BULELENG – Sebanyak 800 atlet Buleleng begitu antusias mengikuti tes fisik di GOR FOK Undiksha Jinengdalem, Selasa (8/4/2025). Para atlet harus mengikuti tes fisik untuk bisa dikirim alam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2025 yang rencananya digelar 9-19 September 2025.
Para atlet tersebut berasal dari 48 cabang olahraga. Mereka akan mengikuti tes fisik yang digelar KONI Buleleng selama dua hari 8-9 April 2025.
Ketua Umum KONI Buleleng, Ketut Wiratmaja, menyampaikan bahwa tes fisik ini merupakan salah satu langkah penting dalam proses seleksi atlet. Menurutnya, dengan tes fisik ini, pihaknya ingin memastikan bahwa atlet yang terpilih benar-benar memiliki kemampuan fisik yang optimal untuk bersaing di ajang Porprov Bali 2025.


“Setelah tes fisik ini akan dilanjutkan dengan tes psikologi. Hasil dari kedua tes ini akan menjadi bahan evaluasi sebelum menentukan atlet yang layak masuk dalam tim definitif Buleleng,” ujar Wiratmaja, yang juga wartawan ini.
Ia menjelaskan, dengan jargon meraih medali emas dan Buleleng juara, para atlet akan diseleksi dengan ketat. Menurutnya, tidak akan ada atlet ‘bodong’ yang bisa masuk tanpa rekam jejak prestasi.
“Kami tidak mencari medali sebanyak-banyaknya, tapi emas sebanyak-banyak. Sebab, emas satu bisa mengalahkan ribuan perak dan perunggu,” tegas Wiratmaja. Setelah dinyatakan lolos, nanti para atlet akan mengikuti pemusatan latihan yang akan digelar mulai Mei hingga September 2025.
Wakil Ketua II KONI Buleleng, Dr. dr. Made Budiawan, S.Ked., M.Kes., menyatakan, tes fisik dan psikologi harus dijalani atlet untuk memahami profil mereka secara menyeluruh, baik aspek biomotorik maupun mentalnya.


Menurutnya, komposisi fisik yang diuji meliputi kecepatan, kekuatan, daya tahan, kelenturan dan sebagainya. Sementara untuk tes psikologi lebih difokuskan kepada intelligence quotient dan coping stress mechanism. Kata dia, nantinya semua itu akan menjadi pertimbangan dalam membentuk strategi tim, terutama dalam cabang olahraga beregu.
Ditegaskan, tes hanya dilakukan satu kali, sehingga para atlet diminta menunjukkan performa terbaiknya. Kata dia, tes kali ini adalah do or die. Kalau gagal, maka selesai, tidak ada tes ulang.
Salah seorang atlet dari cabang olahraga renang, Arya, mengaku mematangkan persiapan diri sebelum tes seleksi ini berlangsung. Sedangkan atlet senam lantai berusia 10 tahun, Mera, mengaku telah menekuni senam lantai sejak 4 tahun silam dan pernah memenangkan juara kedua di event yang diikuti. (bs)

