DENPASAR – Pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali 2024 diramaikan dengan janji para calon yang siap membawa perubahan bagi masyarakat Bali. Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur nomor urut 1, Made Muliawan Arya dan Putu Agus Suradnyana, atau yang dikenal dengan sebutan Mulia-PAS menjadi simbol harapan bagi banyak kalangan karena memiliki banyak program yang dinilai realistis dan bermanfaat bagi masyarakat banyak.
Salah satu program unggulan yang dicanangkan oleh Mulia-PAS adalah menggratiskan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Ini menjadi salah satu langkah strategis dalam menjawab tantangan pendidikan di Bali. De Gadjah, salah satu juru bicara paslon, menjelaskan bahwa program ini terinspirasi dari instruksi Presiden Terpilih Prabowo Subianto yang menginginkan semua generasi muda Bali mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak.
“Kalau Pak Prabowo menjanjikan makan siang gratis, kami SMA/SMK gratis biar adik-adik kita cerdas. Jadi, semua bisa sekolah, tidak ada yang tidak sekolah,” ungkap De Gadjah dalam suatu kesempatan.
Program ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua anak di Bali, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang baik.
Kebijakan ini diharapkan tidak hanya berlaku untuk sekolah negeri, tetapi juga memberikan subsidi bagi sekolah swasta, sehingga semua siswa, baik yang belajar di sekolah negeri maupun swasta, dapat menikmati pendidikan tanpa beban biaya.
De Gadjah menjelaskan lebih lanjut mengenai dukungan terhadap sekolah swasta. Dia menekankan bahwa program gratis ini akan mencakup pemberian subsidi untuk biaya pendidikan di sekolah swasta.
Misalnya, jika di Buleleng seorang siswa swasta harus membayar SPP sebesar Rp 200.000 per bulan, maka pemerintah akan menutupi biaya tersebut untuk memastikan bahwa siswa-siswa ini tidak terbebani oleh biaya pendidikan.
“SMA negeri gratis, untuk swastanya kan sama jumlahnya. Misalnya, contoh di Buleleng bayar SPP Rp 200 ribu per bulan yang anak swasta juga sama Rp 200 ribu. Kalau dia bayarnya Rp 300 ribu, ya Rp 200 ribu yang kami selesaikan untuk swasta,” tandasnya.
Lewat kebijakan ini, diharapkan akan tercipta keadilan dalam pendidikan di Bali, di mana setiap anak, terlepas dari latar belakang ekonomi orang tuanya, dapat mengakses pendidikan yang berkualitas.
Selain program pendidikan gratis untuk SMA dan SMK, Mulia-PAS juga berkomitmen untuk memberikan bantuan pendidikan kepada mahasiswa berprestasi.
Setiap enam bulan, mahasiswa dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang baik akan mendapatkan bantuan finansial.
Namun, bantuan ini akan diberikan dengan syarat tertentu, yakni mahasiswa harus mempertahankan IPK di atas standar yang ditetapkan.
“Tapi IPK-nya ada standarnya, apa 3,6 minimal atau berapa? (Untuk) semua KTP Bali,” ungkap De Gadjah. “Kalau IPK-nya turun atau di bawah yang ditentukan ya tidak diberikan bantuan,” tukasnya.
Program ini diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk belajar lebih giat dan berprestasi, sekaligus memberikan dukungan bagi mereka yang memiliki potensi untuk mengembangkan diri.
Dana yang akan digunakan untuk merealisasikan program-program pendidikan ini akan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi Bali serta dukungan dari pemerintah pusat.
Dengan demikian, harapan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Bali menjadi semakin realistis dan dapat terwujud dengan baik.
Dukungan masyarakat terhadap pasangan Mulia-PAS semakin menguat, dengan berbagai yel-yel yang mengungkapkan harapan dan semangat untuk melihat Bali yang lebih baik.
Yel-yel “ke bedugul meli benang ne gundul pasti menang” mencerminkan optimisme masyarakat bahwa dengan pemimpin yang tepat, Bali akan menuju arah yang lebih baik. (bs)

