Makin Banyak Peneliti, Mahasiswa dan Siswa Berwisata Penelitian ke Pegayaman

BULELENG – Semakin banyak peneliti, mahasiswa dan siswa yang melakukan wisata penelitian di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali. Terakhir sebanyak 247 siswa SMA 1 Pusaka Jakarta Timur yang didampingi 19 gurunya mengunjungi Desa Pegayaman.

Rombongan yang dipimpin kepala sekolah, Yadi Sumiadi, tersebut tiba di Desa Pegayaman, Senin (20/4/2026). Mereka berada di desa tua tersebut selama dua hari. Para siswa dan guru SMA 1 Pusaka Jakarta Timur menginap di rumah-rumah penduduk. Mereka menikmati suasana Pegayaman dan menyaksikan tradisi dan seni khas desa yang berada di perbukitan tersebut.

“Kunjungan berwisata semacam ini sebenarnya sudah berlangsung lama di Pegayaman dengan kapasitas yang sama jumlahnya, baik dari sejumlah kampus dan kalangan akademisi. Mereka langsung menginap di Pegayaman. Bahkan ada yang sampai satu minggu menginap di rumah penduduk yang telah disediakan di desa,” ujar tokoh masyarakat yang juga pemerhati sejarah dari Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto, Selasa (21/4/2026).

 

 

Menurut Ketut Suharto, kunjungan semacam itu tentu memberikan peluang bagi Pegayaman, untuk bisa ikut andil berkiprah dalam dunia wisata. Pegayaman mempunyai nilai tawar khusus kajian keilmuan di bidang sejarah, adat istiadat, dan ilmu pengetahuan lainnya.

Mengutip penjelasan pihak sekolah, Ketut Suharto mengatakan, kunjungan wisata dilaksanakan SMA 1 Pusaka Jakarta Timur, sebagai upaya bagaimana mengenalkan siswa ke objek langsung di tingkat masyarakat yang punya nilai sejarah tinggi. Di mana Pegayaman yang berada di Bali dengan komunitas muslim yang mayoritas di tengah minoritas.

“Siswa-siswa ini semuanya diberikan kesempatan untuk belajar langsung bagaimana tentang kehidupan warga Desa Pegayaman, serta bagaimana sejarah warga desa ini yang telah menempati desa selama berabad-abad lamanya, kurang lebih 4 abad lamanya,” jelas Ketut Suharto.

Kata dia, nilai-nilai wisata yang ditawarkan oleh Desa Pegayaman memberikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Misalnya yang ingin mengetahui secara keilmuan tentang Desa Pegayaman. Sejarah desa ini memiliki nilai akademis yang tinggi.

“Materi seperti ini bisa digunakan sebagai sebuah referensi kesejarahan yang punya nilai tinggi. Sebab, Pegayaman secara hitungan waktu telah mampu membuat pilahan-pilahan keunggulan di dalam potensi desanya,” paparnya.

Ketut Suharto menjelaskan, setidaknya ada 6 keunggulan yang dimiliki Desa Pegayaman. Pertama, Desa Bersejarah. Kata dia, Pegayaman disebut desa bersejarah karena sejarah desa ini jelas tercatat di Babad Buleleng. Babad menyebutkan bahwa proses kedatangan umat Islam Pegayaman yakni berawal dari laskar pembela Kerajaan Buleleng dibawah pimpinan I Gusti Anglurah Panji Sakti pada tahun 1648 Masehi.

Kedua, Desa Tua. Pegayaman disebut desa tua karena sudah ada sejak tahun 1648 Masehi. “Ini memposisikan Desa Pegayaman sebagai desa yang sangat tua yang kini berumur 4 abad lamanya,” kata Ketut Suharto.

Ketiga, Desa Budaya. Menurut dia, Pegayaman disebut desa budaya karena memiliki aktivitas tradisi dan budaya yang terbentuk selama 4 abad lebih. Tradisi dan budaya Pegayaman memiliki nilai yang khas dan unik.

Keempat, Desa Akulturatif. Desa Pegayaman dengan posisi atau tempat menetapnya yang berada di lingkungan mayoritas berbudaya Bali, maka semua aktivitas budaya yang berkembang di Desa Pegayaman ini adalah konsep-konsep yang berada di sekitarnya yaitu yang berbudaya Bali.

“Orang Pegayaman selalu meletakkan sebuah kearifan lokal yang berprinsip “di mana kaki berpijak di sanalah langit dijunjung”. Artinya budaya lokal yang berkembang di Pegayaman ini adalah nilainya sangat akulturatif,” terang Ketut Suharto.

Kelima, Desa Pejuang. Kata dia, Pegayaman disebut desa pejuang. Masyarakat awal Desa Pegayaman adalah sebagai laskar pejuang pembela Kerajaan Buleleng dari tahun 1648 sampai perjuangan-perjuangan yang melintasi politik, sosial, dan budaya. Ikut berjuang pada Perang Jagaraga (1649), Perang Banjar (1665), dan Perang Revolusi pada tahun 1945 Masehi.

“Orang Pegayaman selalu tampil membela kerajaan dan negara ini, sehingga di Pegayaman sampai tercatat dalam sejarah ada 4 pahlawan yang terdaftar sebagai pejuang nasional,” tambahnya.

Keenam, Desa Unik. Pegayaman adalah desa yang sangat unik. Keunikan ini muncul dari proses panjang selama 4 abad yang terbentuk secara alami. Misalnya, bahasa orang Pegayaman itu sekalipun muslim adalah memakai bahasa Bali dasar, menengah, dan tinggi.

Di Pegayaman menggunakan urutan-urutan kelahiran sebagaimana yang ada di Bali seperti Wayan, Nengah, Nyoman dan Ketut. Semua adat istiadat yang ada di Pegayaman adalah bernuansa Bali.

 

 

Ketut Suharto juga menjelaskan bahwa Pegayaman mempunyai beberapa kekhasan yang bisa dinikmati wisatawan. Kata dia, para wisatawan atau tamu yang datang akan disambut dengan hadrah atau seni burdah yang dibarengi dengan tarian pencak silat belebet.

Di Pegayaman orang dapat melakukan kajian-kajian sejarah, adat, dan budaya yang berkembang. Wisatawan juga bisa belajar membuat produk-produk khas Pegayaman, seperti membuat gula merah, pembuatan kopi bubuk, pembuatan camilan dan lain sebagainya.

Menurut Ketut Suharto, Pegayaman juga punya objek-objek bersejarah menarik yang bisa dinikmati pengunjung, seperti benteng pelindungan yang dibuat oleh penjajah Jepang yang masih utuh sampai sekarang. Atau berkunjung ke lokasi sakral seperti rumah keramat.

Pegayaman juga memiliki destinasi air terjun, sawah indah, sungai, kebun kopi, kebun cengkeh, kebun durian dan sebagainya. Atau tamu bisa berkunjung sambil beribadah di Masjid Jamik Safinatussalam.

Juga melihat apa yang menjadi peninggalan sejarah yang ada di ini.
Wisatawan juga bisa belajar tentang bela diri, apakah pencak belebet, silat sitembak Pegayaman. Atau belajar seni, seperti hadrah Pegayaman, burdah Pegayaman, atau wirid Pegayaman.

“Para peminat yang mau datang ke Pegayaman, desa ini bisa difungsikan sebagai referensi untuk tulisan yang bisa mengantarkan siswa dari tingkat SD, SMP, SMA, perguruan tinggi untuk ke jalur tingkat yang diinginkan. Atau untuk referensi mencari data untuk lomba, referensi data untuk skripsi, referensi data untuk S1, S2, S3 dan seterusnya,” tandasnya.

Menurut Ketut Suharto, Pegayaman selalu terbuka dan bisa menerima siapapun yang berkeinginan untuk mencari referensi untuk berbagai kepentingan. “Kami sudah mempunyai kelompok pemerhati wisata kajian dengan nama “Pokdarwis Kumpi Bukit”. Kami mempersilahkan bagi para peminat yang ingin belajar, ingin mengkaji, ingin berdiskusi, tentang Desa Pegayaman, dan juga yang ingin membuat tulisan di Pegayaman,” pungkasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *