Siswa MIN 2 Buleleng Peduli Lingkungan, Belajar Olah Sampah Organik Jadi Eco Enzyme

BULELENG – Kepedulian kepada lingkungan ditunjukkan siswa-siswi MIN 2 Buleleng. Mereka antusias mengikuti pelatihan mengolah sampah organik menjadi eco enzyme. Pelatihan pembuatan eco enzyme yang diberikan tim dosen dari Undiksha Singaraja dilaksanakan di MIN 2 Buleleng, Kamis (9/4/2026).

Sebanyak 30 siswa-siswi kelas V mengikuti pelatihan tersebut, mewakili tiga rombel belajar. Mereka didampingi sejumlah guru MIN 2 Buleleng dan mahasiswa Undiksha.

Acara pelatihan dibuka Kepala MIN 2 Buleleng, H. Muhammad Qosim, S.Pd.SD., M.Pd. Dalam sambutannya, H. Qasim menyatakan, pelatihan ini sangat baik dan bermanfaat.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada para dosen dan mahasiswa Undiksha yang melaksanakan kegiatan ini. Kegiatan yang tentu akan memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya buat anak-anak di sekolah ini,” kata H. Qosim.

 

 

Menurutnya, kegiatan tersebut sangat tepat dengan program Adiwiyata, yakni bagaimana mengolah sampah dengan baik. Dikatakan, saat ini sampah memang menjadi masalah secara umum.

“Apalagi saat ini perlu kita ketahui bahwa kebijakan pemerintah, terutama di Provinsi Bali, sampah harus diselesaikan sendiri,” ujar kepala madrasah asal Pegayaman ini.

H. Qosim menjelaskan, kebijakan pemerintah, yang bisa dibuang ke TPA hanya sampah-sampah anorganik. Yakni sampah yang bisa didaur ulang seperti plastik dan semacamnya. “Kalau sampah organik itu harus diselesaikan sendiri,” tegasnya.

 

 

Karena itu, kata dia, pelatihan pengolahan sampah organik menjadi eco enzyme ini menarik. “Nanti ibu dan bapak dosen akan memberikan pelatihan untuk mengolah sampah organik. Sampah organik ini diolah menjadi eco enzyme,” paparnya.

Ia menjelaskan, eco enzyme tersebut nanti bisa menjadi salah bagian unit usaha MIN 2 Buleleng kalau bisa dikemas dengan baik. “Eco enzyme ini bisa dikemas dan bisa dijual,” tandas H. Qosim.

Ketua Tim Dosen Undiksha, Dewi Oktofa Rachmawati, S.Si., M.Si., menjelaskan, lingkungan sekolah, termasuk di MIN 2 Buleleng, menjadi salah satu sumber penghasil sampah, terutama dari aktivitas siswa, kegiatan kantin, dan kegiatan kebersihan lingkungan sekolah.

Sebagian besar sampah tersebut merupakan sampah organik yang berpotensi menimbulkan bau tidak sedap serta pencemaran lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

Menurutnya, salah satu alternatif pengolahan sampah organik yang sederhana dan mudah diterapkan di lingkungan sekolah adalah pembuatan eco-enzyme. Metode ini relatif mudah diterapkan karena tidak memerlukan lahan yang luas maupun teknologi yang kompleks sehingga sesuai untuk kegiatan edukasi pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.

 

 

Dewi mengatakan, kegiatan pelatihan ini dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan siswa MIN 2 Buleleng dalam mengolah sampah organik basah menjadi eco-enzyme.

“Metode pengolahan sampah organik berbasis eco-enzyme sangat tepat dilakukan pada lingkungan sekolah yang memiliki keterbatasan ruang terbuka hijau, seperti MIN 2 Buleleng,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan pengelolaan sampah organik yang edukatif dan partisipatif melalui pembuatan eco-enzyme dapat mendukung implementasi Program Adiwiyata di lingkungan sekolah. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *