BULELENG – Warga Muslim yang berada di sebuah desa tua di Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, yakni Pegayaman, melaksanakan Hari Raya Ketupat (Lebaran Ketupat), Senin (7/4/2025). Pusat kegiatannya dilaksanakan di Masjid Jamik Safinatussalam Pegayaman.
Menurut salah seorang pengurus Masjid Jamik Safinatussalam Pegayaman, Alman Rahadi, menuturkan, acara Lebaran Ketupat dimulai jam 05.30 Wita, setelah shalat subuh. Diawali dengan pembacaan Kitab Aqidatul Awam secara bersama-sama, dipimpin oleh Penghulu/Imam Desa Pegayaman, TGH Abdul Ghofar Ismail.
Setelah pembacaan kitab Aqidatul Awam secara bersama-sama, dilanjutkan dengan pembacaan doa yang juga dipimpin oleh Penghulu/Imam Desa Pegayaman.



“Acara diakhiri dengan ramah tamah sambil santap ketupat berkuah, masakan khas Desa Pegayaman, yang disebut gorengan, sejenis masakan bersantan seperti opor. Ditambah kelapa parut yang disangrai dan diberi pewarna kunyit,” jelas Alman, yang juga Kepala Madrasah Aliyah Miftahul Ulum Pegayaman ini.
Dijelaskan, makanan ketupat yang disajikan di Masjid Jamik Safinatussalam tersebut merupakan sedekah ibu-ibu warga Pegayaman sebagai ungkapan syukur. “Lebaran Ketupat ini merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan pada hari ke-8 bulan Syawal. Filosofinya, Lebaran Ketupat untuk mereka yang melanjutkan puasa sunnah 6 hari (tgl 2-7 Syawal) setelah Idul Fitri,” jelas Alman.
Dikatakan, walaupun saat ini sebagian besar warga memilih puasa sunnah Syawal setelah lewat Lebaran Ketupat, karena masih dalam suasana silaturahmi setelah Idul Fitri. Di mana dalam silaturahmi identik dengan suguhan dari tuan rumah.
“Jadi, saat ini puasa sunnah Syawal ditunda supaya silaturahmi dalam suasana santai dapat dilaksanakan tanpa perasaan kurang nyaman,” sambung Alman.
Sementara kitab Aqidatul Awam yang dibacakan bersama-sama merupakan kitab yang membahas tentang dasar-dasar keimanan atau ilmu tauhid. “Penghulu memimpin pembacaan kitab secara bersama-sama dengan warga. Langsung bahasa Arab-nya. Seperti yasinan. Tidk ada penjelasan, karena penjelasan diberikan di forum khusus. Sehingga pembacaan ini lebih kepada penguatan hafalan, di samping esensinya yang sudah dipahami masyarakat,” tegas Alman.



Pemerhati sejarah dari Desa Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto, menjelaskan, bacaan kitab Aqidatul Awam juga sering dibaca seusai sholat Jumat secara berjamaah. Makanya, kata dia, warga Pegayaman dari anak-anak sampai dewasa banyak yang hafal.
“Juga ketika mapag toye di acara subak juga dibacakan secara berjamaah sebagai ungkapan syukur atas rejeki di pertanian serta untuk tolak balak juga,” kata penulis buku “Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman” ini.
Suharto juga menambahkan, hidangan yang disuguhkan di Masjid Jamik Safinatussalam tersebut merupakan ketupat bekal dan ketupat lepas, dengan sejenis opor ayam. Bumbunya bumbu gorengan dengan daging, sayur, dan sambel nyuh (serondeng basah khas Pegayaman).
“Tipat bekal ukurannya lebih besar seperti yang sering kita lihat, dengan tujuan untuk rejeki sebagai bekal hidup. Dan ketupat lepas yang ukurannya kecil seukuran jajan bantal dan cara buatnya gampang. Yakni dengan menggabungkan janur seperti angka delapan yang berlawan dan terkait. Tujuannya secara filosofis agar terhindar dari bencana,” jelas Ketut Muhammad Suharto. (bs)
Foto-foto : dokumen Alman Rahadi dan Ketut Muhammad Suharto

