- Catatan dari “Tribute to Umbu” di Panggung Singaraja Literary Festival 2025
UMBU itu puitis. Puisi. Umbu itu sunyi. Sosok misterius. Umbu hidup di sudut paling sepi di ruang semesta. Jadi mitos.
Bagi sebagian (atau mungkin kebanyakan) orang, Umbu itu gelap. Setidaknya temaram. Seperti panggung di Sasana Budaya Singaraja, Sabtu (26/7/2025) malam itu. Panggung “Tribute to Umbu” Singaraja Literary Festival 2025.
Lampu panggung mati. Gelap. Lalu tambur terdengar. Di sayap panggung, muncul sosok perempuan (diperankan Yesi Candrika). Menyanyikan sebuah tembang. Dari sini, ‘jejak sunyi’ Umbu ditelusuri. Di panggung ini, sosok misterius Umbu dibuat terang. Setidaknya terbaca. Jejak sunyi jasadnya, dan petualangan karya-karya puisinya.
I
Tambur tua, ditabuh dewa
menujum sunyiku, di mulut kemarau
sirih pinang tembakau, membaun angin cendana
duh sarungkan pedangmu, dendam budak biru
gulung rokok lontar, kumurkan mantra pengantar
api pediangan menanti, siraman darah lelaki
II
Gong-gong purba, meningkah bertalu-talu
duh restu dewata, menjaring bulan buangan
lima perawan saringan, menghambur dalam arena
terjurai melindas bayang, kain dan selendang pilihan
tenunan datu, kayu dan batu
anyaman pelangi, menyambar-nyambar dukaku
III
Gemerincing giring-giring di kaki, mabuk berburu sorak sorai
bulu ayam di kepala meronta, surai kuda di jari melambai
melipat malam lupa berbusa, hai patah tambur buat rajamu
(hingga lepas urat-urat tangan), gong-gong nyaring dan tajamkan
(bahkan hingga putus napas tarian) mari…hanya kesepianku
panggang di bara cemara, sampai subuh berlinangan
embun, pijaran riap embun, yang meramu cintaku
IV
rawa-rawa, paya-paya, duka cintaku mengibas telaga senja
rawa-rawa, paya-paya, di punggung sunyi hariku busur cakrawala
rawa-rawa, paya-paya, baris cemara meriap gerimis nyawaku
rawa-rawa, paya-paya, pelaminan kemarau, nyanyi fana nyanyi baka
(1984)
Puisi berjudul “Ronggeng Sumba” dari Umbu Landu Paranggi itu dibacakan sastrawan, mantan Redaktur Budaya Harian Kompas, Putu Fajar Arcana. Sebagai titik awal penelusuran ‘jejak sunyi’ sosok Umbu, dan ‘petualangan’ puisi-puisinya. Can, demikian sapaan akrab Putu Fajar Arcana, mengadu dua pembedah, Wicaksono Adi dan Arif B. Prasetyo.
Can memberi pengantar dengan menjelaskan tentang Umbu. Kata dia, Umbu atau lengkapnya Umbu Wulang Landu Paranggi lahir di Sumba, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Ia merupakan bangsawan, putra seorang raja. Masa kecilnya dihabiskan di tanah kelahirannya Sumba. Setelah remaja, Umbu ke Yogyakarta.
Wicaksono Adi melihat puisi “Ronggeng Sumba” sebagai rahim kultural Umbu. Rahim kultural adalah tempat yang nyaman aman dalam keteduhan hijau, semacam firdaus ayem tentrem.
Sementara menurut Arif, dalam puisinya “Ronggeng Sumba”, Umbu memandang tanah kelahiran sebagai lanskap budaya. Kepergian darinya lebih dipahami sebagai persoalan budaya, bukan semata didasari tuntutan fisik atau alam. Maka kepergiannya bukan semata kepergian fisik melainkan penjelajahan budaya, alam pikir dan pergulatan batin.
Arif melihat, Umbu memandang tanah kelahirannya sebagai dunia lelaki. Puisi “Ronggeng Sumba” sarat dengan citra kejantanan, kemaskulinan, bahkan kemachoan: ronggeng Sumba adalah tarian laga/perang yang ditarikan laki-laki, ada ungkapan bernada maskulin seperti “api pediangan menanti, siraman darah lelaki”, atau tatapan lelaki seperti “lima perawan saringan, menghambur dalam arena”.
Menurutnya, kehidupan jantanlah yang memanggil Umbu untuk meninggalkan tanah kelahirannya secara lahir maupun batin, demi memenuhi panggilan jiwanya untuk menghikmati pengembaraan/petualangan hidup.
Tapi Adi kurang setuju dengan istilah jantan dan macho. Ia mengaku lebih nyaman dengan istilah maskulin sebagai pasangan feminin. Maskulin dapat merujuk pada alam terbuka yang keras, bukan firdaus ayem tentrem, sementara feminin merujuk pada Sumba sebagai ibu kultural. Maskulin juga terkait gairah petualangan.
Memang, kata Adi, Umbu cenderung melihat Sumba dalam gestur muram, tapi ternyata sekaligus seperti “Ronggeng” yang bergerak bebas di dunia tanpa sekat. Sumba yang tampak muram itu ternyata bukan dunia yang statis dan beku, tapi juga bentangan kultural yang dinamis sebagaimana sang ronggeng.
Lantas sastrawan yang juga sutradara dari “Tribute to Umbu”, Made Adnyana Ole, membacakan puisi Umbu “Percakapan Selat”;
Pantai berkabut di sini, makin berkisah dalam tatapan
sepi yang lalu dingin gumam terbantun di buritan
juluran lidah ombak di bawah kerjap mata, menggoda
di mana-mana, di mana-mana menghadang cakrawala
Laut bersuara di sisi, makin berbenturan dalam kenangan
rusuh yang sampai, gemas resah terhempas di haluan
pusaran angin di atas geladak, bersabung menderu
di mana-mana, di mana-mana, mengepung dendam rindu
Menggaris batas jaga dan mimpikah cakrawala itu
mengarungi perjalanan rahasia cintakah penumpang itu
namun membujuk jua langkah, pantai, mega, lalu burung-burung
Mungkin sedia yang masuk dalam sarang dendam rindu
saat langit luputkan cuaca dan laut siap pasang
saat pulau-pulau lengkap berbisik, saat haru mutlak biru
(1966)
Menurut Can, puisi “Percakapan Selat” merupakan gambaran bagaimana sang penyair memulai petualangan setelah meninggalkan rahim kulturalnya di Sumba. Suatu “penyeberangan”.
Bagi Arif, dalam puisi “Percakapan Selat”, Umbu membayangkan laut sebagai daerah perbatasan antara muasal/masa silam/kampung halaman yang ditinggalkan dan tujuan/masa depan/rantau yang dijelang.
Yesi Candrika disorot lampu. Ia lalu membaca sajak Umbu “Tiga Kuda”;
memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
menghadang senja
yang memanggil petualangan
kuda hitam yang mempersiang hari
yang memperasing diri
kumimpi berjalan punggung gelora
kusila-sila semadi
merogoh kata-kata puisi
dari kedalaman bulan sanggurdi
campur pasir, akar keringat, darah dan debu matahari
kuda putih yang meringkik dalam sajak-sajakku
merasuki basabisik kantong peluh rahasia
diam-diam kupacu terus ini binatang cinta
dengan cambuk tali anganan dari padang-padangku
kuda merah musim buru,
berapa kemarau maumu
jantung yang akan terbakar hangus
satu cambuk api lagi
peluki padang anak angin
dan batu gunungku purba
melulur bayang-bayang di pasir waktu:
rahasia cinta
memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
menghadang senja
yang memanggil petualangan…
(2018)
Menurut Arif, citra Sumba, tempat kelahiran Umbu, memang dekat dengan kuda. Namun, dalam perpuisian kita, sebelum Umbu sebenarnya ada puisi penyair lain yang menghubungkan pengembaraan/petualangan dengan kuda.
Rendra, misalnya. Dalam puisi “Ada Telegram Tiba Senja”, Rendra menulis: “Dulu ketika pamit mengembara/kuberi ia kuda bapanya/berwarna sawo muda/cepat larinya/jauh perginya”. Dan citra kuda yang “cepat larinya, jauh perginya” itu diulang-ulang untuk melukiskan si pengembara.
Adi menambahkan, dalam sajak “Kuda Putih” Sutardji Calzoum Bachri berucap: “kudaputih-kudaputihku/ kudaputih dariangin, kudaputih dari batu/ menderap dalam angin, berpacu lewat batu/ kudaputih bertarung waktu/ lewat padang batu”.
“Lantas bagaimana Umbu mengalami dan kemudian melihat perjalanan, pengembaraan atau petualangan itu?” Can menggali pendapat Arif dan Adi lagi.
Menurut Arif, khazanah puisi Umbu digelayuti nada muram dari kesunyian, kesendirian, keterpencilan, dan kemurungan yang mengiringi pengembaraan. Umbu tampaknya lebih dekat pada jejak Chairil Anwar yang mengidealkan pahlawan tragis Ahasveros yang dikutuk menjadi pengembara abadi.
Kata Arif, satu sumber penting dari kemuraman Umbu adalah kesadaran diri sebagai “si anak hilang” sekaligus Ahasveros yang tahu tidak akan pernah pulang. Puisi Umbu kerap menyuarakan kerinduan terhadap yang di rumah, tapi tidak ada keinginan atau harapan untuk pulang: kugenggam saja liuk debur kerinduan/mama, di kota pengaduan ada yang tak sabar menantiku (Sajak “Selat Sumba”).
Bagi Umbu, tambah Arif, mencintai tanah kelahiran bukan berarti pulang, melainkan sebaliknya justru pergi: “tambah jauh diri dari tanah kelahiran, tambah dalam cinta memberat di badan” (Sajak “Diri”).
Menurut Adi, Chairil Anwar memandang pengembaraan sebagai perjalanan tanpa akhir dan terkadang tampak suram tak terperi. Dalam sajak ”Buat Gadis Rasid”, ia tidak menggunakan istilah ”terbang”, suatu perjalanan untuk ”mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat – the only possible non-stop flight /Tidak mendapat”.
Dalam perjalanan itu kita tak dapat membayangkan tujuan akhir atau berilusi akan mendapatkan hasil akhir yang pasti. Yang ada hanyalah ”angin tajam kering, tanah semata gersang / pasir bangkit mentanduskan, daerah kosong”.
“Tampaknya pandangan Umbu tidak seekstrem itu. Dalam sajak “Tiga Kuda” Umbu menegaskan bahwa ia: ‘memburu fajar/yang mengusir bayang-bayangku/menghadang senja yang memanggil petualangan’,” Adi menjelaskan.
Can pun melanjutkan dengan pertanyaan, “Tapi apa gerangan medan pengembaraan atau penjelajahan atau petualangan yang ditempuh Umbu?”
Menurut Adi, medan laga atau wilayah pengembaraan Umbu adalah dunia kata, dunia puisi sebagai medan pergumulan tanpa akhir. Hal itu terungkap dalam puisi tentang Yogyakarta: “sapu dan lego dalam seni/di ibu kota kata sendi kata”.
Kadek Sonia Piscayanti, sastrawan, dosen, dan Direktur Singaraja Literary Festival membaca sajak Umbu “Tujuh Cemara”;
sisa sampah debu revolusi
sapu dan lego dalam seni
di ibu kota kata sendi kata
si tua muda yogyakarta
(yogya sudah lama kembali)
kembalilah ke yogyakarta
cemara tujuh denyar puisi
tujuh cemara
di jantung yogyakarta
barisan rindu dendam menghela anginmu
terjaring di kampus tua
tertanam cinta terdera
di surut hari mencari
debar puisi di hati
tujuh gelandangan
(buah asam malioboro)
memanggul gitar nembakkan syair lagu
mentari jalanan bulan lorong kumuh
antara kampung kampus, gubuk gedongan
singsing-singsing fajar lenganmu
prosesi tugu pasar alun-alun
bungkar pasang dada-dadamu
kang becak andong muatan perkasa
kilatan raut pasi berpeluh debu
ciumlah bumi yang nerbitkan sayangmu
nyelamlah lubuk urat nadi hayatmu
tujuh gunung seribu yogya
seribu tarian gang maliobioro
tujuh pikul daun pisang ibu beringharjo
(nasi bungkus pondokan selasa rabumu)
tumpukan hijau restu sanubari jelata
sujud bibir pecah ilham di siang malammu
tujuh cemara gelandang
tujuh gunung seribu saksi tak bisu
gelaran tak sunyi gusar gusur kaki lima
bentangkan duka cita langit sukma
manggang biji mata di kawah candradimuka
tak kau dengar keliling kidung sembilu
meronda dan menggedor mimpi-mimpi igaumu
(tak kau ingat peta rute juang gerilya
gercik darah tumpah meriba pertiwi)
di bawah jam kota tujuh pengemis tua
bertumpu seperti mendoakan kita semua
di bawah tapak sudirman kami mangkal malam-malam ini
sisa sampah debu revolusi
sapu dan lego dalam seni
di ibu kota kata sendi kata
si tua muda yogyakarta
(yogya sudah lama kembali)
kembalilah ke yogyakarta
cemara tujuh denyar puisi
tujuh cemara
di jantung yogyakarta
barisan rindu dendam menghela anginmu
terjaring di kampus tua
tertanam cinta terdera
di surut hari mencari
debar puisi di hati
Menurut Wicaksono Adi, pandangan Umbu tentang Yogyakarta tidak semuram penyair-penyair lain. Ia juga memandang Yogyakarta dalam gambaran yang kompleks, semacam “ibukota kata sendi kata” yang berlapis-lapis, sejarah tua, revolusi, percintaan anak muda di antara deretan cemara di kampus biru, rahasia dan rindu dendam, ada pula sang Jenderal Sudirman, biji asam Malioboro, dan sebagainya.
Yogya juga semacam medan pergolakan untuk pematangan diri: “ciumlah bumi yang nerbitkan sayangmu/ nyelamlah lubuk urat nadi hayatmu/ bentangkan duka cita langit sukma/ manggang biji mata/ di kawah candradimuka”.
Can menimpali bahwa itulah fase pembentukan dan mungkin pematangan diri sang penyair Umbu. Tampaknya hal itu terjadi di Yogyakarta: “bentangkan duka cita langit sukma/ manggang biji mata/ di kawah candradimuka”. Setelah itu sang penyair atau sang kuda melanjutkan pengembaraannya, dari Yogyakarta menyeberang ke Bali, setelh sejenak singgah di Bandung.
Dosen sastra di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, Dr. Made Sujaya, membaca sajak Umbu “Upacara XXXVII”;
lepaslah rahasia sebagai rahasia percakapan sunyi
lelehan debu
tegalan kalbu
rayau waluku
(jam-jam pasir di waktu air
dipukul air waktu pasir
nyawa kembara
di pohon raya
menala rindu
berkalam batu…)
peganglah rahasia sebagai rahasia percintaan sunyi
sedekah sesaji bumi
dewi sri sepanjang musim
bimasakti seruling jisim
semantra setungku mentari
(tuak-tuak waktu di jam sajak
dipukul sajak waktu tuak:
ombak mencapai pantai
gamelan sudah mulai
tanah lot bergelora
pura besakih purnama…)
dari kabut fajar sanur hingga megah senja kuta
bermalam siang tabuh gunung meru merasuki jiwa
di lambung kumbung lambang kedewataan bali dwipa
berbanjar peri candi melontar genta yang purba
di luar teratai
di dalam semadi
di luar kepala
di dalam semesta:
langit ilmu manusiawi
masuk keluar kamus sukmaku
bumi teknologi rohani
raung hutan hantu di lubuk tuhanku
samudera galaksi pribadi
membajak-bajak rawapaya payahku
rahasia seni puisi
bermuka-muka fanabakaku
(beruas-ruas bambu tuak
tuang-tuang tualang gelegak
bergaung parang perang tenggak ke puncak
menatah patah kata sajak:
di luar kepala
di dalam semesta
di luar teratai
di dalam semadi….)
Can mengorek ilmu Sujaya yang skripsinya tentang sajak-sajak Umbu. Bagaimana Umbu memandang Bali? Atau, bagaimana Umbu menemukan diri sekaligus memaknai Bali?
Sujaya menjelaskan, Umbu menghabiskan lebih dari separuh usianya di Bali, kurang lebih 43 tahun (1978—2021). Melalui halaman “Apresiasi” di Bali Post, kata dia, Umbu tidak hanya merangsang gairah kreatif anak-anak muda Bali untuk nyastra, tetapi juga tampaknya menyerap pandangan dan falsafah hidup Bali.
Sujaya melihat, pemahaman Umbu terhadap Bali sebagian kecil dituangkan dalam beberapa buah sajaknya yang secara eksplisit berbicara tentang Bali, namun sebagian besar lainnya disampaikannya secara lisan dalam berbagai kesempatan diskusi apresiasi sastra.
Sejauh ini, Sujaya menemukan 7 sajak Umbu yang merepresentasikan Bali, yakni “Upacara XXXVII” (1982), “Ni Reneng” (1984), “Syair Rajer Babat” (1992), “Dari Pura Tanah Lot” (1996), “Jagung Bakar Pantai Sanur” (1996), dan “Denpasar Selatan Dari Sebuah Lorong” (1997).
Menurutnya, “Upacara XXXVII” bisa dikatakan yang paling representatif menggambarkan pandangan Umbu tentang Bali. Kata-kata kunci dalam sajak ini berulang muncul dalam sajak-sajak Umbu lainnya tentang Bali. Yaitu upacara, mantra, purba, semadi.
Dalam periode Bali, jelas Sujaya, Umbu makin intens menggunakan kata upacara dalam sajak-sajaknya. Sajak-sajaknya tentang Bali masih mempertahankan kredo “ritual puisi”, puisi sebagai persembahan, seperti sejalan dengan falsafah hidup orang Bali bahwa seni, demikian pula sastra termasuk di dalamnya puisi, adalah sebentuk persembahan.
Puisi “Upacara XXXVII” merupakan semacam mantra, doa, atau liturgi puisi spiritual-modern, yang mengeksplorasi relasi antara manusia, alam, tradisi, dan semesta dalam konteks Bali sebagai ruang sakral sekaligus kultural. Penyair menyatukan elemen-elemen tradisi Bali (Dewi Sri, Besakih, tabuh, gamelan, banjar, pura) dengan kosmologi besar (galaksi, samudera, langit ilmu manusiawi), lalu meracik semuanya dalam bentuk puisi ritualistik-spiritualistik yang menyuarakan pentingnya percakapan ke dalam diri.
Di dalamnya tidak hanya terdapat permainan bunyi dan simbol, tapi sebuah doa puitik, puja sastra, yang membaurkan lokalitas Bali dengan spiritualitas universal.
Kata Sujaya, Bali dalam sajak-sajak Umbu adalah dunia magis yang tak mudah dipahami maknanya kecuali dengan kesediaan dan kesuntukan penjelajahan berlapis-lapis, menautkan dunia besar (makrokosmos) dengan dunia kecil (mikrokosmos) “di luar teratai, di dalam semadi, di luar kepala, di dalam semesta”.
Umbu juga menyerap falsafah dan konsep-konsep budaya Bali dalam menggerakan apresiasi sastra di Bali, seperti gradag-grudug (berkumpul bersama untuk mengerjakan sesuatu atau sekadar bercakap-cakap), susastra suluh nikang praba (sastra sebagai cahaya penerang), kawi-wiku, dll.
Sementara menurut Dosen Sastra Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa, Umbu kerap menyampaikan keterpesonaannya pada konsep-konsep sastrawan Ida Pedanda Made Sidemen, seperti karang awake tandurin (ditambahkan Umbu dengan kata aksara sehingga menjadi karang awake tandurin aksara (KATA), salampah laku (disingkat oleh Umbu menjadi salak).
Guna Yasa menjelaskan, Umbu adalah seorang sastrawan terbuka yang mencangkok berbagai sari pemikiran para sastrawan Bali yang sesuai dengan pandangan dunianya. Disadarinya atau tidak, ia sejatinya mempraktikkan konsep anurat asing gon ‘menulis di semua ruang’ dan menempatkan tanah Bali sebagai altar kesempatan untuk mayasa lacur ‘menjadikan kemiskinan material sebagai tapa’ untuk melahirkan berbagai karya sastra.
Menurutnya, dua konsep kepengarangan tersebut adalah istilah yang diambil dari karya Ida Pedanda Made Sidemen berjudul “Geguritan Salampah Laku”.
Terkait puisi “Upacara XXXVII” yang ditulis di Kedewatan, Ubud selama 5 bulan sejak bulan Agustus sampai Desember, kata dia, dalam banyak anasirnya, puisi ini seperti memotret suasana upacara yang membatin dalam laku hidup masyarakat Bali pada masa itu. Dalam riang, riuh, dan tabuh upacara yang digelar masyarakat Bali itu, ia seorang diri kemudian melakukan upacara di dalam diri.
Kata upa bermakna ‘dekat’ dan kata cara berarti ‘tata cara’. Dengan demikian upacara bermakna ‘tata cara untuk mendekat’. Meski pendekatan dapat dilakukan dengan siapa pun, umumnya upacara bertujuan untuk mendekatkan manusia dengan Sang Pencipta. Lantas, apa makna XXXVII? Boleh jadi, ini adalah hasil pengamatannya terhadap upacara yang ke XXXVII atau upacara ke XXXVII yang dilakoninya sendiri.
Kenapa manusia perlu mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta? Menurut Guna Yasa, sejumlah teks sastra Bali menyebutkan karena jiwa dengan Paramajiwa terpisah. Apa yang memisahkannya? Jawabannya: tubuh dengan berbagai elemen indrawinya.
Dalam teks-teks Tattwa, manusia dianalogikan seperti anak tawon yang menghadap ke bawah sehingga lupa pada hakikat yang ada di atasnya. Hakikat yang di atasnya ini adalah kesadaran dan keterhubungannya dengan Sang Khalik akibat tarikan dunia material.
Hubungan ini halus, tak kasat mata, dan berada dalam wilayah kesadaran. Oleh sebab itu, apabila esensi upacara sebagai cara mendekatkan diri dengan Sang Pencipta berhasil dilakukan: Umbu menyebutkannya dengan ungkapan berikut:
“lepaslah rahasia sebagai rahasia percakapan sunyi
lelehan debu
tegalan kalbu
rayau waluku“
Dari petikan ini, kata sunyi yang dalam bahasa Kawi disebut sunya itu mendapatkan pemaknaannya. Umbu melihat upacara sebagai laku bercakap dengan sunyi. Sunyi dalam hal ini tak semata-mata bermakna kehampaan, tetapi juga kepenuhan tertinggi. Berupacara adalah proses pelelehan debu kesadaran di tegalan kalbu. Di antara taburan kerlip bintang orisa.
Dikatakan, jika pada bait pertama puisi ini kita diajak melepaskan rahasia sebagai rahasia percakapan sunyi maka pada bait selanjutnya kita diajak untuk memegang rahasia sebagai rahasia percintaan sunyi yang termanifestasi dalam berbagai sarana persembahan untuk Dewi Sri sepanjang musim, termasuk gugusan galaksi Bima Sakti, dan pemujaan terhadap mentari dengan berbagai mantra.
“peganglah rahasia sebagai rahasia percintaan sunyi
sedekah sesaji bumi
dewi sri sepanjang musim
bimasakti seruling jisim
semantra setungku Mentari”
“Itulah wujud upacara yang dilakukan dengan berbagai sarana oleh masyarakat Bali dari sudut pandang Umbu. Tampaknya ia melihat upacara ini dilakukan di berbagai tempat seperti dari hilir laut Pura Tanah Lot hingga menapak hulu Pura Besakih.
Tak hanya itu, Umbu juga melihat upacara yang digelar masyarakat Bali tak terbatas oleh waktu. Ia membahasakannya dengan ungkapan “dari kabut fajar sanur hingga megah senja Kuta” sebagai bentuk ritus yang tak terbatas oleh waktu.
Umbu kemudian mendaraskan upacara yang sesungguhnya bermuara pada upacara di dalam diri. Dua kali dalam puisi Upacara XXXVII ini Umbu menyatakan:
“di luar teratai
di dalam semadi”
Guna Yasa menjelaskan, itu menunjukkan bahwa capaian upacara yang sesungguhnya tidak hanya keriuhan di luar diri, tapi keheningan di dalam samadi. Kata samadi yang digunakan Umbu dalam puisi ini mengacu pada capaian tertinggi dari ajaran yoga.
Kata yoga sendiri berasal dari akar kata yuj yang bermakna ‘menghubungkan’ maksudnya adalah menghubungkan jiwa dengan Paramajiwa. Di di titik ini, Umbu melihat Bali sebagai altar pelaksanaan upacara untuk memohon kedamaian semesta, sekaligus keheningan diri. Sebab, di dalam keheningan itulah Ia bertahta (ri heneng nikang ambek, mahening tibralit aho, lengit atisaya sunya, jnyana nirasraya wekasan).
Lalu, Can ingin mengakhiri diskusi di panggung malam itu. Kata dia, sebagaimana diketahui, terutama di kalangan sastrawan, khususnya di Bali, sosok Umbu sering dipahami sebagai mitos. Apapun pengertian istilah ini, orang mengenal Umbu sebagai mitos. Bagaimana memahami sosok ini sebagai mitos atau kenyataan? Can melempar pertanyaan.
Menurut Arif, Umbu adalah penyair dengan nama besar. Figur bernama besar pastilah diselubungi kharisma tertentu yang membuatnya tampak lebih besar daripada kenyataan, menjelma jadi semacam mitos.
Umbu masuk ke Bali sebagai sosok penyair kharismatik yang legendanya dibangun dan dilestarikan melalui beragam cerita oleh kalangan penulis muda di sekitarnya pada periode sebelumnya ketika ia tinggal di Yogya, beberapa di antaranya tumbuh menjadi nama kondang di kancah sastra Indonesia, misalnya Emha Ainun Nadjib.
Menurut Arif, di Bali, mitos Umbu berlanjut, digelindingkan oleh berbagai anekdot tentang dirinya yang terus dituturkan oleh lingkaran penulis Bali yang dekat dengannya. Mitos Umbu dipertebal oleh gaya kepribadiannya yang “misterius” (ia terkenal sulit ditemui, tempat tinggalnya tidak jelas, suka muncul di acara secara sembunyi-sembunyi, dsb.).
Juga diperhebat oleh kenyataan bahwa sebagai penyair ternama, Umbu seumur hidup tidak memiliki buku puisi sehingga karya-karyanya sulit diakses publik. Akibatnya, orang lebih banyak mengenal nama Umbu dan mendengar legendanya ketimbang membaca puisinya.
Kata dia, mitos Umbu, seperti halnya mitos Chairil Anwar, menenggelamkan Umbu dalam kelisanan yang membuat orang tidak terlalu memperhatikan puisinya (apalagi untuk menemukan puisinya dibutuhkan usaha ekstra). Namun, mitos Umbu sebagai penyair legendaris misterius ternyata bekerja efektif mendukung kiprah sosialnya di luar kerja individual menulis puisi, yaitu menghidupkan nyala api gairah bersastra di Bali.
Umbu sangat berhasil sebagai pencari bakat dan motivator yang selalu punya cara-cara unik untuk mendekati seseorang dan memperkenalkan kehidupan puisi. Ia tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih bergerilya ke berbagai pelosok Bali untuk menggerakkan kehidupan kesusastraan lewat kegiatan apresiasi puisi. Mitos Umbu terbukti bukan sekadar dongeng, melainkan kekuatan yang mampu membentuk kenyataan.
Adi menambahkan, Umbu merupakan sosok intelegensia organik, khususnya dalam lingkungan kaum literasi, para penyair. Ia bukan hanya sosok manusia historis yang berdarah daging tapi juga sosok yang tercipta dalam narasi, sosok ini sebagai diskursus. Mungkin secara fisik kita dapat membayangkan Umbu sebagai sosok yang berumah di angin, tapi sekaligus juga melampaui yang fisik itu dengan membangun rumah kata, dunia puisi.
Can pun menimpali. Kata dia, tadi telah disinggung pengembaraan dalam kepengarangan dalam konteks “Salampah Laku”. Juga telah kita lihat apa itu upacara. Apa itu mitos yang kemudian turut membentuk kenyataan. Setelah 40 tahun di Bali, sebelumnya di Yogyakarta selama kurang lebih 20 tahun. Ke mana sang penyair Umbu pulang? Jika memang konsep pulang itu dapat kita pakai di sini?
Can atawa Putu Fajar Arcana membaca sajak Umbu “Ibunda Tercinta”;
Perempuan tua itu senantiasa bernama:
duka derita dan senyum yang abadi
tertulis dan terbaca jelas kata-kata puisi
dari ujung rambut sampai telapak kakinya
Perempuan tua itu senantiasa bernama:
korban, terima kasih, restu dan ampunan
dengan tulus setia telah melahirkan
berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia
Perempuan tua itu senantiasa bernama:
cinta kasih sayang, tiga patah kata purba
di atas pundaknya setiap anak tegak berdiri
menjangkau bintang-bintang dengan hatinya dan janjinya
Menurut Arif B. Prasetyo, banyak puisi kita yang bertema ibu. Salah satunya yang relevan dengan puisi Umbu adalah puisi “Surat dari Ibu” Asrul Sani. Puisi ini memperdengarkan suara seorang ibu yang menyuruh anaknya pergi mengembara: “Pergi ke dunia luas, anakku sayang / pergi ke dunia bebas!… Pergi ke laut lepas, anakku sayang, pergi ke alam bebas!”
“Mungkin suara ibu simbolis inilah yang didengar Umbu sehingga pergi mengembara ke negeri puisi. Umbu termasuk penyair yang puisinya kerap berbicara tentang ibu, baik dalam puisi yang judulnya mengandung kata “ibu” maupun tidak,” kata Arif.
Ibu dalam puisi Umbu bisa dimaknai sebagai ibu simbolis seperti dalam sajak Asrul, tetapi bisa juga dibaca sebagai ibu fisik seperti dalam puisi “Selat Sumba” yang mencantumkan persembahan “kagem sungkem Inna Rambu Nai Jati tercinta”, ibunda sang penyair. Umbu jelas sangat mencintai ibunya.
Menurut Wicaksono Adi, jika di awal, pada sajak “Ronggeng Sumba” kampung halaman itu mengandung gambaran “rahim” dalam perspektif rumah kultural, maka sang Kuda Sumba yang telah jauh meninggalkan “rahim” asalnya, pada akhirnya pulang ke haribaan “Ibu”. Yakni “Ibu” sebagai sosok manusia maupun “Ibu” sebagai sosok simbolik, sebagai rumah puisi. Umbu telah kembali pada haribaan puisi itu sendiri. (yum)

