Komunitas Muslim Selalu Mendukung Pondasi Kepemimpinan Raja-raja di Buleleng

“JADI pada prinsipnya, memang pondasi kepemimpinan raja-raja di Buleleng, 100 persen mendapat dukungan dari komunitas Muslim. Terutama di Kampung Kajanan, Kampung Bugis dan Pegayaman,” kata I Gusti Bagus Ngurah Agung Suryawibawa, dari Puri Bangkang, yang merupakan keturunan I Gusti Ngurah Panji Sakti, pendiri Kerajaan Buleleng.

Pernyataan Gung Surya –demikian sapaan akrabnya—tersebut, diungkapkan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Melacak Jejak Islam di Bali” yang dilaksanakan di Sekretariat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Buleleng, Selasa (2/7/2024).

Tampil sebagai pembicara dalam FGD tersebut, selain Gung Surya, yakni I Putu Hendra Mas Martayana (Dosen Pendidikan Sejarah Undiksha Singaraja), H. Amoeng Abdurrahman (Koordinator Forum Pemerhati Sejarah Islam -FPSI- Buleleng), Ketut Muhammad Suharto (FPSI Buleleng), dan Nyoman Dodi Irianto (FPSI Buleleng). Acara FGD dipandu Ketua GP Ansor Buleleng, Abdul Karim Abraham.

Berbicara pada kesempatan pertama, pemerhati Sejarah Ketut Muhammad Suharto menjelaskan sejak kapan dan bagaimana peran komunitas Islam di Bali Utara. Suharto memprediksi, komunitas Muslim sudah masuk ke Bali Utara pada abad ke-10, yakni pada tahun 1284 M, di era Kerajaan Singosari.

“Saat itu Raja Singosari, Kertanegara, mengadakan serangan ke bumi Bali. Yang pada saat itu bumi Bali dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Ratu Hianing Hiyang Adi Dewa Lencana. Pasukan Singosari dipimpin oleh Kiayi Wahab, seorang pedagang Gujarat,” papar penulis buku “Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali” ini.

Menurutnya, pasukan Singosari ditempatkan di tiga lokasi, yaitu di Kampung Muslim Jarat, Penarukan, Kampung Muslim Pegayaman dari wilayah Alasangker sampai Bedugul, dan di wilayah Teba Kauh, atau Tegalinggah sekarang. Hal ini bisa dijadikan bukti bahwa peran dari umat Islam sejak 750 tahun yang lalu sudah ada.

“Pada saat itu akhirnya Bali dipegang oleh tiga kesatria, yaitu pasukan laut dari Singosari yang diberi nama Pagaruyung dipimpin oleh Kebo Bungalan, pasukan darat dipimpin oleh Lembu Ental, dan pasukan gerilya dipimpin oleh Kiayi Wahab atau Jaran Waha,” kata Ketut Suharto, mengutip buku Pustaka Bali karya Ir. Ketut Dharmaya.

Kata Suharto, peran umat Islam berlanjut pada era Kerajaan Buleleng yang didirikan I Gusti Ngurah Panji Sakti. Pada tahun 1648, Panji Sakti merekrut 100 orang laskar dari Blambangan dipimpin oleh tiga orang ksatria, yaitu Nur Alam, Nur Awin dan Nur Mubin.

Dijelaskan juga, 100 laskar ini akhirnya menjadi tentara kuat dan diletakkan di atas puncak gunung yang bernama hutan gatep, yang sekarang disebut dengan Desa Pegayaman. Laskar inilah yang menjaga Kerajaan Buleleng dari serangan dari arah selatan. Desa Pegayaman dengan 100 laskar tersebut menjadi benteng alami yang menjaga Kerajaan Buleleng.

Sementara Dodi Irianto menambahkan, peran umat Islam, khususnya orang Bugis, dalam membantu Raja Panji Sakti sangat luar biasa. Misalnya Ketika Raja Panti Sakti melakukan ekspansi ke Blambangan. “Pasukan Bali saat itu dibantu 100 orang pasukan Bugis di bawah pimpinan Karaeng Pamalikang,” katanya. Dengan bantuan pasukan orang-orang Bugis ini, maka I Gusti Panji Sakti berhasil menguasai Blambangan.

Demikian juga saat Belanda ingin menyerang Kerajaan Buleleng. Orang-orang Bugis yang ada di wilayah pantai Buleleng (Kampung Bugis sekarang) turun ikut berperang menjaga Kerajaan Buleleng. Ketika Belanda ingin menguasai Kerajaan Buleleng, di pinggir sudah berjaga-jaga pasukan Bugis dan pasukan Bali di pantai. Begitu Belanda masuk pantai mau ke darat, mereka langsung disergab oleh pasukan orang-orang Bugis. Akhirnya Belanda mundur.

Demikian juga ketika Perang Jagaraga pada tahun 1846, tambah Dodi Irianto, umat Islam yakni orang-orang Bugis juga ikut berperang untuk mempertahankan Kerajaan Buleleng. Ikut berperang melawan Belanda di sana.

Sementara Koordinator FPSI Buleleng, Amoeng Abdurrahman, menyebutkan, banyak peran tokoh Islam di zaman kerajaan yang belum terungkap. “Kalau membaca buku History of Java karya Raffles, yang menyebutkan ketika Raffles datang ke Buleleng sebanyak dua kali, menghadap kepada Raja Buleleng, raja waktu itu didampingi seorang muslim yang cerdas. Orang lokal. Tapi Raffles tidak menyebutkan namanya siapa. Itu orang penting,” kata Amoeng.

Namun, data-data tentang orang yang dimaksud Raffles tidak ada. Siapa keturunan, di mana mereka sekarang tinggal, belum ada datanya.

Menurutnya, setelah mencari, pihaknya menemukan catatan sejarah, bahwa pernah ada seorang punggawa Muslim, namanya Imam Wazir Ketut Tubun. Dia punggawa Muslim yang mempunyai tugas khusus ke Batavia. “Saya menduga nama inilah yang dimaksud Raffles,” kata Amoeng.

Selain itu, ada nama Abdullah Mascaty, yang ikut mendampingi Raja Buleleng, Gusti Ketut Jelantik, ketika dibuang oleh Belanda ke Padang, Sumatera Barat. Data tentang Abdullah Mascaty ini juga masih belum ada. Apa perannya dalam Kerajaan Buleleng.

Amoeng juga menjelaskan bagaimana peran umat Islam atau tokoh Islam di Bali Utara atau Buleleng, khususnya di era Revolusi Fisik. Ia menyebutkan nama Kapten Anang Ramli yang menjadi anggota pasukan khusus Letkol I Gusti Ngurah Rai. Anang Ramli ditunjuk sebagai pimpinan pasukan khusus Ngurah Rai untuk mengamankan perjalanan I Gusti Ngurah Rai dari Jawa ke timur Bali.

Yang paling fenomenal adalah bagaimana Kapten Anang Ramli menurunkan bendera Belanda, Merah-Putih-Biru, di Pelabuhan Buleleng pada 27 Oktober 1945. Kemudian menggantinya dengan bendera Merah Putih.

Selain Kapten Anang Ramli, juga ada pejuang wanita yang bernama Analis M. Amin. Seorang putri Bugis dari Daeng M. Amin yang ikut bergerilya mempertahankan Kemerdekaan RI dari serangan NICA-Belanda. Bahkan sejak zaman Jepang, ia turut berjuang.

Analis M. Amin merupakan Ketua Pemudi Pejuang Buleleng. Ia ikut terjun ke medan perang, dan harus meninggalkan pekerjaannya sebagai kepala sekolah taman kanak-kanak. Namun, karena ia jatuh sakit dalam persembunyiannya di Desa Pegayaman, ia akhirnya gugur.

Menanggapi paparan dari Ketut Suharto, Dodi Irianto, dan Amoeng Abdurrahman, I Gusti Bagus Ngurah Agung Suryawibawa membenarkan komunitas Muslim sudah masuk ke Bali Utara pada abad ke-10 di Julah seperti disampaikan Ketut Suharto.

“Kalau kita telusuri, betul tadi yang disampaikan Pak Harto tadi, bahwa pada abad ke-10 atau 11, ada terdapat informasi keberadaan orang-orang Muslim di Julah, walaupun belum terorganisasi. Belum terorganisasi dalam konteks mungkin dalam pemukiman atau dalam bentuk desa atau apa. Mereka hanya warga muslim datang dan untuk tinggal beberapa waktu,” jelasnya.

Sementara kedatangan orang-orang Muslim pada tahun 1647 M, kata Gung Surya, sudah terorganisir karena sudah bersatu dengan Kerajaan Panji Sakti. Orang-orang Muslim itu dibawa Panji Sakti setelah penyerangan ke Blambangan pada 1647.

Ia memaparkan, penyerangan Buleleng ke wilayah Blambangan terjadi tiga kali, yakni 1647, 1659 dan 1697. Menurutnya, pada penyerangan kedua pada 1659, Panji Sakti kembali melakukan penyerangan ke Blambangan. “Ini sebenarnya bukan penyerangan, tapi karena di sana (Blambangan-red) terjadi cheos. Panji Sakti sebagai penguasa wilayah Blambangan punya kepentingan untuk menertibkan wilayah di sana,” katanya.

Dijelaskan Gung Surya, pada waktu itu Panji Sakti didukung oleh orang-orang Bugis yang ada di sekitar Hulu Pangpang. Setelah berhasil, Panji Sakti kembali ke Buleleng membawa orang-orang Bugis tersebut. “Mereka (orang-orang Bugis itu-red) membawa senjata yang namanya kelewang. Pada kelewang itu terdapat tulisan Bismillahirrahmanirrahim,” papar Gung Surya.

Terkait keberadaan punggawa Muslim, Imam Wazir Ketut Tubun, Gung Surya membenarkan bahwa pada tahun 1818, Imam Wazir Ketut Tubun diberi kepercayaan oleh Raja Buleleng yang saat itu dikuasai Karangasem, AA Gde Karangasem. Raja sempat mengirim Imam Wazir Ketut Tubun untuk melakukan negosiasi ke Pemerintah Belanda ke Batavia untuk meminta bantuan.

Sebab, saat itu, menurut Gung Surya, Buleleng dalam kondisi pailit, didera paceklik dan kesulitan mendapatkan beras. “Jadi Imam Wazir Ketut Tubun ini yang diutus untuk berbicara dengan pihak Pemerintah Belanda,” ujarnya.

Jadi, tegas Gung Surya, hubungan antara Kerajaan Buleleng dengan umat Muslim sangat erat sekali. Termasuk Muslim di Kampung Singaraja (dulu Bernama Kampung Islam Dangin Puri). Kampung ini, kata dia, merupakan pendukung utama puri.

“Jadi, pada prinsipnya, pondasi kepemimpinan raja-raja di Buleleng, 100 persen mendapat dukungan dari umat Muslim. Terutama di Kampung Kajanan, Kampung Bugis dan Pegayaman,” tandasnya.

Sementara pembicara lainnya, I Putu Hendra Mas Martayana, S.Pd., MA, mengaku lebih tertarik membicarakan tentang derajat penerimaan orang Bali terhadap kehadiran orang-orang Islam, ketimbang membicarakan kapan orang-orang Islam datang ke Bali.

Menurutnya, berdasatkan riset kecil-kecilan yang dilakukan di beberapa wilayah di Bali, ternyata derajat penerimaan orang Bali terhadap orang Islam itu lebih baik daripada derajat penerimaan orang Bali terhadap yang lain.

Dikatakan Hendra, hal itu bisa dilihat dari dihasilkannya suatu interaksi, atau sinkretasasi di beberapa desa. “Dihasilkan suatu peradaban toleransi yang bisa dilihat di desa-desa seperti yang memakai kultur Bali pada namanya, misalnya di Pegayaman. Bahkan yang di Pegayaman dan Tegallinggah mungkin lebih fasih berbahasa Bali, dan berbudaya Bali dibandingkan orang Bali sendiri,” kata Hendra. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *