Bawaslu Hadirkan Legasi Srikandi: Menulis, Mengawasi, Menginspirasi

KUPANG – Bawaslu nampaknya serius ingin meninggalkan sebuah legasi dan pesan mendalam bagaimana perempuan mampu menjadi kesatria anggun di kancah Demokrasi, hal ini tersirat dalam buku “Srikandi Mengawasi : Kisah Perempuan Pengawas Pemilu dalam Mengawasi Pemilu 2024”.

“Bung Karno tetap menulis meski diasingkan. Gus Dur rajin menulis, karena membaca memperluas pengetahuan, sementara menulis memperdalam pengaruh. Menulis adalah perjuangan, dan semua orang bisa melakukannya asal ada kemauan.”

Pesan itu disampaikan Anggota Bawaslu RI, Lolly Suhenty, saat membuka acara bedah buku Srikandi Mengawasi di La Cove Beach Resto & Bar, Lasiana, Kupang, Jumat (12/9/2025).

Menurut Lolly, menulis bukan hanya kegiatan intelektual, melainkan cara membangun pengaruh dan meninggalkan jejak perjuangan. Karena itu, ia mengapresiasi para perempuan pengawas pemilu yang berani menuliskan kisahnya dalam buku tersebut.

“Pemimpin bangsa telah memberi teladan. Menulis adalah sesuatu yang harus dilakukan, dilatih, dan dibiasakan,” tegasnya.

Salah satu kisah yang menegaskan pesan Lolly adalah tulisan Ketut Ariyani, srikandi Bawaslu Bali. Ia tidak ingin dikenal sebagai pejabat yang hanya duduk di kursi, menandatangani dokumen, atau sesekali tampil di podium. Baginya, pengawasan pemilu berarti hadir langsung di lapangan, bahkan di medan yang paling sulit.

Ariyani menuliskan pengalamannya menembus pelosok desa, menapaki jalan licin, melewati semak belukar, hingga menemui warga dengan disabilitas mental yang dipasung. Semua itu demi memastikan hak pilih kelompok rentan tidak terabaikan.

“Demokrasi adalah milik semua orang, termasuk mereka yang suaranya selama ini tak terdengar. Inklusi bukan sekadar kata, melainkan tindakan nyata,” ucapnya saat berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan bedah buku tersebut.

Data yang ia catat menunjukkan, di Bali terdapat 15.979 pemilih penyandang disabilitas untuk Pilkada serentak 2024. Namun masih ada 2.524 orang yang belum masuk daftar. Angka itu mendorong Ariyani bergerak dari rumah ke rumah, memastikan suara mereka tetap mendapat tempat di bilik demokrasi.

“Tema dalam buku itu saya pilih sebagai bentuk teriakan bahwa ada masyarakat yang perlu lebih diperhatikan, baik secara fasilitasi dan akses saat mereka ingin menggunakan hak suaranya. Dan bahkan setelah buku ini ditulis pun, saya sempat menemui beberapa teman disabilitas yang mengatakan kesulitan dan rintangan mereka untuk hadir ke TPS. Ironi sebuah pesta demokrasi yang bahkan tak bisa mereka hadiri seorang diri,” tutur Ariyani.

Ariyani memiliki harapan, dengan buku ini semakin banyak pihak yang sadar bahwa inklusi tidak boleh berhenti pada tataran slogan. Menurutnya, kisah yang ia tulis hanyalah secuil dari kenyataan di lapangan, yang masih penuh hambatan bagi kelompok rentan dalam mengakses hak politiknya.

“Saya ingin tulisan ini menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak boleh abai. Pemilu harus memberi ruang, fasilitas, dan pendampingan bagi siapa pun, termasuk teman-teman disabilitas. Karena tanpa mereka, demokrasi kita pincang,” pungkasnya. (bs) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *