BULELENG – Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan (IMK) Bali memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan perguruan tinggi lainnya di Bali, khususnya di Buleleng. Selain akreditasinya Unggul, uang UKT (SPP)-nya jauh lebih rendah dibandingkan perguruan tinggi lain.
“Unud atau Undiksha bukan saingan kami, karena kami memiliki segmen yang berbeda,” kata Rektor IMK, Prof. Dr. I Gede Suwindia, saat menjawab wartawan di acara Media Gathering serangkaian Dies Natalis ke-1 IMK, Selasa (5/5/2026).
Menurut Prof. Suwindia, IMK tidak bisa dikatakan bersaing dalam menjaring mahasiswa baru. IMK tidak memiliki Fakultas Kedokteran seperti dimiliki Unud atau Undiksha Singaraja. “Tapi ada beberapa program studi yang saling berkelindan. Contoh, Undiksha punya Program Studi PGSD, kami juga punya Program Studi PGSD,” jelasnya.
Dari segi akreditasi, IMK pada peringkat Unggul sama seperti Unud dan Undiksha. “Keberuntungan kami adalah karena amanat PMA (Peraturan Menteri Agama-red), kami tidak boleh menaikkan SPP (UKT) sesuai kepentingan kami, sehingga standar SPP (UKT) di IMK jauh di bawah Unud dan Undiksha. Itu kelebihan daya jual kami,” ujar Prof. Suwindia.
Dipaparkan, untuk penerimaan mahasiswa baru tahun 2026, IMK memasang target 800-850 mahasiswa baru. Denga 18 program studi, termasuk program doktor dan 4 program studi magister.
Prof. Suwindia yakin, jika setiap prodi tersebut digarap dengan secara baik, dengan melakukan pendekatan yang khusus kepada calon mahasiswa, ia yakin target itu terpenuhi. “Saya kira semua memiliki market sendiri. Masing-masing prodi juga punya cara pendekatannya ke calon mahasiswa itu dengan keunikan masing-masing,” jelasnya.
Menurutnya, di situlah IMK “bermain”. Oleh karena itu, pihaknya bersama Tim Humas IMK dan program studi selalu berupaya mem-branding diri agar menyentuh hati calon mahasiswa. Misalnya layanan yang memudahkan mereka. Membangun spot -spot yang membuat mereka datang ke kampusnya. Kampus IMK dikemas misalnya instagramable, karena itulah dunia anak-anak muda sekarang.
Selain itu, untuk terus meningkatkan kualitas IMK, pihaknya terus melakukan terobosan kerjasama dengan luar negeri. “Ini akan kami lakukan terus, kerjasama dengan perguruan tinggi di Bali maupun luar Bali, termasuk luar negeri. Pak Dekan (Dr. Putu Mardika, red) kemarin ke Malaysia, itu dalam rangka membangun kerjasama,” katanya.
Prof. Suwindia juga menuturkan, bahwa di IMK ada beberapa mahasiswa asing, misalnya dari Belgia. Pihaknya juga terus mendorong penguatan LMS, Learning Management System).
“Kami punya PR dari Pak Dirjen. Tagline kami “kampus green, art, smart. Green sudah berjalan, art sudah berjalan. Smart ini yang sedang kami buatkan. Pembelajaran tidak hanya luring di tempat. Bisa juga daring. Hadir separuh, selebihnya bisa daring. Ini sedang kami lakukan,” tuturnya.
Prof. Suwindia juga menegaskan bahwa IMK harus menjadi kampus yang ramah lingkungan, ramah perempuan dan ramah difabel. “Pak Menteri selalu berpesan, ‘dekatkan ajaran agama dengan praktek agama’. Kami sudah lakukan itu dengan cara kami ajak mahasiswa ke alam. greennya kami dorong kepada mahasiswa,” jelasnya.
Rektor IMK juga menegaskan, jangan sampai ada prilaku-prilaku bulying apalagi sampai ada pelecehan kepada perempuan. Ia juga melakukan langkah-langkah di internal, dengan menyusun matrik yang menegaskan kampus IMK harus ramah kepada lingkungan, ramah kepada perempuan.
“Termasuk saya secara kelembagaan lewat tim perencana kami dalam setiap pengembangan ruangan atau bangunan kami selalu ramah lingkungan, ramah difabel, termasuk ramah perempuan,” katanya.
Ia mengatakan, di kampus IMK, tepatnya di sebelah kiri setelah pintu masuk rektorat, ada ruang laktasi, dan ada ruang difabel. (bs)

