lagi sekolah kelas dua,” tuturnya.
Menindaklanjuti kabar gembira itu, Kasi Pendis Kemenag Buleleng, H. Lewa Karma, segera menyampaikan hasil tersebut kepada Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Kadisdikpora) Buleleng, Ida Bagus Surya Bharata, serta Ketua Dewan Pendidikan Buleleng, Made Sedana. Keduanya menyambut dengan penuh antusias dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada para duta Buleleng dan Bali, khususnya kepada dua siswa madrasah yang telah menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Buleleng tidak mengenal sekat antara lembaga negeri maupun swasta.
“Kami sangat bangga. Ini bukti bahwa pembinaan prestasi di Buleleng, termasuk di madrasah, berjalan dengan sangat baik. Kami berharap anak-anak ini bisa tampil maksimal di tingkat nasional dan mengharumkan nama Bali,” ujar Ida Bagus Surya.
Senada dengan itu, Made Sedana dari Dewan Pendidikan Buleleng menambahkan bahwa prestasi ini adalah cermin dari kerja kolaboratif antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. “Madrasah telah menunjukkan transformasi yang luar biasa. Ini bukan lagi sekadar lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat keunggulan akademik,” katanya.
Bentuk apresiasi pun tidak berhenti pada kata-kata. H. Lewa Karma menyatakan bahwa pihak Kementerian Agama Buleleng memberikan penghargaan khusus kepada kedua siswa tersebut. Penyerahan reward berlangsung dalam rangkaian upacara Hari Pramuka pada 14 Agustus 2026, yang juga menjadi puncak kegiatan Kemah Karakter Madrasah se-Buleleng di Lapangan Celukan Bawang.
Upacara tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, didampingi Kepala Kantor Kementerian Agama Buleleng, I Gede Sumarawan, serta Kepala Bidang Pendidikan Madrasah, H. Fathurrahim. Penghargaan akan diserahkan di hadapan para peserta upacara dan undangan yang berasal dari seluruh madrasah se-Kabupaten Buleleng.
Pemberian penghargaan dalam momentum Hari Pramuka dan Kemah Karakter bukanlah kebetulan. Keduanya dipilih secara sadar sebagai simbol bahwa prestasi akademik dan pembentukan karakter adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Dalam tradisi kepramukaan, nilai-nilai Tri Satya dan Dasa Darma menekankan pentingnya kedisiplinan, tanggung jawab, dan cinta tanah air. Kedua siswa madrasah tersebut telah menunjukkan bahwa kemenangan di bidang sains adalah buah dari kedisiplinan belajar yang sejalan dengan nilai-nilai kepramukaan.
Arief Rachman, pakar pendidikan dan mantan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, dalam bukunya Pendidikan Karakter di Era Milenial (2015), menegaskan bahwa “prestasi akademik yang tidak disertai karakter yang kuat ibarat bangunan megah di atas pasir. Ia mudah runtuh oleh godaan dan tekanan zaman. Sebaliknya, siswa yang dibina karakter dan prestasinya secara seimbang akan menjadi pribadi yang tangguh dan bermanfaat” (Rachman, 2015: 92).
Pernyataan ini menemukan pembuktiannya pada sosok Wilson dan Alif, yang tumbuh dari lingkungan madrasah yang menekankan pembinaan akhlak sekaligus pengembangan potensi intelektual.
Fenomena kebangkitan madrasah dalam kancah kompetisi nasional juga telah menjadi objek penelitian akademik. Sebuah studi yang dilakukan oleh Dr. Lukman Hakim dan tim dari UIN Sunan Ampel Surabaya dalam Jurnal Pendidikan Islam (2024) berjudul “Madrasah dan Daya Saing Akademik: Studi atas Partisipasi Siswa Madrasah dalam Olimpiade Sains Nasional” menemukan bahwa dalam lima tahun terakhir, partisipasi dan prestasi siswa madrasah dalam OSN meningkat secara konsisten.
Studi tersebut menyebutkan bahwa peningkatan ini dipengaruhi oleh penguatan program pembinaan intensif, integrasi nilai religius dalam proses belajar mengajar, serta dukungan kelembagaan yang semakin profesional dari Kementerian Agama. “Madrasah telah bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya unggul dalam ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga kompetitif dalam sains dan ilmu pengetahuan umum,” tulis Hakim et al. (2024: 57).
Kemajuan ini juga tidak lepas dari kebijakan Kementerian Agama yang menjadikan kompetisi sains madrasah (KSM) yang bertransformasi menjadi Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) sebagai salah satu instrumen strategis peningkatan mutu. Data Direktorat KSKK pada Ditjen Pendis menunjukkan bahwa pada penyelenggaraan OSN tahun 2025, siswa madrasah berhasil meraih puluhan medali di berbagai bidang, menegaskan bahwa dikotomi antara pendidikan agama dan sains modern telah runtuh. Madrasah membuktikan dirinya sebagai lembaga yang mampu mencetak generasi yang religius sekaligus rasional.
Di sisi lain, keberhasilan dua siswa MIT Mardlatillah ini juga menjadi bukti bahwa Buleleng yang selama ini dikenal sebagai daerah dengan akses geografis yang menantang di Bali utara mampu melahirkan talenta-talenta unggul yang siap bersaing di level nasional. Dalam konteks ini, peran Kepala Seksi Pendidikan Islam Kemenag Buleleng sebagai motor pembinaan menjadi sangat sentral.
Lewa Karma, yang sejak awal kepemimpinannya terus mendorong madrasah-madrasah di Buleleng untuk berprestasi, menyebut bahwa keberhasilan ini adalah milik bersama. “Tidak ada yang tidak mungkin. Dengan niat yang kuat, bimbingan yang serius, dan doa, anak-anak madrasah kita bisa berjaya di panggung mana pun,” ujarnya.
Momentum Hari Pramuka dan Kemah Karakter pada 14 Agustus 2026 menjadi panggung penghormatan yang tidak hanya merayakan dua siswa berprestasi, tetapi juga menegaskan arah baru pendidikan madrasah di Buleleng. Di hadapan ribuan peserta upacara dari seluruh madrasah se-Kabupaten Buleleng, penyerahan reward kepada Wilson Fadil A dan Alif SKP menjadi pesan kolektif: bahwa madrasah hari ini adalah rumah bagi para juara, tempat di mana iman dan ilmu tumbuh bersama.
Sebagaimana ditegaskan oleh Komaruddin Hidayat dalam Pendidikan Karakter: Membumikan Nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan (2020), “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati para pembelajarnya. Ketika anak-anak bangsa dihargai karena prestasinya, maka masyarakat sedang menanam benih kepercayaan diri untuk generasi selanjutnya” (Hidayat, 2020: 118).
Pemberian penghargaan kepada dua duta Bali ini bukan sekadar seremoni, melainkan investasi simbolik yang akan menginspirasi ribuan siswa madrasah lainnya di seluruh pelosok negeri.
Kini, mata tertuju pada langkah berikutnya menuju panggung nasional yang menanti. Wilson dan Alif akan membawa serta harapan Buleleng, Bali, dan seluruh keluarga besar madrasah Indonesia. Apapun hasilnya kelak, mereka telah mencatatkan diri sebagai pembuka jalan, bukti hidup bahwa anak madrasah dari kota kecil di ujung utara Bali mampu berdiri sejajar dengan yang terbaik dari seluruh penjuru Nusantara.
Dan di Lapangan Celukan Bawang, ketika upacara Hari Pramuka berlangsung khidmat dan bendera merah putih berkibar menantang langit, dua anak itu akan berdiri di sana bukan sebagai dua nama dari madrasah yang sama, melainkan sebagai simbol bahwa tidak ada batas bagi mereka yang berani bermimpi dan bekerja keras. (bs)
Daftar Pustaka
1. Hakim, L., Syaifuddin, M., & Rohmah, N. (2024). Madrasah dan Daya Saing Akademik: Studi atas Partisipasi Siswa Madrasah dalam Olimpiade Sains Nasional. Jurnal Pendidikan Islam, 13(1), 45-60.
2. Hidayat, K. (2020). Pendidikan Karakter: Membumikan Nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan. Jakarta: Noura Books.
3. Rachman, A. (2015). Pendidikan Karakter di Era Milenial. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

