* Catatan untuk Singaraja Literary Festival 2025
SEBUAH festival sastra yang menghidupkan kembali ‘ruh’ naskah-naskah kuno dihelat di kota tua Singaraja, Bali. Singaraja Literary Festival. Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Ahmad Mahendra, M.Tr.AP, menyebutnya sebagai festival sastra yang khas, dan satu-satunya di Indonesia yang menjadikan lontar (naskah kuno) sebagai tema.
Pada 2025 ini, Singaraja Literary Festival (SLF) memasuki tahun ketiga. SLF III Tahun 2025 ini mengusung tema “Buda Kecapi, Energi Penyembuhan Semesta”. Tema ini diambil dari nama lontar “Buda Kecapi”, naskah kuno yang kontennya tentang penyembuhan.
Tahun 2024 lalu, pada SLF II lontar yang dijadikan tema yakni lontar “Dharma Pemaculan atau Energi Ibu Bumi”. Sementara SLF I Tahun 2023 mengambil tema Gedong Kirtya. Perpustakaan lontar yang ada di Buleleng, yang menjadi pusat intelektualisme bangsa di era lampau.
Naskah-naskah lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya memuat setumpuk pengetahuan. Selama ini naskah-naskah kuno tersebut tersimpan sunyi di perpustakaan yang didirikan oleh dua orang Belanda, F.A. Liefrinck dan Dr. Van der Tuuk tersebut.
“Di Gedong Kirtya ribuan manuskrip lontar dan kertas disimpan, mengandung ilmu pengobatan, etika, hukum adat, hingga seni merias tubuh. Dengan SLF 2025, kami ingin Gedong Kirtya tidak lagi hanya menjadi museum pasif, melainkan panggung yang hidup,” ujar Pendiri dan Direktur Singaraja Literary Festival, Kadek Sonia Piscayanti.
Singaraja Literary Festival digagas oleh Kadek Sonia Piscayanti dan Made Adnyana Ole, dari Yayasan Mahima Indonesia yang memang bertujuan untuk menghidupkan, mendiskusikan, mementaskan, dan mengalih wahanakan kembali legacy bidang sastra dan intelektualisme masa lalu yang dimiliki kota Singaraja.
Festival ini mengambil nafas sastra karena itulah penggerak kebudayaan di masa lampau, yang menggerakkan masa kini dan nanti. Festival sebagai sebuah jembatan untuk menghidupkan ingatan soal kehidupan di masa lalu, sebagai sebuah cermin refleksi di masa kini.
“Singaraja memilih untuk kembali mendengar suara-suara lama. Suara yang tidak lantang, tapi dalam. Suara yang selama ini tersimpan dalam lembaran daun lontar, di rak-rak sunyi Gedong Kirtya. Lewat Singaraja Literary Festival, suara-suara itu dihidupkan, diterjemahkan, dan dirayakan dalam kemungkinan-kemungkinan baru yang penuh warna di tengah riuh era digital,” kata pendiri SLF lainnya, Made Adnyana Ole, penyair dan suami dari Sonia Piscayanti.
“Ini satu-satunya di Indonesia. Luar biasa. Singaraja luar biasa. Ini surga berikutnya menurut saya. Saya optimis yang namanya surga, apalagi tadi dikatakan Singaraja merupakan ibu kota Provinsi Sunda Kecil (di masa lampau, red), saya yakin ada saatnya nanti Singaraja akan berkibar dan menjadi inspirasi bagi Indonesia,” Dirjen Ahmad Mahendra, memberikan pujian saat membuka SLF III Tahun 2025, Jumat, 25 Juli 2025, di Gedung Sasana Budaya Singaraja.
SLF III Tahun 2025 menjadi momen penting dalam lanskap kesusastraan regional, nasional, bahkan internasional, karena menjembatani pengetahuan lama, pengetahuan kini dan masa depan, dengan praktik kesenian kontemporer. Tema “Buda Kecapi” yang bermakna energi penyembuhan semesta, menjadi kontekstual karena sastra memiliki kekuatan penyembuhan yang mendalam.
“Festival ini hendak membunyikan kembali harmoni antara sastra, kemanusiaan, dan penyembuhan—bukan hanya untuk pribadi, tapi juga bangsa,” tutur Adnyana Ole. Tema “Buda Kecapi” dipilih karena relevansinya dengan kondisi sosial bangsa ini saat ini. Ada luka, ada krisis identitas, ada kehilangan akar.
“Dan sastra, khususnya yang bersumber dari warisan lokal seperti lontar, bisa menjadi penawar,” tambah Sonia Piscayanti, sastrawan yang juga Dosen di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja ini.
Buda Kecapi adalah salah satu naskah kuno yang tersimpan di Gedong Kirtya. Dalam teks tersebut, tersimpan gagasan tentang kehidupan yang seimbang, relasi harmonis antara manusia dan semesta, serta nilai-nilai penyembuhan melalui seni dan kebijaksanaan lokal. ‘Ruh’ dari lontar tersebut tentu tak sekadar diarsipkan, namun dihidupkan kembali dalam bentuk yang bisa diterima generasi era ini. Teks lontar dialih-wahanakanmenjadi pertunjukan, karya sastra modern, bahkan film.
Maka selama tiga hari Singaraja Literary Festival 2025, 25–27 Juli 2025, berkumpullah penulis, peneliti, sastrawan, seniman, budayawan, dan publik dari berbagai daerah di Indonesia dan dunia. Mereka yang datang seperti Ratih Kumala, penulis novel Gadis Kretek, Dee Lestari, penulis Aroma Karsa dan Supernova, Henry Manampiring, penulis Filosofi Teras, Oka Rusmini, penyair dan novelis asal Bali, Ayu Laksmi, penyanyi dan pemain film, Andre Syahreza, penulis muda yang kritis terhadap isu lingkungan dan budaya urban, Esha Tegar Putra, pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 untuk puisi, Putu Fajar Arcana, penulis puisi, naskah drama, sutradara teater, sastrawan Aa Mansyur, Kiki Sulistyo, Willy Fahmi Agiska, dll.
Dari luar negeri Sanne Breimer (Belanda), jurnalis budaya yang banyak menulis tentang komunitas sastra Asia Tenggara; Inderjeet Mani (India), penulis dan peneliti yang fokus pada artificial intelligence dan narasi budaya; Sudeep Sen (India), penyair yang telah memiliki banyak penghargaan di dunia salah satunya The Wise Owl Literary Award 2025 untuk puisinya, “Anthropocene”; Lucy Marinelli (Italia-Australia), penyair dan penggerak komunitas penyair.
Sebanyak 60 program disiapkan untuk menyambut para penulis, peneliti, budayawan, akademisi, seniman, dan publik dari berbagai penjuru dunia tersebut. Mulai dari workshop membuat prasi – melukis pada lontar, penulisan kreatif, diskusi panel, peluncuran buku, pertunjukan teater, pameran seni rupa, pemutaran film pendek, hingga kolaborasi lintas komunitas. Semua program dirancang untuk memfasilitasi dialog antara tradisi dan inovasi.
Konten-konten baik dalam diskusi, workshop, pertunjukan, pameran seni rupa, peluncuran dan bedah buku, pemutaran film pendek semua mengacu ke tema Buda Kecapi. Tentang penyembuhan diri, sosial, lingkungan, dan bangsa. Penyembuhan semesta.
Maka penulis Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Chynta Hariadi misalnya mendiskusikan sastra dengan narasi sastrawan perempuan yang menyembuhkan. Perempuan secara alamiah adalah penyembuh bagi kehidupan di sekitarnya.
Diskusi buku Dee Lestari “Tanpa Rencana”, dan buku Valiant Budi Yod “Marah-marah Melulu” menggali pengalaman kedua penulis, bagaimana perjalanan batin mereka menghadapi diri sendiri, berjuang dan menjadi manusia baru.
Ayu Laksmi mementaskan teater autobiografis “Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri”. Sebuah kisah tentang diri Ayu Laksmi yang belum pernah diceritakan di manapun sebelumnya. Cerita tentang dirinya, kesunyiannya, lukanya, dan upaya-upaya penyembuhan diri yang dilakukan hingga ia bisa bangkit kembali.
“Indonesia sangat berterima kasih kepada Singaraja Literary Festival karena telah merawat dan menghidupkan pengetahuan dalam lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya ke dalam banyak alihawahana kesenian kontemporer,” kata Drijen Ahmad Mahendra.
Singaraja Literary Festival masih akan berlanjut. Bahkan, Sonia Pisyanti menyatakan, untuk 10 tahun ke depan, sudah disiapkan 10 lontar untuk dijadikan tema-tema SLF. ‘Ruh’ naskah-naskah harus terus dihidupkan. Pengetahuan-pengetahuan yang dimuat di dalamnya harus disebarkan. Untuk menyembuhkan manusia dan semesta. (yum)

