Ramadan Hijau Moderat dan Harmoni (RAHMAH) 2026

* Oleh Lewa Karma

IKHTIAR Pendidikan Islam Kementerian Agama Kabupaten Buleleng menghidupkan produktivitas madrasah dan sekolah. Ramadan bukan sekadar momentum spiritual, tetapi juga ruang pedagogis yang subur untuk menanamkan nilai, kreativitas, dan produktivitas.

Pada tahun 2026, Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama Kabupaten Buleleng kembali menghidupkan tradisi inovatif melalui Program Ramadan Hijau Moderat dan Harmonis (RAHMAH). Program ini menghadirkan rangkaian lomba dan tadarusan yang menyentuh seluruh jenjang: RA/TK, MI/SD/TPQ, MTs/SMP/Madin, MA/SMA/SMK/Pontren hingga Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK).

RAHMAH bukan program yang lahir tiba-tiba. Ia merupakan kelanjutan dari tradisi tahunan sejak 2021 bermula dari “Gembleng”, berlanjut “Fitrah”, “Ikrar”, dan kini “Rahmah” yang menegaskan kesinambungan visi moderasi beragama, penguatan ekoteologi Islam, dan produktivitas pendidikan selama bulan suci. Inilah wajah pendidikan Islam yang adaptif, kreatif, dan relevan dengan tantangan zaman.

Secara teologis, Ramadan adalah madrasah ruhani. Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa adalah la‘allakum tattaqun (QS. Al-Baqarah: 183) membangun kesadaran moral dan spiritual. Pendidikan Islam memanfaatkan momentum ini sebagai hidden curriculum untuk pembentukan karakter.

Pakar pendidikan Islam, Azyumardi Azra, menegaskan bahwa madrasah dan lembaga pendidikan Islam harus menjadi pusat moderasi dan transformasi sosial. Moderasi (wasathiyah) bukan hanya konsep teologis, tetapi praksis sosial yang menumbuhkan toleransi, keseimbangan, dan kepedulian ekologis.

Program RAHMAH 2026 menerjemahkan nilai tersebut secara konkret melalui pendekatan kreatif:

1. Lomba menyanyi lagu moderasi (RA/TK),
2. Lomba menceritakan gambar bertema ekoteologi (MI/SD/TPQ),
3. Lomba poster ekoteologis (MTs/SMP/Madin),
4. Lomba kampanye moderasi dan ekoteologi (MA/SMA/Pontren), dan
Tadarusan untuk GTK di semua jenjang.

Pendekatan ini selaras dengan teori experiential learning David Kolb, bahwa pembelajaran efektif terjadi melalui pengalaman langsung, refleksi, dan ekspresi kreatif.

Kementerian Agama RI sejak 2019 mengarusutamakan Moderasi Beragama sebagai kebijakan strategis nasional. Empat indikator utama komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal menjadi fondasi pembelajaran di madrasah.

Di sisi lain, isu krisis lingkungan menjadi tantangan global. Data UNEP menunjukkan dunia kehilangan jutaan hektar hutan setiap tahun, sementara Indonesia menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Dalam perspektif Islam, manusia adalah khalifah fil ardh (QS. Al-Baqarah: 30), penjaga bumi.

Konsep ekoteologi Islam menekankan bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah. Seyyed Hossein Nasr, filsuf Muslim kontemporer, menyatakan bahwa krisis ekologis modern berakar pada krisis spiritual manusia. Maka pendidikan berbasis ekoteologi adalah upaya menyelaraskan kembali relasi manusia, alam, dan Tuhan.

RAHMAH 2026 memadukan dua arus besar, yaitu moderasi dan ekologi. Anak-anak RA/TK belajar lagu moderasi dengan riang; siswa MI/SD menarasikan gambar alam hijau sebagai amanah Ilahi; remaja MTs dan MA mengartikulasikan gagasan ekologis melalui poster dan kampanye digital. Ini bukan sekadar lomba, tetapi proses internalisasi nilai.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa aktivitas kreatif selama bulan Ramadan dapat meningkatkan motivasi intrinsik siswa. Studi psikologi pendidikan (Ryan & Deci, Self-Determination Theory) menunjukkan bahwa ketika siswa diberi ruang otonomi dan kreativitas, mereka lebih produktif dan bersemangat.

Di Indonesia, data Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa program berbasis proyek (project-based learning) mampu meningkatkan partisipasi siswa hingga 30% lebih tinggi dibanding metode ceramah biasa. Lomba-lomba RAHMAH mengadopsi pendekatan berbasis proyek siswa menghasilkan karya nyata, bukan sekadar teori.

Bagi GTK, kegiatan tadarusan lintas jenjang memperkuat spiritual bonding dan budaya literasi Al-Qur’an. Penelitian menunjukkan bahwa rutinitas spiritual kolektif dapat meningkatkan kohesi sosial dan kepuasan kerja tenaga pendidik.

Program ini dipandu oleh Juknis (Petunjuk Teknis) yang jelas, berada di bawah pengawasan panitia dan juri independen profesional. Tata kelola ini penting dalam perspektif kebijakan publik agar akuntabel dan transparan.

Hasil lomba diumumkan pada malam takbiran momentum simbolik yang sarat makna kemenangan spiritual. Seluruh karya dipublikasikan melalui media sosial resmi Kementerian Agama Kabupaten Buleleng sebagai bentuk layanan informasi publik dan apresiasi terhadap kreativitas siswa.

Digitalisasi publikasi ini juga mencerminkan adaptasi era disrupsi bahwa karya siswa madrasah mampu tampil di ruang publik digital secara positif.

Program RAHMAH memiliki dampak multidimensional:

1. Penguatan Spiritualitas. Tadarusan kolektif menghidupkan ruh Ramadan. Guru dan siswa tidak hanya berlomba, tetapi juga bertafakur.
2. Kreativitas dan Inovasi. Lomba poster, kampanye, dan lagu menumbuhkan literasi visual, literasi digital, dan komunikasi publik.
3. Budaya Ekoteologi. Kesadaran menjaga lingkungan menjadi budaya sekolah. Nilai hijau tidak berhenti pada slogan, tetapi diwujudkan dalam karya.
4. Moderasi Beragama Sejak Dini. Anak-anak belajar bahwa Islam adalah agama Rahmah, ramah, damai, dan menebar keberkahan.

Ramadan adalah bulan harmoni. Puasa mengajarkan pengendalian diri, zakat menumbuhkan solidaritas, ibadah malam mendekatkan diri pada Tuhan. RAHMAH memperluas makna ini ke ranah sosial-ekologis.

Momentum Ramadan menjadi energi kolektif untuk memacu semangat ibadah, menguatkan etos belajar, menghidupkan kreativitas, dan menjaga bumi tetap hijau.

Dalam bahasa teologi, ini adalah upaya menyelaraskan hablun minallah (relasi dengan Tuhan), hablun minannas (relasi dengan manusia), dan hablun minal ‘alam (relasi dengan alam).

Program Ramadan Hijau Moderat dan Harmonis (RAHMAH) 2026 adalah contoh nyata bagaimana pendidikan Islam di daerah mampu menelorkan inovasi yang produktif, dan relevan dengan tantangan global. Melalui lomba kreatif dan tadarusan kolektif, Seksi Pendis Kementerian Agama Kabupaten Buleleng tidak hanya menyemarakkan Ramadan, tetapi juga membangun generasi moderat, ekologis, dan berdaya saing.

Ramadan bukan bulan berhenti berkarya, melainkan bulan melipatgandakan makna. RAHMAH 2026 menunjukkan bahwa madrasah dan sekolah dapat menjadi pusat harmoni antara iman dan ilmu, kreativitas dan spiritualitas, manusia dan semesta. Semoga dari Buleleng lahir inspirasi nasional bahwa Ramadan yang berkah adalah Ramadan yang produktif, moderat, dan hijau. []

*) Penulis adalah Kasi Pendis Kemenag Buleleng,Mahasiswa Program Doktoral Prodi IAK pada IMK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *