Berkah: Tiga Hari Raya dalam Satu Harmoni Kebangsaan

          * Oleh Lewa Karma

IMLEK menjelang awal Ramadan dan Nyepi di ujung Ramadan 2026 sebagai isyarat harmoni Bhinneka Tunggal Ika. Tahun 2026 menjadi momen istimewa dalam kalender kebangsaan Indonesia.

Di awal Ramadan, umat Muslim memasuki bulan suci yang penuh refleksi dan pengendalian diri. Pada saat yang berdekatan, masyarakat Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek dan di penghujung Ramadan, umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi.

Bertemunya tiga perayaan besar Imlek, Ramadan dan Idul Fitri serta Nyepi dalam satu rentang waktu menghadirkan pesan simbolik yang kuat tentang kebinekaan Indonesia.

Dalam konteks ini, semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan historis, melainkan realitas sosial yang hidup. Indonesia sebagai negara dengan lebih dari 270 juta jiwa, 1.300 lebih kelompok etnis, serta enam agama yang diakui negara, telah lama menjadi “periuk besar” keberagaman.

Momentum tiga hari raya ini mempertegas bahwa kemajemukan bukan ancaman, melainkan berkah yang meneguhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tahun Baru Imlek dirayakan oleh komunitas Tionghoa di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Secara historis, perayaan Imlek di Indonesia pernah mengalami pembatasan pada era Orde Baru, hingga akhirnya direstorasi sebagai hari libur nasional pada masa Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 2000. Kebijakan ini menjadi tonggak penting pengakuan hak budaya dan agama warga Tionghoa sebagai bagian integral bangsa.

Imlek sarat makna filosofis: pembaruan, rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, dan penguatan solidaritas keluarga. Tradisi berbagi angpao, makan bersama, serta doa di klenteng mencerminkan nilai harmoni dan keberkahan. Sosiolog agama seperti Peter L. Berger menekankan bahwa ritual keagamaan memperkuat kohesi sosial karena membangun solidaritas simbolik dalam komunitas.

Data menunjukkan bahwa kontribusi ekonomi perayaan Imlek juga signifikan. Sektor perdagangan, pariwisata, dan UMKM meningkat tajam menjelang dan saat Imlek. Studi Bank Indonesia pada perayaan besar keagamaan menunjukkan adanya peningkatan konsumsi domestik yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi regional.

Ramadan, bulan kesembilan dalam kalender Hijriah, adalah momentum penguatan spiritual umat Islam. Berdasarkan data Kementerian Agama, lebih dari 87% penduduk Indonesia beragama Islam, sehingga Ramadan memiliki dampak sosial yang luas. Namun Ramadan tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga sosial: zakat, infak, dan sedekah meningkat signifikan setiap tahun.

Laporan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menunjukkan bahwa penghimpunan zakat dan infak nasional mengalami peningkatan signifikan selama Ramadan. Ini menunjukkan bahwa bulan suci menjadi motor solidaritas sosial.

Pemikir Muslim Indonesia Nurcholish Madjid menegaskan bahwa Islam Indonesia memiliki karakter inklusif dan terbuka. Ramadan di Indonesia sering diwarnai tradisi buka puasa bersama lintas agama dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Ini memperlihatkan bahwa spiritualitas Islam di Indonesia berjalan beriringan dengan toleransi.

Ketika Ramadan bertemu dengan Imlek, masyarakat belajar untuk saling menghormati ruang ibadah dan ekspresi budaya. Di banyak kota, ucapan selamat lintas agama menjadi praktik sosial yang memperkuat persaudaraan kebangsaan.

Di penghujung Ramadan 2026, umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi sebagai hari suci yang ditandai dengan Catur Brata Penyepian, yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang). Nyepi memiliki pesan universal tentang introspeksi dan harmoni dengan alam.

Di Bali, dampak Nyepi terhadap lingkungan sangat nyata: penelitian menunjukkan bahwa tingkat polusi udara turun signifikan selama hari Nyepi karena aktivitas transportasi berhenti total. Data satelit NASA dalam beberapa tahun terakhir mencatat penurunan emisi karbon di wilayah Bali saat Nyepi.

Filsuf Hindu modern seperti Raimon Panikkar menyebut keheningan sebagai sarana rekonsiliasi antara manusia dan kosmos. Dalam konteks kebangsaan, Nyepi mengajarkan pentingnya jeda dan refleksi kolektif.

Ketika Nyepi hadir di ujung Ramadan, terdapat resonansi makna dimana keduanya menekankan pengendalian diri dan kesadaran spiritual. Ini menjadi simbol bahwa agama-agama besar di Indonesia memiliki irisan nilai yang saling menguatkan.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika berasal dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14. Frasa lengkapnya berbunyi, “Bhinna ika tunggal ika, tan hana dharma mangrwa”—berbeda-beda tetapi satu jua, tak ada kebenaran yang mendua.

Secara konstitusional, Pasal 29 UUD 1945 menegaskan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing. Prinsip ini menjadi fondasi pluralisme Indonesia.

Ahli politik Indonesia Yudi Latif menyatakan bahwa Pancasila adalah “rumah bersama” yang memungkinkan keragaman hidup berdampingan dalam satu kesatuan. Pertemuan tiga hari raya dalam satu momentum menunjukkan bagaimana rumah bersama itu bekerja dalam praktik.

Dampak sosial dan ekonomi dari tiga perayaan itu pun menjadi sebuah efek positif pembangunan nasional yang positif.

Penguatan Toleransi Sosial

Survei LSI dan Setara Institute menunjukkan bahwa tingkat toleransi masyarakat Indonesia relatif tinggi meski masih menghadapi tantangan. Momentum perayaan lintas agama yang berdekatan menjadi ruang dialog sosial yang memperkuat kohesi.

Dinamika Ekonomi

Ramadan mendorong peningkatan konsumsi makanan, busana, dan pariwisata religi. Imlek meningkatkan aktivitas perdagangan dan wisata budaya. Nyepi, meski bersifat hening, justru meningkatkan daya tarik wisata spiritual Bali secara global. Kombinasi ketiganya memberikan efek ekonomi berlapis.

Penguatan Identitas Nasional

Ketika masyarakat saling memberi ucapan dan menghormati ritual masing-masing, identitas kebangsaan diperkuat di atas identitas sektoral.

Bertemunya Imlek, Ramadan, dan Nyepi bukan sekadar kebetulan kalender, tetapi simbol kuat kebersamaan Indonesia. Dalam perspektif sosiologi Émile Durkheim, ritual kolektif memperkuat solidaritas mekanik dan organik dalam masyarakat. Di Indonesia, ritual yang berbeda justru saling menguatkan karena berada dalam bingkai NKRI.

Ketiganya membawa pesan serupa, dimana Imlek membawakan harapan dan pembaruan. Berikutnya Ramadan menghadirkan kesucian dan solidaritas sementara Nyepi mendorong refleksi dan harmoni. Nilai-nilai ini selaras dengan cita-cita bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur.

Indonesia tidak dibangun atas keseragaman, tetapi atas kesepakatan untuk hidup bersama dalam keberagaman. Bertemunya tiga hari raya besar pada 2026 menjadi pengingat bahwa pluralitas adalah anugerah yang harus dirawat.

Di tengah dinamika global dan tantangan intoleransi, masyarakat Indonesia memiliki warisan budaya dialogis yang kuat. Imlek, Ramadan, dan Nyepi menjadi simbol bahwa NKRI berdiri kokoh karena rakyatnya menghargai perbedaan sebagai rahmat.

Berkah terbesar dari pertemuan tiga hari raya ini bukan hanya pada aspek spiritual atau ekonomi, melainkan pada tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa persatuan adalah fondasi masa depan bangsa. Dalam kebhinekaan yang dirajut oleh iman dan budaya, Indonesia terus melangkah sebagai negara majemuk yang berdaulat dan bermartabat di bawah naungan Ketuhanan Yang Maha Esa. []

*) Penulis adalah Kasi Pendis Kemenag Buleleng,Mahasiswa Program Doktoral Prodi IAK pada IMK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *