Tampil di Penutupan Festasada 2026, Burdah Pegayaman Sajikan Kekhasan dan Keunikannya

BULELENG – Burdah Burak Desa Pegayaman tampil pada penutupan Festival Seni Adat dan Budaya Kecamatan Sukasada (Festasada) 2026 di RTH Bung Karno Sukasada, Minggu (19/4/2026) malam. Penampilan Burdah Burak Pegayaman memberikan sajian keunikan dan kekhasan dalam festival seni budaya bertajuk “Abhyudaya” tersebut.

Dipimpin Ketua Burdah Burak Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto, sekaa yang sudah berumur ratusan tahun ini mengisi panggung selama satu jam penuh. Dengan pakaiannya khas, meudeng dan mekancut, anggota Sekaa Burdah Burak benar-benar tampil totalitas. Suara khas burdah menggema di RTH Bung Karno yang dipadati pengunjung.

Seperti biasanya, setelah memainkan beberapa lagu, Sekaa Burdah Burak Pegayaman menampil pencak belebet yang diiringi musik burdah. Sungguh penampilan yang unik dan khas Desa Pegayaman.

 

 

Ketua Sekaa Burdah Burak Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto, menjelaskan, tampilnya seni burdah pada Festasada 2026 merupakan ajang refleksi diri dan Kecamatan Sukasada dalam me-review kembali hasil karya para penglinsir. Bahwa para penglingsir Pegayaman terdahulu ikut membangun Sukasada khususnya, dan membangun Buleleng, dari tahun 1629, sejak berdirinya Kerajaan Sukasada (Puri Anyar).

Kata Ketut Suharto, perjalanan kiprah para penglingsir atau kumpi-kumpi Pegayaman terdahulu, khususnya Kumpi Sri Aji Kumpi Bukit Sitindih –julukan kumpi bukit yang diletakkan di pegunungan pegatepan yang sekarang disebut dengan Desa Pegayaman—, gambarannya dapat dilihat melalui seni burdah. Bagaimana kiprah tanggung jawab atau amanah yang diberikan oleh Raja Buleleng I Gusti Anglurah Panji Sakti, dapat dilihat melalui kesenian burdah Desa Pegayaman.

“Pada malam minggu tanggal 19 April 2026 ini, generasi Pegayaman mampu membuat sebuah review refleksi diri terhadap kondisi terdahulu yang telah dirintis oleh penglingsir kita, dengan perwujudan bukti kiprah yang dipertahankan dengan gaya seni yang dimunculkan melalui Burdah Burak Desa Pegayaman yang berkembang sampai sekarang,” ujar Ketut Suharto.

Kesenian burdah Pegayaman ini berkembang sampai sekarang dengan gaya akulturasi budaya Bali yang berkolaborasi dengan budaya Islam. “Dan kesenian burdah ini bentuk serta modelnya bertahan selama 400 tahun dari 1648 hingga kini tidak terpengaruh oleh perkembangan zaman. Dalam artian sama sekali tidak tergerus oleh zaman modern, dalam model yang dimunculkan oleh para penglingsir terdahulu,” Ketut Suharto menjelaskan.

Menurutnya, hal ini merupakan bentuk dari kesadaran para generasi Pegayaman, yang berusaha mempertahankan dan meregenerasikan bentuk kesenian ini, sebagai sebuah upaya pertahanan sejarah, dan sebagai sebuah bukti akan keberadaan para penglinsir Pegayaman dari tahun 1648 hingga kini. “Serta peran penting para penglingsir Pegayaman dalam mempertahankan keberadaan wilayah Buleleng dari serangan mereka yang punya kepentingan politik pada zaman itu hingga kini,” tambahnya.

 

 

Ketut Muhammad Suharto mengaku, penampilan Sekaa Burdah Burak Pegayaman di malam penutupan Festasada 2026 memberikan satu gambaran, bagaimana peran penting generasi muda untuk memberikan penghargaan terhadap para penglinsir. Mereka yang telah sangat berjasa dari zaman dahulu bisa mempertahankan dan membuat warisan-warisan budaya yang bisa dinikmati sampai sekarang.

“Kami dari Sekaa Burdah Burak Pegayaman bisa menjadi contoh bagaimana mempertahankan budaya lawas,” tutur Ketut Suharto.

Ia merasa bersyukur karena penampilan Sekaa Burdah Burak Pegayaman pada malam penutupan Festasada 2026 mendapat apresiasi dari penonton. Para penonton terlihat sangat antusias untuk menikmati penampilan Sekaa Burdah Burak Pegayaman. Tepuk tangan penonton terlihat meriah. Penampilan seni burdah dari Desa Pegayaman ini memang mempunyai daya tarik tersendiri, dan berbeda dengan penampilan yang lain.

“Kami dari para penggerak seni budaya lawas, dari Desa Pegayaman, sangat berharap banyak dalam kaitannya dengan pelestarian adat-adat budaya lawas yang ditenggelamkan oleh zaman modern ini, agar bisa dibangkitkan kembali. Sebagai sebuah kekuatan modal bagaimana para generasi ini mengenali sejarah dirinya, sehingga ada rasa bangga pada mereka sebagai generasi yang bisa menghargai karya para penglingsir,” harap Ketut Suharto.

 

 

Ia dan Desa Pegayaman menyampaikan banyak terima kasih kepada para pihak yang telah memberikan kesempatan kepada Sekaa Burdah Burak Pegayaman untuk tampil di depan publik pada Festasada 2026 ini.

“Semoga acara-acara seperti ini, selalu menjadi agenda yang diutamakan, sebab dengan acara seperti inilah kita bisa merefleksi diri dan menghargai dan memberikan penghormatan terhadap para penglingsir, dan juga sebagai sebuah pertahanan diri ke depan, bagaimana kesiapan para generasi terkini untuk bisa menghadapi segala bentuk hal yang terkait dengan perkembangan zaman, tanpa mengorbankan penghormatan dan penghargaan terhadap apa yang telah dihasilkan oleh generasi-generasi terdahulu. Salam harmoni dari Desa Pegayaman, dan tetap dalam falsafah menyama braya,” pungkas Ketut Suharto. (bs)

Satu tanggapan untuk “Tampil di Penutupan Festasada 2026, Burdah Pegayaman Sajikan Kekhasan dan Keunikannya

  1. Pegayaman memang bagian dari kecamatan sukasada dari zaman kerajaan selalu mendapat prioritas dari anglutah Panji sakti semoga terus kekerabatan terjalin terutama dalam pelestarian budaya toleransi menyame beraye

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *