DENPASAR – Gempa bumi dahsyat berpotensi terjadi di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Perbincangan tentang hal itu mengemuka kembali dan masyarakat diliputi rasa khawatir. Lantas bagaimana posisi Bali? Amankan Bali dari potensi terjadinya gempa bumi megathust tersebut?
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, Dr. I Made Rentin, mengutip rilis yang disampaikan Kepala BMKG Wilayah III Bali, Cahyo Nugroho, menjelaskan, posisi Bali relatif aman.
“Seperti disampaikan Kepala BMKG Wilayah III Bali dalam press release-nya bahwa secara umum Bali relatif aman dari potensi gempa megathrust. Berdasarkan pengamatan kegempaan di selatan Bali oleh BMKG, secara umum relatif aman dengan didominasi gempa bumi magnitudo 3 – 4 SR,” kata Dr. Rentin.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat Bali tidak panik, dan tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Meskipun begitu masyarakat juga diimbau tetap waspada.
Seperti diketahui, perbincangan tentang potensi gempa zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut mengemuka kembali di tengah masyarakat. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam rilisnya pernah menyampaikan, bahwa gempa di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut “Tinggal Menunggu Waktu”.
Dalam rilis lanjutannya, Daryono menegaskan, bahwa rilis “Gempa di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut “Tinggal Menunggu Waktu” tersebut bukanlah bentuk peringatan dini (warning) yang seolah-olah dalam waktu dekat akan segera terjadi gempa besar. “Tidak demikian,” tegasnya.
Menurutnya, pihaknya hanya mengingatkan kembali keberadaan Zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebagai sebuah potensi yang diduga oleh para ahli sebagai zona kekosongan gempa besar (seismic gap) yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. “Seismic gap ini memang harus kita waspadai karena dapat melepaskan energi gempa signifikan yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” katanya.
“Kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar, tetapi bukan berarti segera akan terjadi gempa dalam waktu dekat. Dikatakan “tinggal menunggu waktu” disebabkan karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah rilis gempa besar semua, sementara Selat Sunda dan Mentawai-Siberut hingga saat ini belum terjadi,” tambah Daryono.
Ia juga menjelaskan bahwa munculnya kembali pembahasan potensi gempa di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, tidak ada kaitannya secara langsung dengan peristiwa gempa kuat M 7,1 yang berpusat di Tunjaman Nankai dan mengguncang Prefektur Miyazaki Jepang pada 8 Agustus 2024 lalu.
Namun, menariknya, kata dia, gempa yang memicu tsunami kecil itu menciptakan kekhawatiran bagi para ilmuwan, pejabat negara dan publik di Jepang akan potensi terjadinya gempa dahsyat di Megathrust Nankai. “Peristiwa semacam ini menjadi momen yang tepat untuk mengingatkan kita di Indonesia akan potensi gempa di zona seismic gap Selat Sunda dan Mentawai-Siberut,” ujar Daryono.
Dipaparkan, sejarah mencatat, gempa besar terakhir di Tunjaman Nankai terjadi pada 1946 (usia seismic gap 78 tahun). Sedangkan gempa besar terakhir di Selat Sunda terjadi pada 1757 (usia seismic gap 267 tahun) dan gempa besar terakhir di Mentawai-Siberut terjadi pada 1797 (usia seismic gap 227 tahun). “Artinya kedua seismic gap kita periodisitasnya jauh lebih lama jika dibandingkan dengan seismic gap Nankai, sehingga mestinya kita jauh lebih serius dalam menyiapkan upaya-upaya mitigasinya,” kata Daryono.
Sebagai langkah antisipasi dan mitigasi, kata dia, BMKG sudah menyiapkan sistem monitoring, prosesing dan diseminasi informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami yang semakin cepat dan akurat. BMKG selama ini memberikan edukasi, pelatihan mitigasi, drill, evakuasi, berbasis pemodelan tsunami kepada pemerintah daerah, stakeholder, masyarakat, pelaku usaha pariwisata pantai, industri pantai dan infrastruktur kritis (pelabuhan dan bandara pantai) yang dikemas dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG), BMKG Goes To School (BGTS) dan Pembentukan Masyarakat Siaga tsunami (Tsunami Ready Community).
“Harapan kita, semoga upaya kita dalam memitigasi bencana gempa bumi dan tsunami dapat berhasil dengan dapat menekan sekecil mungkin risiko dampak bencana yang mungkin terjadi, bahkan hingga dapat menciptakan zero victim,” harapnya. (bs)

