BULELENG – Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi meningkat statusnya menjadi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan (IMK). Peraturan Presiden (Presiden) tentang peningkatan status dari sekolah tinggi menjadi institut tersebut diterima Ketua STAHN Mpu Kuturan, Prof. Dr. I Gede Suwindia, di Jakarta, Selasa (27/5/2025).
Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA juga melantik Prof. Dr. I Gede Suwindia, menjadi ketua IMK yang nantinya secara otomatis dikukuhkan menjadi Rektor setelah Ortaker keluar.
Informasi tentang diterimanya Perpres peningkatan status STAHN Mpu Kuturan menjadi IMK tersebut disampaikan Wakil Ketua III STAHN Mpu Kuturan, Dr. Ida Bagus Wika Krishna, dalam momen pembinaan Tim Peed Aya (Pawai) Duta Buleleng untuk Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 di kampus setempat, Selasa (27/5/2025).
“Mohon izin Bapak-bapak Dewan Pembina, titiyang (saya, red) mewakili Bapak Rektor. Jadi saya menyebutnya Rektor sekarang. Rektor Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan. Beliau hari ini masih di Jakarta,” ujarnya.
Menurutnya, Prof. Dr. I Gede Suwindia ke Jakarta karena ada dua event penting yang harus diikuti. Pertama, Prof. Suwindia menerima Perpres terkait perubahan transformasi STAHN Mpu Kuturan menjadi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan yang nantinya disebut IMK. “Dan sekaligus pelantikan Rektor baru,” jelas Dr. Ida Bagus Wika Krishna.

Di hadapan mahasiswa yang juga ikut terlibat dalam Tim Pawai Duta Buleleng untuk PKB ke-47 tahun 2025, Dr. Wika Krishna bahwa perubahan status tersebut merupakan anugerah terindah. “Ini anugerah terindah. Kita bersyukur bahwa kampus kita sudah sah menjadi institut,” tandasnya.
Pernyataan Wakil Ketua III STAHN Mpu Kuturan tersebut disambut dosen, mahasiswa, termasuk Dewan Pembina Provinsi Bali, yakni I Gede Nala Antara dan Prof. Dr. I Wayan Dibia. Mereka menyampaikan ucapan selamat atas peningkatan status STAHN Mpu Kuturan menjadi institut.
“Saya menyampaikan selamat atas peningkatan status dari STAHN Mpu Kuturan menjadi Institut Agama Hindu Negeri. Ini pernah saya alami di ISI Denpasar tahun 2004 yang lalu. Di mana sebelumnya sekolah tinggi seni menjadi institut seni. Mudah-mudahan ada lembaga lain yang mengalami peningkatan status,” ujar Prof. Dibia.
Menurut mantan Rektor ISI Denpasar ini, keberadaan dari STAHN Mpu Kuturan atau Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan ini tentu sangat strategis dalam pelestarian seni dan budaya. Khususnya lembaga ini yang akan menjadi gawang pelestarian seni budaya Bali utara.
“Saya pribadi yang banyak berkecimpung dalam kesenian ini sangat menaruh harapan besar agar perguruan tinggi ini betul-betul bisa memainkan fungsinya, sehingga tidak ada lagi kekhawatiran kita akan tidak lestarinya seni dan budaya Bali utara yang menjadi salah satu sumber dan kekuatan seni dan budaya Bali. Mari kita tepuk tangan atas anugerah yang luar biasa ini,” tandas Prof. Dibia. (bs)

