11 Tahun Dedikasi Yayasan Seni Wahyu Semara Shanti: Menjunjung Kemanusiaan dalam Bingkai Budaya

BULELENG – Yayasan Seni Wahyu Semara Shanti (WSS) merayakan hari jadinya yang ke-11 dengan cara yang khidmat dan menyentuh. Berbeda dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini yayasan yang berlokasi di Desa Tukadmungga ini lebih memfokuskan diri pada aksi kemanusiaan melalui bakti sosial yang melibatkan masyarakat sekitar.

“Esensi bakti sosial “Vasudeva Kutumbakam mengusung tema kita semua bersaudara”. Alasan utama di balik pemilihan kegiatan bakti sosial adalah keinginan founder dan pengurus untuk menjadikan seni sebagai media pemersatu dan pengabdian nyata,” ujar Kadek Angga Wahyu Pradana selaku pemilik yayasan WSS dikonfirmasi, Minggu (15/2/2026).

Ditambahkan oleh Angga yang juga sebagai pemuda pelopor bidang seni ini bahwasannya yayasan WSS ingin membuktikan bahwa keberhasilan sebuah sanggar seni tidak hanya diukur dari prestasi di atas panggung, namun dari seberapa besar manfaat kehadirannya bagi lingkungan sekitar.

“Kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan pada 13 Februari 2026 lalu menyasar warga di sekitar lingkungan yayasan. Sebanyak 100 paket tali kasih berupa sembako dan kebutuhan pokok disalurkan secara langsung kepada para lansia, anak-anak yatim/piatu didik sanggar, serta masyarakat kurang mampu,” imbuhnya.

Dituturkan oleh Kadek Angga, eksistensi Yayasan Wahyu Semara Shanti sejatinya telah berakar sejak tahun 1998. Berawal dari restu dan bimbingan ayahnya, Ketut Ardana, lembaga seni ini dikembangkan secara visioner setelah melalui perjalanan panjang dalam pelestarian seni kerawitan dan tari, yayasan ini akhirnya resmi memiliki legalitas formal pada tahun 2015.

“Inilah kemudian menjadi tonggak awal perayaan anniversary hingga mencapai tahun ke-11 pada Februari 2026 ini. Prinsip kemandirian dan mental yang tangguh akan terus menguatkan kami,” ungkapnya.

Pihaknya berharap Yayasan Seni Wahyu Semara Shanti dapat terus tumbuh menjadi pusat kebudayaan yang inklusif di Buleleng. Harapan besar yayasan adalah terciptanya iklim berkesenian yang sehat, di mana setiap sanggar dapat saling merangkul tanpa merasa terancam satu sama lain.

“WSS berkomitmen untuk terus mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara estetika, tetapi juga memiliki empati sosial yang tinggi, laksana bunga yang menyebarkan keharuman bagi siapa saja yang ada di sekelilingnya,” pungkasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *