BULELENG – Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, mengajak jajaran Muhammadiyah berkolaborasi membangun generasi masa depan yang berkarakter. Hal itu disampaikan saat menghadiri Milad ke-113 Muhammadiyah yang dilaksanakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buleleng, di Laksmi Graha Singaraja, Minggu (7/12/2025).
“Bersama Muhammadiyah dan seluruh elemen masyarakat, mari kita bergandengan tangan membangun generasi muda yang tangguh, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan,” kata Wabup Supriatna membacakan sambutan Bupati.
Wabup Supit –demikian sapaan akrabnya– mengajak warga Muhammadiyah menjadikan momentum Milad ke-113 untuk memperkokoh persatuan, memperkuat kolaborasi dan menumbuhkan optimisme menghadapi tantangan zaman.
Menurut Wabup Supit, lebih dari satu abad, Muhammadiyah telah menjadi bagian penting dri denyut nadi bangsa. “Melalui kiprahnya di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat, Muhammadiyah telah menunjukkan komitmen yang konsisten dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga memberi manfaat luas bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang,” ujarnya.
Wabup Supit mengaku sangat terkesan dan menghargai apa yang menjadi gerakan Muhammadiyah. “Muhammadiyah ini merupakan organisasi besar yang sangat konsisten dalam berbagai bidang untuk kebaikan bangsa ini. Khususnya saya sangat terkesan gerakan Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, yang selama ini sangat berkontribusi besar buat kemajuan masyarakat di Buleleng,” tambahnya.
Ia berpesan agar warga Muhammadiyah tetap konsisten dalam gerakan sosial yang selama ini sudah menjadi basic yang dilakukan Muhammadiyah, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan.
Sementara Ketua PD Muhammadiyah Buleleng, H. Moh. Ali Susanto, dalam pidato refleksinya menjelaskan bahwa Muhammadiyah Buleleng berdiri resmi pada tahun 1939, yakni sebelum Indonesia merdeka.
Ia mengajak warga Muhammadiyah untuk terus berkiprah dan tak lupa merefleksi diri atas apa yang dibuat selama ini. Warga Muhammadiyah harus terus bersemangat menghidup-hidupi Muhammadiyah.
“Semangat menghidupi-hidupi Muhammadiyah secara mendasar perlu diawali dengan cara berpikir besar dan berjiwa besar. Makna berpikir adalah kesadaran dan keinginan membaca pesan ilahi, memahami alur dan mencari hikmah di setiap kejadian,” katanya.
Makna berjiwa harus dimaknai sebagai beragama yang harus progresif, dinamis dan selalu inovatif dengan terus beradaptasi dengan hal baru. Adapun besar dalam makna pikiran dan jiwa adalah selalu mau bertumbuh, berkembang, siap dikoreksi, dikritik dan mengkritik, serta selalu siap berbagi ilmu dan amal kemajuan dalam bentuk nyata.
“Di sinilah pentingnya membuka mindset dalam mengidentifikasi diri dan organisasi tentang hambatan utama. Seperti rasa tidak percaya diri, ragu, labil, mudah rapuh, merasa lemah, pesimis, sampai sikap-sikap reaksioner. Inilah yang paling awal harus dilawan dan segera diatasi,” katanya.
Menurutnya, senjata utama untuk menghalau mental-mental penghalang itu yakni dengan menguatkan iman dan takwa sebagai pondasi.
Selain itu, H. Ali Susanto juga mengajak warga Muhammadiyah untuk memperkuat kesadaran kolektif. “Kita harus menumbuhkan jiwa kebersamaan diantara kita dalam merawat Muhammadiyah ke depan. Piranti utama yang harus dijaga bukan hanya kebersamaan tetapi jiwa jembar, jiwa menerima masukan, sekaligus keikhlasan untuk bekerja sama secara internal dan eksternal,” tandasnya.
Selain dihadiri Wabup Supriatna, Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah dihadiri jajaran Forkompimda Buleleng, pimpinan ormas keagamaan, serta tokoh dan sesepuh Muhammadiyah, dan warga Muhammadiyah Buleleng.
Serangkaian pelaksanaan Milad ke-113, PD Muhammadiyah Buleleng sebelumnya juga menggelar sejumlah acara seperti pelatihan dasar jurnalistik, diskusi sejarah Muhammadiyah Buleleng, Lomba Menggambar, Lomba Mendekorasi Aksara Bali, dan Lomba Bercerita Tokoh Muhammadiyah. (bs)

