Pemilik Bank Sampah Induk Rumah Plastik Ingin Wujudkan Sekolah Pendaur

  • Sabet Penghargaan Terbaik II Nasional

BULELENG – Salah satu bank sampah induk di Singaraja, Buleleng, yakni Bank Sampah Induk (BSI) Rumah Plastik meraih penghargaan sebagai bank sampah induk terbaik kedua nasional atas kinerjanya dalam pengurangan sampah. Pemilik BSI Rumah Plastik, Putu Eka Darmawan, mempunyai obsesi berikutnya di antaranya ingin mewujudkan Sekolah Pendaur.

“Karena masih fokus di hilirisasi sampah plastik, saya punya mimpi mewujudkan Sekolah Pendaur. Entah itu saya lakukan sendiri atau ada support. Itu akan saya wujudkan,” kata Eka dalam perbincangan di gudang Rumah Plastik yang ada di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali, Selasa (23/7/2024).

Menurutnya, ada beberapa manfaat dari pendirian Sekolah Pendaur tersebut. Pertama, bisa memberikan lapangan kerja. “Karena eksekusinya nanti beririsan dengan bidang pariwisata,” katanya.

Selain itu, kata dia, yang namanya Sekolah Pendaur, bukan hanya sekolah, melainkan tempat daur ulang. “Jadi di sana tempat daur ulang yang dijadikan tempat edukasi. Bukan sekolah yang dijadikan tempat daur ulang. Tapi tempat daur ulang yang dijadikan sekolah. Jadi praktiknya benar-benar langsung ke TKP yang sebenarnya, dengan proses yang riil,” jelas Eka Darmawan.

BSI Rumah Plastik selama ini telah melakukan beragam inovasi, dan memiliki peran dalam pengurangan sampah. Karena itu, BSI Rumah Plastik diganjar penghargaan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penghargaan diserahkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Siti Nurbaya, di Jakarta, Selasa (16/7/2024).

Eka Darmawan, mengatakan BSI Rumah Plastik nyaris menjadi juara pertama andaikata ia memiliki program untuk mengolah sampah organik.

“Ternyata ada 12 indikator penilaian yang menjadi standarisasi bank sampah. BSI Rumah Plastik hanya bisa memenuhi 11 indikator. Satu indikator yang tak bisa kita penuhi adalah pengolahan sampah organik,” kata Eka Darmawan.

Ia juga mengatakan, BSI Rumah Plastik tidak melakukan pengolahan sampah organik karena masyarakat Bali mengenal teba sebagai cara untuk mengolah sampah organik.

Teba merujuk pada areal di belakang rumah yang bisanya ditanami pohon untuk kebutuhan sehari-hari. Sampah-sampah organik yang dihasilkan kemudian dibuang ke sana dan menjadi kompos untuk pohon-pohon tersebut.

Keberadaan teba membuat Eka tak lagi berpusing-pusing memikirkan cara untuk mengolah sampah organik. Karenanya, BSI Rumah Plastik sama sekali tak memiliki program untuk mengolah sampah organik.

Secara khusus, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), memberikan apresiasi atas inovasi dan ekonomi berkelanjutan yang berhasil diciptakan oleh BSI Rumah Plastik. Pasalnya produk-produk daur ulang sampah plastik milik BSI Rumah Plastik tak hanya laku di pasar lokal, tetapi juga digandrungi pasar mancanegara.

Penghargaan Bank Sampah Induk Terbaik pertama berhasil diraih oleh Bank Sampah Induk Kumala dari Jakarta Utara, DKI Jakarta, dan terbaik ketiga menjadi milik Bank Sampah Induk Pancadaya dari Kota Padang, Sumatera Barat. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *