Sekolah Cacing Mulai Dilirik Beberapa Pihak

TABANAN – Sekitar 5-6 bulan “Sekolah Cacing” berjalan, para murid tidak ada yang merasa jemu, bahkan mereka semakin semangat belajar. Apalagi setelah mereka berhasil membuat cacing-cacing piaraannya bertelur, bahkan sebagian telurnya telah menetas sehingga media pemeliharaan terus ditambah.

Pada saat pertemuan menjelang pembukaan sekolah ini, hadir para tokoh masyarakat Candi Kuning, dan seorang mualaf asal Rusia, Dr. Abdurahman. Pada kesempatan itu, Dr. Abdurrahman mengatakan, “Saat ini mungkin banyak orang yang mencibir dengan gagasan Pak Guntoro untuk mendirikan SEKOLAH CACING. Tapi, saya optimis, sekitar 5 – 10 tahun mendatang, akan banyak orang yang datang ke sini untuk menawarkan kerjasama
karena ide mendirikan sekolah cacing ini adalah ide yang cerdas dan inovatif yg berorientasi pada masa depan”.

Apa yang disampaikan oleh Dr. Abdurrahman tidak meleset. Tidak perlu menunggu 5-10 tahun lagi, kini meski baru berjalan 6 bulan, beberapa pihak sudah mulai melirik Sekolah Cacing ini. Ada yang datang dari Denpasar, untuk menawarkan kerjasama pemasaran kompos Kascing (bekas cacing).

Ada pula beberapa pemilik restoran dari Ubud dan Nusa Dua, yang menawarkan kerjasama untuk memproduksi cabe organik, paprika serta berbagai sayuran organik dengan pupuk dari kascing.

Menanggapi hal tersebut, Suprio Guntoro, selaku pendiri Sekolah Cacing yang juga salah satu anggota Dewan Pakar ICMI Bali itu mengatakan, “Sesungguhnya, kami masih dalam tahap menyiapkan (mendidik) SDM. Mungkin setahun lagi baru melakukan komersialisasi (bisnis) budidaya cacing. Namun, dengan datangnya tawaran kerjasama, Guntoro menyarankan kepada Pengasuh Ponpes Al-Hidayah, agar tawaran kerjasama tersebut tidak diabaikan.”

Dia menyarankan, untuk penjualan kascing, sementara jangan dulu, karena kascing akan kita manfaatkan sendiri untuk pupuk. Kerjasama dengan pihak restoran Nusa Dua dan Ubud untuk mengembangkan cabe, paprika dan sayuran organik, bisa diterima dan direalisasikan.

Namun, SDM yang dilibatkan harus dibagi secara jelas. Yang berminat untuk mengembangkan cacing secara profesional, belajar terus, jangan diganggu. “Sedangkan yang berminat berbisnis sayuran organik, silakan dilibatkan dalam kerjasama dengan restoran-restoran atau hotel,” ujar Guntoro.

Menurut Dewan Pakar ICMI Bali ini, bagi muridnya yang berminat mengembangkan cacing secara profesional, akan diarahkan untuk kerjasama dengan perusahaan (industri) dari Jawa Timur, yang akan menjamin pasar seluruh produksinya. Disamping itu, bagi peternak cacing profesional nantinya juga bisa mengembangkan budidaya belut atau sidat di halaman-halaman rumah dengan pakan cacing.

“Sehingga hasil cacing, disamping dijual ke industri pakan udang, sebagian bisa dimanfaatkan untuk makan belut,” ujarnya.

Disamping itu, menurut Guntoro, sebagian murid yang berminat, akan dididik khusus untuk memproduksi pupuk organik super yang khusus untuk pupuk informatika. Beberapa jenis biofarmaka yang akan dikembangkan di Candi Kuning, menurut Guntoro, antara lain cabe Jawa (cabe puyang), kacang sacha, katuk, kelor dan kapulaga. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *