BADUNG – Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menjalin kerjasama seni dan budaya dengan Paguyuban Kawulo Karaton Surakarta Bali. Penandatanganan nota kesepahaman antara ISI Bali dan Paguyuban Kawulo Karaton Surakarta Bali dilaksanakan di Cagar Budaya Pura Dalem Solo, Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, 15 September 2025.
Penandatangan kerjasama tersebut dilakukan oleh Rektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, dan Ketua Paguyuban Kawulo Karaton Surakarta (Pakasa) Bali, Raden Tumenggung Danang Susetiyawan Pagarsopuro.
Acara tersebut dihadiri oleh seluruh pengurus Pakasa Bali, para pengempon Pura Dalem Solo, pimpinan ISI Bali seperti Rektor Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, S.Sn., M.Sn, Warek 3 ISI Bali Prof. Dr. I Komang Sudirga, S.Sn., M.Si., tokoh budaya Romo Ainul Karim, Ibu Darmayanti sekeluarga, dan ada juga dari tokoh agama Budha Matreya.
Menurut Ketua Pakasa Bali, Raden Tumenggung Danang Susetiyawan Pagarsopuro, penandatanganan kerjasama seni dan budaya dengan ISI Bali dilaksanakan di Pura Dalem Solo Desa Sepang, Kecamatan Abiansemal karena beberapa alasan.
Dijelaskan, Cagar Budaya Desa Sedang dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung pernah menerbitkan berita dan dokumen resmi yang menyebutkan bahwa Pura Dalem Solo telah ditetapkan sebagai benda/situs cagar budaya. Disebutkan juga ukuran prasada dan benda-benda lain, yang melibatkan peneliti purbakala.
Lontar Tattwa Catur Bhumi, sumber utama tradisi lisan mengenai Pura Dalem Solo menyebutkan, keturunan dari Majapahit bernama Ida Ratu Sakti dan permaisurinya yang membangun “Puri Dalem Sala” di lokasi yang kemudian menjadi Pura Dalem Solo.
Di sana ada Prasada Dhalem Solo (bangunan tidak bergerak) dengan tinggi 6,5 meter, panjang 3,26 meter, lebar 3,06 meter. Bahan utamanya yakni bata dan batu padas (padas). Dibangun pada abad XIV Masehi.
Juga ada Fragmen Arca Perwujudan dengan tinggi 35 cm, bahan padas, sikap duduk (wirasana), atas lapik padma ganda; terdapat lubang di dada yang berfungsi sebagai pancuran. Namun sebagian tubuh dan kepala sudah aus/patah. Ini juga periodisasi abad XIV.
Sementara Arca Pancuran (Naga) berukuran kecil, bagian kepala naga, bahan batu padas; hiasan sulur-suluran daun dan bunga padma. Kondisi arca: bagian badan kolam tidak ikut, sebagian permukaan terendam air kolam.
Juga ada Batu Alam Megalitik. Betuknya tidak teratur (“megalitik”) dari batu andesit. Ukurannya 32 cm. Tersimpan di dalam jeroan pura.
“Karena terkait erat dengan Majapahit (Jawa) maka tercetuslah ide spontan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Bali Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, memilih Pura Dalem Solo sebagai tempat berlangsungnya acara tersebut,” jelas Raden Tumenggung Danang Susetiyawan.
Diharapkan, dengan kerjasama ini nantinya adanya pertukaran kesenian atau budaya Karaton Surakarto dengan Institut Seni Indonesia Bali, serta memberi wadah Paguyuban Kawulo Karaton Surakarta untuk bisa berkesenian di ISI Bali,” jelasnya. (bs)

