Lomba Balap Sepeda Zaman Jepang

  • Esai Sejarah dr. Soegianto Sastrodiwiryo (alm.)

SETAHUN setelah Jepang berkuasa, maka Perang Asia Timur Raya mulai digebyar digerakkan diantara rakyat Indonesia. Hal ini amat penting agar tentara Jepang mendapat dukungan moril dan tenaga. Latihan-latihan Heiho dan Seinendan digalakkan diantara rakyat Bali.

Di Singaraja diadakan latihan PETA di Kampung Tinggi dibuka oleh Raja Buleleng A.A. Kt. Jelantik diikuti para pemuda, diantaranya ayah Dolok. Bukan hanya itu pihak Kenpeitai malah memelopori sebuah perlombaan balap sepeda di Buleleng dan Negara.

Banyak pemuda mendaftar, tak kurang seratus orang. Start dimulai dari Negara di kantor Kempeitai dan berakhir di Singaraja, Kampung Tinggi, tangsi militer di sana.

Kegiatan ini dikawal ketat oleh Kenpeitai. Dipimpin oleh Kapten Yamamoto, sahabat ayah Dolok. Bahkan ayah Dolok diperkenankan ikut Kapten Yamamoto duduk bersama sang kapten di jeep Kenpeitai, sejak berangkat dari Negara mengawal para atlet.

Diantara para peserta terdapat Normat, orang Sasak asal Lombok tinggal di Kampung Sasak Singaraja. Orang jarang berbicara dan bila ditanya jawabannya cuma satu kalimat  “langen side berembe berembe.”  Artinya dalam Bahasa Sasak “dije margin tiange kije”. Dia malah bertanya balik yang artinya “ke mana gerangan pergiku sekarang.”

Tentu saja orang yang ditanya tidak tahu maksud jawaban iitu Meski demikian, si Normat ini orang baik suka menolong, hanya suka jegagas jegeges saja.

Kini dia telah siap ikut perlombaan balap sepeda start di Negara. Dia cuma memakai cawat hitam saja, tanpa baju dan dibolehkan oleh Kenpeitai.

Perlombaan dimulai jam 06.00 pagi, diikuti tak kurang seratus orang. Saat juri membunyikan sempritan, Normat masih tetap duduk menyantap makanan dan minum. Saat ditanya panitia, dia hanya menjawab “ne awake ngemaang pur satu jam malu”. Orang-orang heran tapi tersenyum. Anggota Kenpeitai tidak marah, malah menjawab dengan yakin dan acuh.

Saat ditanya ia hanya menjawab “ne icang maang pur satu jam malu”, orang-orang cuma tersenyum. Malah anggota Kenpeitai berkata, “KKua-kura, biarkan dia apa maunya”. Orang-orang tambah heran.

Setelah satu jam dan di tempat start sudah tak banyak orang, maka Normat lalu menancap sepedanya, bercawat celana hitam saja. Sampai di Tjandike Normat telah menyusul dua puluh orang saingan. Lalu di Gondol dilewati lagi 20 orang. Kini tinggal 60 orang di depannya, tapi di pengkolan Seririt dilampaui lagi 40 orang lagi.

Dari Seririt, Normat mulai tak memegang setir sepeda, tapi kakinya mengayuh   sangat cepat, seakan-akan menutup mata tak melihat jalan. Orang-orang, penonton di Seririt bertepuk tangan riuh menyemangati Normat. Normat tambah gila lagi dan memasuki kota Singaraja di wilayah Panji, Normat cuma didahului oleh 6 orang dan memasuki kota cuma dia sendirian.

Di sini Normat mulai bersikap aneh. Tiba-tiba berhenti di tepi jembatan Tukad Mumbul sambil mengeluarkan suara seperti Tarzan lalu bertanya pada penduduk Kampung Anyar. “Mbee langen side berembe?” Tentu saja orang-orang tak mengerti kecuali Pak Alip, ayahnya Dolok yang duduk bersama Yamamoto di jeep Kenpeitai.

Ia menerangkan kepada Sang Kapten arti kata-kata Normat. “Dia bertanya akan kemana sekarang saya?” Pak kapten cuma senyum-senyum saja. Tiba-tiba Normat menyandarkan sepedanya dan membuka cawatnya lalu mencebur di tukad Mumbul. Orang-orang Kampung Anyar bertepuk riuh. Normat makin bangga.

Ia menyelam lalu muncul. Saat muncul pertama tiba-tiba ada suara riuh di atas tepuk tangan yang seru. Ternyata itu adalah orang pertama yang melewati Normat yang mengira tepuk tangan itu buat dirinya. Normat makin bangga dan mengacungkan dua jari jempol ke atas.

Lalu ada lagi tepuk tangan riuh di atas sana dan orang kedua telah melewati jembatan Mumbul. Saat tepukan gemuruh ketiga muncul, Normat mulai curiga ada yang membalap dia. Normat melompat ke tepi sungai dan langsung melompat tanpa celana ke atas sadel sepeda. Orang-orang makin gemuruh bertepuk tangan.

Normat tak ambil pusing lagi. Dia mengayuh sepeda seperti kesetanan dan syukur di depan Toko Bhakti ia menyusul orang nomor 3. Di depan toko Eng Hwa berhasil menyusul orang kedua dan di ujung jembatan lengkung Kampung Tinggi, ia berhasil menyusul orang pertama.

Tepuk tangan semakin riuh gemuruh dan Normat kembali mengayuh tanpa memegang stir. Tak lama kemudian sampailah Normat di finish, Pos Kenpeitai Kampung Tinggi. Suara riuh membahana menyambut Normat yang turun tanpa celana tanpa pakaian. Banyak orang kagum, tapi tak sedikit yang tertawa terpingkal-pingkal.

Kemudian sepasukan Kenpeitai membawa 3 karung beras diserahkan pada pemenang pertama, pemenang kedua dua karung beras, pemenang ketiga satu karung beras.

Normat diminta naik jeep Tuan Yamamoto bersama Pak Alip dan dua anggota tentara polisi Jepang. Kali ini Normat bukan dibawa pulang ke Kampung Sasak, tapi diserahkan ke Opas Polisi Jepang.

Saat Normat protes “Mbee langen side berembe” diterangkan oleh opas polisi yang pintar Bahasa Sasak “laun juluk side bebaluuk si”. ‘Nanti dulu kau ini seperti buaya tak tahu aturan etika di depan umum.’

“Kau telanjang bulat, barangmu kontal kantul”. Tapi Normat tidak marah, malah tertawa terbahak-bahak, dan dipersilahkan membawa pulang tiga karung beras. Atas perintah Tuan Yamamoto, Normat dibebaskan dari hukuman penjara karena telah menghibur banyak orang.

Ohaiyyo gozaimas,” katanya, sambil menunduk pada Pak Kapten.

Senseiwa gakkuseni wakaremastak,” jawab Yamamoto sambil tertawa lebar.

Dolok yang tidak tahu artinya tetapi tetap saja tertawa. []

*) Penulis adalah Cendekiawan dan Sejarawan

*) Tulisan ini dikutip dari buku penulis “Lompatan-Lompatan Kebenaran”. Yang berminat bisa menghubungi HP : 0818-0533-9885

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *