- Kolom Khusus Ketut Muhammad Suharto
UNTUK mengetahui asal-muasal warga Pegayaman perlu dikaji purusa-nya. Dengan mengetahui kawitan-purusa-nya, maka akan diketahui dari mana sebenarnya warga ini berasal.
Bagaimana memastikan kawitan-nya, maka kita harus membahas dan mengkajinya dari referensi yang ada, yang mempunyai validitas yang memadai.
Dalam hal ini kami menggunakan referensi permanen, yakni sumber data standar yang selama ini dipakai sebagai sumber kajian sejarah, di antaranya yaitu;
Pertama, Kitab Wanana, atau yang Kita Kenal Dengan Kitab Nagara Kertagama
Kitab ini disusun oleh Mpu Prapanca, seorang empu yang hidup di masa Kerajaan Majapahit, ketika Raja Hayam Wuruk sebagai penguasanya.
Kitab ini disusun dari tahun 1359 M sampai 1365 M. Dan ditulis di tempat pengasingan, jauh dari pusat Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1894 M, kitab ini ditemukan bab pertamanya di Kerajaan Cakranegara, Mataram oleh J.J. A. Brendes, seorang Belanda yang konsentrasi dalam bidang budaya Jawa pada saat itu. Bab berikutnya ditemukan di Kerajaan Gelgel dan Kerajaan Karangasem.
Dalam kitab ini banyak diceritakan tentang sejarah penguasaan pada zaman Kerajaan-kerajaan terdahulu dari Majapahit, seperti Kerajaan Medang Kemulan, Kediri, Tumapel, Singosari dan tentunya kisah Kerajaan Majapahit, baik tentang keluarga, situasi kerajaan, dinamika kerajaan, meninggalnya Gajah Mada, dan rasa cintanya rakyat serta para sastrawan Majapahit. Semuanya itu dilengkapi dengan tahun-tahun pada masing-masing kerajaan.
Keterkaitan dengan analisa pencarian asal-muasal warga Pegayaman, bisa dirunut dari zaman Kerajaan Singosari. Dimana disebutkan tentang penyerangan Kerajaan Singosari ke wilayah Bali. Pada tahun 1284 M, Singosari menyerang Kerajaan Ganda Pura, yang waktu itu dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Ratu Hiyaning Hiyang Adi Dewa Lencana.
Kerajaan Singosari ketika itu dipimpin oleh Raja Kertanegara, yang pada awalnya memeritahkan dua pasukannya untuk menaklukkan Bali, yaitu Pasukan Pagar Uyung, yakni pasukan laut yang dipimpin oleh Kebo Bungalan, dan pasukan darat Pagar Wesi yang dipimpin oleh Lembu Ental.. Pada saat penyerangan awal ini, dua pasukan ini bisa ditaklukkan oleh Kerajaan Ganda Pura.
Dengan kekalahan tersebut, Raja Kertanegara kembali mengirimkan pasukannya yang spesial dengan nama pasukan Pagar Ayam yang dipimpin Kiai Wahab atau dikenal dalam Kerajaan Singosari namanya Patih Jaran Waha, sebagai pasukan gerilya. Dengan pasukan gerilya Pagar Ayam inilah, Kerajaan Ganda Pura bisa ditaklukkan. Kemudian Bali dikuasai oleh Singosari dibawah rajanya Kertanegara.
Lantas pasukan Pagar Ayam tersebut diletakkan di tiga tempat, yaitu di Kampung Jarat, Yeh Taluh Penarukan, kampung muslim Pegayaman, dan di Tibe Kauh atau Tegalinggah sekarang.
Menurut penulis, inilah asal muasal warga Desa Pegayaman di periode pertama. (Ini juga dibahas di buku Pustaka Bali oleh Ir. Ketut Darmaya, halaman 141 – 145).
Kedua, Babad Buleleng, Nomor 4491 Gedong Kirtya, Koleksi Ketut Ginasa
Dalam babad ini sangat jelas dikisahkan, bahwa Pegayaman dibawa oleh I Gusti Ngurah Panji Sakti dari Blambangan ke Kerajaan Buleleng atas kemenangannya menaklukkan Kerajaan Blambangan. Pasukan yang dibawa I Gusti Ngurah Panji Sakti ini diletakkan di pegunungan yang dipenuhi dengan hutan gatep, yang sekarang disebut dengan Desa Pegayaman.
Para laskar rekrutan I Gusti Ngurah Panji Sakti ini berjumlah 100 orang dipinpin oleh tiga tokoh pendekar yang bernama Nur Alam, Nur Awin dan Nur Mubin. Dalam buku dr. Soegianto Sasatrodiwiryo tentang I Gusti Ngurah Panji Sakti, Raja Buleleng, dikisahkan bahwa peristiwa itu terjadi di tahun 1648 M. Yakni ketika Raja Buleleng ini membuktikan janji politiknya untuk menyerang Blambangan pada saat itu. Peristiwa inilah yang juga merupakan penyebab adanya komunitas muslim di Pegayaman, sampai sekarang.
Ketiga, Perkawinan dengan Kalangan Pasek Gelgel Pegatepan
Dalam perkawinan dengan kalangan Pasek ini, pada akhirnya memberikan sebuah andil kawitan asli Bali dari unsur nenek, bahwa warga Pegayaman juga dari kalangan Pasek Gelgel Pegatepan. Hal ini banyak dikisahkan oleh para pengelingsir Pegayaman, dan juga dari kalangan Puri Buleleng.
Dari perkawinan dengan me-muallaf-kan para nenek ini, sangat nampak dalam kajian budaya dan adat istiadat yang berkembang di Desa Pegayaman sampai sekarang. Baik dari sisi Bahasa, dengan bahasa Bali halus, adat yang berkembang seperti hari raya dengan menggunakan tahapan seperti penyajaan, penapen, penampahan, rainan dan umanis.
Juga dalam hal kuliner, yang banyak di Pegayaman adalah kuliner Bali seperti tape, jaje uli, sambel matah, be mesere, jaje kaliadrem, dan lainnya. Dari sanalah bisa ditarik kesimpulan dan dugaan kuat, bahwa para bangsawan Pasek inilah yang memperkuat keberadaan budaya Bali di Desa Pegayaman. Sebab, tanpa kalangan bangsawan yang sudah terbiasa melaksanakan hal seperti ini, sangat mustahil budaya Pegayaman yang sangat unik ini bisa berjalan dan bertahan berabad-abad lamanya. Dan inilah peran para Pasek yang mematenkan budaya Bali di Desa Pegayaman.
Keempat, Kedatangan Kalangan Suku Bugis
Kalangan Suku Bugis ini datang pada era terakhir, ketika tiga suku di Pegayaman sudah berdomisili dalam bentuk Desa Pegayaman. Patut diduga kedatangan para kalangan Suku Bugis yang dipimpin oleh Karaeng Sufu, seperti cerita yang berkembang, bahwa mereka terdampar di pantai Buleleng. Itu terjadi ketika Makassar kalah perang dengan VOC.
Pada saat itu Makassar dipimpin oleh Sultan Hasanudin. Lahirlah apa yang dikenal dengan Perjanjian Bungaya yang sangat merugikan pihak Sultan Hasanudin pada saat itu. Maka warga Makassar dan Bugis juga Mandar, banyak yang keluar menyebar ke seantero Nusantara dan bahkan dikisahkan ada yang sampai keluar Nusantara.
Kedatangan warga Bugis di Pegayaman ini bisa diduga terjadi dari tahun 1670 M. Dan keberadaannya sangat mempengaruhi juga dalam dinamika budaya sampai sekarang
Empat suku yang ada dan berkembang di Pegayaman ini, melahirkan akulturasi budaya yang sangat kuat berkembang dan bertahan seperti yang sekarang kita rasakan di Desa Pegayaman. Yaitu dari unsur para kesatria Singosari di awal tahun 1284 M. Dari rekrutmen laskar Blambangan di tahun1648 M. Kemudian perkawinan dengan kalangan Pasek Gelgel Pegatepan, dan dari kalangan suku Bugis pada tahun 1670 M.
Dari keberadaan empat suku inilah memunculkan kajian trah atau kawitan yang penulis istilahkan dengan kawitan “SINGOBELBALBUG”. Yaitu kawitan Singosari, Blambangan, Bali, dan Bugis. []
*) Penulis adalah Pemerhati Sejarah dari Pegayama


Luar biasa ulasannya..mantap
Mantap