* Oleh Fauzi Hariri, S.Tr.T
KETIDAKPASTIAN global kembali menjadi lanskap utama yang mendominasi perekonomian dunia saat ini. Eskalasi konflik geopolitik yang berkepanjangan, perlambatan pertumbuhan di berbagai negara maju, gangguan kronis pada rantai pasok global, hingga dinamika kebijakan perdagangan internasional yang kian proteksionis, secara kolektif menciptakan tekanan yang tidak ringan bagi banyak negara.
Dalam situasi penuh badai seperti sekarang, formula konvensional untuk mengukur ketangguhan ekonomi suatu bangsa tampaknya perlu didefinisikan ulang. Pertumbuhan ekonomi tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa besar modal yang dimiliki, seberapa melimpah kekayaan sumber daya alam, atau seberapa canggih teknologi yang diadopsi. Ada satu faktor yang sering kali luput dari kalkulasi di atas kertas, namun memegang kendali paling krusial dalam menentukan arah bangsa, yaitu kepercayaan publik (public trust).
Dalam perspektif ekonomi modern, kepercayaan bukan sekadar konsep moral atau pelengkap interaksi sosial semata. Ia adalah modal ekonomi fundamental sebuah social capital yang memiliki peran taktis dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan pembangunan.
Di tengah ekosistem pasar yang bergejolak, kepercayaan berfungsi sebagai jangkar yang mengurangi ketidakpastian, memperkuat ekspektasi positif para pelaku usaha, serta menjadi pemantik konsumsi masyarakat.
Ketika masyarakat menaruh percaya pada arah kebijakan pemerintah, ketika pelaku usaha optimis terhadap prospek pasar, dan ketika investor yakin pada stabilitas suatu negara, maka seluruh roda aktivitas ekonomi akan bergerak jauh lebih dinamis dan efisien.
Sebaliknya, kebijakan semenarik apa pun yang dirancang oleh pembuat kebijakan mulai dari program reformasi birokrasi, penguatan sektor industri, hilirisasi sumber daya alam, hingga akselerasi ekonomi hijau akan lumpuh di tengah jalan jika tidak diiringi oleh dukungan dan keyakinan dari masyarakat.
Kepercayaan publik adalah energi yang mengubah regulasi di atas kertas menjadi realisasi di lapangan. Tanpa hal itu, kebijakan terbaik sekalipun akan sulit mencapai tujuan utamanya karena akan selalu dihadapkan pada skeptisisme massa.
Jika kita menengok ke belakang, Indonesia sebenarnya memiliki rekam jejak yang sangat panjang dan kaya dalam menghadapi berbagai guncangan ekonomi. Sejarah mencatat bagaimana kita berhasil melewati hantaman krisis finansial Asia pada tahun 1998, badai pandemi Covid-19, hingga tekanan geopolitik global beberapa waktu terakhir.
Pelajaran berharga dari rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kemampuan bertahan sebuah bangsa tidak melulu soal seberapa tebal cadangan devisa atau seberapa agresif stimulus fiskal yang dikucurkan.
Faktor pembeda yang menyelamatkan Indonesia justru terletak pada resiliensi ekonomi akar rumput dan tingkat kepercayaan publik terhadap institusi serta kebijakan yang dijalankan. Kemampuan menjaga optimisme domestik di tengah kepungan krisis global adalah bukti nyata bahwa modal sosial kita bekerja dengan sangat baik.
Dalam konteks makro, kepercayaan ini juga menjadi komoditas paling sensitif di mata para investor. Arus investasi, baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun asing (PMA), pada dasarnya adalah makhluk yang sangat penakut terhadap ketidakpastian.
Ketika menanamkan modalnya, investor tidak hanya menghitung potensi keuntungan jangka pendek di atas kertas. Mereka mengamati instrumen yang lebih mendalam: stabilitas regulasi, kepastian hukum, kualitas tata kelola pemerintahan, serta konsistensi kebijakan ekonomi sebuah negara. Oleh karena itu, berbagai upaya reformasi struktural yang tengah berjalan saat ini harus terus dijaga konsistensinya agar mampu mengirimkan sinyal positif yang kuat ke radar dunia usaha global.
Di sisi lain, sektor konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung utama Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia juga sangat dikendalikan oleh psikologi massa ini. Konsumsi sangat dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat memandang hari esok.
Ketika masyarakat merasa optimis terhadap kondisi ekonomi dan peluang pendapatan mereka di masa depan, kecenderungan untuk melakukan konsumsi akan meningkat drastis. Namun, jika persepsi publik didominasi oleh ketakutan akan ketidakpastian, masyarakat secara alami akan menahan pengeluaran mereka dan memilih untuk menimbun tabungan. Perubahan perilaku ini, jika terjadi secara massal, berpotensi memicu perlambatan ekonomi domestik.
Dampak psikologis yang sama juga berlaku pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi benteng pertahanan ekonomi nasional. Sebagai penggerak di tingkat akar rumput, pelaku UMKM membutuhkan lingkungan usaha yang kondusif dan dapat diprediksi untuk dapat berkembang.
Ketika mereka merasakan adanya kemudahan akses pembiayaan, dukungan digitalisasi yang nyata, serta kepastian pasar yang dijamin oleh ekosistem yang sehat, keyakinan mereka untuk memperluas kapasitas produksi dan membuka lapangan kerja baru akan tumbuh. Kepercayaan yang mengakar kuat di level terbawah inilah yang pada akhirnya akan mengristal menjadi daya tahan ekonomi nasional yang kokoh.
Namun, kita harus sadar bahwa membangun kepercayaan bukanlah pekerjaan instan yang bisa selesai dalam satu malam melalui retorika semata. Kepercayaan adalah buah dari konsistensi yang akumulatif. Ia lahir dari transparansi dalam setiap pengambilan kebijakan, akuntabilitas institusi publik yang nyata, serta komunikasi dua arah yang terbuka kepada masyarakat.
Ketika pemerintah mampu menunjukkan komitmen yang tegas terhadap tata kelola yang baik (good governance) dan berani jujur mengenai tantangan riil yang sedang dihadapi, maka legitimasi kebijakan ekonomi akan menguat dengan sendirinya, memberikan ruang yang lebih luas bagi efektivitas pembangunan.
Tantangan global yang semakin kompleks ke depan menuntut Indonesia untuk tidak lagi terjebak pada ambisi pertumbuhan ekonomi jangka pendek yang semu. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berdaya saing memerlukan penguatan fondasi institusi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penciptaan ekosistem usaha yang sehat.
Seluruh agenda besar tersebut pada akhirnya bermuara pada satu muara yang sama: menjaga dan merawat kepercayaan publik terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Kepercayaan akan melahirkan optimisme, optimisme akan mendorong aktivitas ekonomi secara riil, dan aktivitas ekonomi yang sehat akan menghasilkan pertumbuhan yang inklusif serta berkelanjutan.
Dalam dunia yang semakin tidak menentu ini, kepercayaan telah menjelma menjadi mata uang baru dalam pembangunan ekonomi global. Negara yang berhasil menjaga nilai dari “mata uang” non-fisik ini akan memiliki benteng pertahanan yang jauh lebih kuat dalam menghadapi guncangan global apa pun.
Bagi Indonesia, menjaga kepercayaan publik bukan lagi sekadar urusan komunikasi, agenda politik, atau etika sosial ia adalah investasi strategis paling menentukan bagi masa depan perekonomian nasional. []
*) Penulis adalah Pegiat Ekonomi Kreatif

