Menanti Hari Raya Ketiga

* Esai R. Azhari

 

SETIAP tahun masyarakat Islam seluruh dunia merayakan dua hari besar, yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Sebelum tanggal dan hari ditetapkan penganutnya telah mempersiapkan diri dalam suasana khusuk, sehingga akan terasa sebagai hari kemenangan dan pengorbanan.

Tidak jauh bedanya apa yang dilakukan masyarakat Islam di Kampung Loloan. Kedua hari raya itu dimaknai sama karena tertanam nilai-nilai keyakinan yang mendalam. Suasana kebatinan masyarakat terlihat sampai hari ketujuh. Setelah itu kehidupan berjalan seperti sediakala.

Berselang beberapa bulan kemudian menyusul hari besar lainnya, yakni Maulid Nabi Muhammad SAW. Jatuh pada tanggal 12 bulan Rabiul Awal (kalender Islam).

Sekalipun ada sebagian tidak memperingati, namun sangat berbeda bagi umat Islam di Kampung Loloan dan tetangga desa-desa sekitarnya. Karena itu jangan mengatakan ‘tidak’ atau mengabaikan ketika peringatan ini harus diselenggarakan.

Ada makna lebih dari sekadar perhelatan saat mengagumi seorang tokoh utusan Sang Pencipta yang diharapkan dapat bertemu dan memberikan pertolongan (syafaat) kelak di alam akhirat.

Secara simbolik hari pertama peringatan ini dimulai dari masjid-masjid besar dan hari berikutnya dilanjutkan oleh masjid kecil, musholla, pesantren, kelompok masyarakat ataupun perorangan silih berganti selama sebulan.

Masyarakat sangat menanti kedatangan kalender tahunan itu dan tidak akan melewatkan puncak perhelatan, saling terlibat membahu menempatkan hari yang telah disepakati berlangsung sebagaimana mestinya.

Kekhasan peringatan ini yakni selalu berjejer hiasan kreatif dari telur yang dibentuk berbagai rupa dan setelah ritual berakhir, hiasan telur-telur itu dibagikan kepada undangan yang hadir.

Dipimpin seorang ulama, tokoh agama setempat, sambil mengucapkan Mahalul Qiyam serentak seluruh yang hadir berdiri mengikuti bacaan al Barzanji, berupa syair pujian tentang sosok seorang rasul pilihan Muhammad SAW. Tentang kisah perjalanan hidupnya semenjak lahir, tumbuh dewasa, dan menerima tugas kenabian.

Karena akhlaknya yang mulia, beliau dijuluki Al Amin, sampai menerima tugas sebagai rasul untuk menyebarkan ajaran Islam kepada semua umat manusia di muka bumi.

Iringan lantunan bacaan al Barzanji membuat suasana semakin hanyut dalam imajinasi mengagumi utusan Tuhan terhadap seorang anak yatim piatu yang telah merubah peradaban manusia kala itu dari kebodohan yang tidak mengenal batas kemanusiaan dan berhasil dalam kurun waktu relatif cepat melewati jaman, rintangan dan pengorbanan.

Dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu diselingi iringan gunting rambut bayi, beberapa orang tua yang sudah siap dengan bayinya menggendong sendiri berdiri antri memasuki ruangan menghampiri para tokoh tua untuk berkenan memotong beberapa helai ujung rambutnya.

Di saat bersamaan lantunan Asyrakal diikuti bersama oleh seluruh jamaah yang hadir sampai menunggu giliran bayi yang terakhir. Sangat nampak suka cita masyarakat selama prosesi berlangsung.

Sejak dahulu, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hanya diawali dari masjid besar, tetapi kemudian tingkat perubahan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat peringatan itu menyebar ke seluruh pelosok.

Momentum bulan itu dimanfaatkan pula oleh pribadi dan keluarga di rumah sendiri untuk menyelenggarakan hajatan seperti potong rambut bayi, aqiqah, khitanan bahkan pernikahan memenuhi hari-hari meriahnya peringatan sampai akhir bulan. []

*) Penulis adalah Pemerhati Budaya dari Loloan Timur

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *