Bali Darurat Disleksia: Apa yang Harus Diketahui oleh Orang Tua?

  • Oleh Ketut Trika Adi Ana, S.Pd., M.Pd *)

DISLEKSIA merupakan gangguan belajar yang sering kali luput dari perhatian masyarakat. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Andrea Carrol, seorang akademisi dari Inggris, ditemukan bahwa hampir 40 persen anak sekolah dasar di Bali mengalami disleksia.

Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dari jumlah rata-rata global yang hanya 5-10 persen. Tingginya prevalensi disleksia di Pulau Dewata menunjukkan perlunya dilakukan penanganan yang serius. Kondisi tersebut, juga memperlihatkan rendahnya kesadaran dan deteksi dini, serta masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Disleksia mungkin masih menjadi istilah baru bagi sebagian besar masyarakat di Bali. Ketidaktahuan ini memiliki dampak negatif terhadap perkembangan akademik, sosial, dan emosional anak disleksia itu sendiri. Mereka sering dikonotasikan dengan anak memiliki tingkat kecerdasan rendah atau bahkan dilabeli dengan label negatif sebagai anak yang bodoh. Keadaan tersebut jika dibiarkan akan berpotensi berdampak buruk terhadap masa depan anak.

Sebaliknya, jika masyarakat, terutama orang tua mampu memahaminya, maka anak-anak disleksia bisa diarahkan untuk menjadi anak-anak yang berprestasi sesuai dengan keunggulan yang mereka miliki. Untuk itu, pemahaman mengenai disleksia ini menjadi hal yang penting bagi orang tua.

Disleksia merupakan kelainan neurologis yang berpengaruh pada cara otak dalam memroses bahasa. Merujuk pada definisi yang disampaikan oleh British Dyslexia Association, disleksia adalah kesulitan belajar khusus yang utamanya mempengaruhi kemampuan membaca dan menulis.

Meski demikian, perlu diketahui anak-anak yang mengalami disleksia juga biasanya memiliki berbagai keunggulan, seperti kreativitas yang tinggi, keterampilan memecahkan masalah yang baik, pemikiran yang global, ketahanmalangan dan keteguhan hati, keterampilan verbal dan sosial yang baik, serta empati dan pemahaman yang mendalam. Oleh karena itu, meski anak-anak disleksia sering kali mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis, bukan berarti mereka adalah anak yang bodoh.

Perlu diketahui penyebab terjadinya disleksia dipicu oleh faktor genetik, dan 40 persen diturunkan oleh ayah kepada anak mereka. Dilihat dari karakteristiknya, kendala yang umum yang biasa terjadi pada anak disleksia meliputi kesulitan dalam mengenali huruf, mengeja kata, kesulitan fonologis, dan permasalahan memori jangka pendek. Anak-anak yang mengalami disleksia sering kebingungan dalam membedakan huruf d dan b, p dan q, dan s dengan angka dua. Oleh karena itu, anak disleksia sering menunjukkan keengganan mereka ketika diajak atau belajar membaca.

Selain itu, mereka juga sering kesulitan membedakan antara kanan dan kiri. Orang tua yang memiliki anak dengan ciri-ciri seperti itu perlu memberikan perhatian khusus bagi anak mereka. Hal yang pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan deteksi dini dan intervensi dengan melibatkan ahli psikologi pendidikan. Kedua, menyadari bahwa disleksia bukanlah gangguan intelektual, namun permasalahan neurologis. Hal tersebut berarti bahwa disleksia tidak ada hubungannya dengan permasalahan kecerdasan.

Ketiga, orang tua harus mampu menemani dengan sabar anak-anak mereka untuk belajar membaca dengan menggunakan bantuan media visual dan aktivitas membaca yang menyenangkan. Keempat, mengepresiasi perkembangan kemampuan membaca anak dan tidak pernah melabeli anak dengan label negatif atau membanding-bandingkan mereka dengan anak-anak lain. Dengan kata lain, orang tua harus menciptakan suasana belajar yang nyaman di rumah.

Kelima, orang tua harus bekerja sama dan membangun komunikasi yang baik dengan pihak sekolah. Hal tersebut penting untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan perhatian dan perlakukan yang membantu mereka menghadapi kesulitan dalam membaca dan menulis di sekolah, serta menghindarkan mereka dari perundungan dan label negatif. Label negatif dan perundungan di sekolah yang diakibatkan oleh keterlambatan anak dalam ketrampilan membaca sering menjadi pemicu munculnya kecemasan akademik.

Dalam kondisi yang buruk, kecemasan akademik bisa membuat anak menjadi frustrasi dan tidak mau belajar dan meyakini diri mereka adalah anak yang bodoh. Ketika mereka meyakini bahwa diri mereka bodoh, maka mereka tidak akan mau belajar. Hal yang lebih buruk adalah mereka kemungkinan akan menjadi anak-anak yang bermasalah di sekolah, karena mereka merasa tidak berprestasi maka membuat masalah akan menjadi cara mereka untuk memperoleh perhatian.

Terakhir, orang tua harus mampu mengidentifikasi minat dan bakat anak-anak sesuai dengan kelebihan yang dimiliki dan menjadi motivator utama untuk meningkatkan kemampuan anak-anak dalam hal minat dan bakat mereka. Orang tua harus memahami bahwa anak-anak disleksia memiliki kreativitas dan kemampuan berpikir ‘out of the box.’ Orang tua wajib mendukung mereka untuk menyalurkan kreativitas dan pemikiran mereka. Jika mereka menunjukkan ketertarikan dalam bidang seni dan sosial, dukung mereka di bidang tersebut. Jangan memaksa mereka untuk menguasai hal yang mereka tidak mampu.

Dengan dukungan orang tua yang tepat, maka anak-anak disleksia akan memiliki kepercayaan diri dan memaksimalkan kemampuan mereka.

Lebih lanjut, orang tua juga perlu mengetahui bahwa banyak tokoh-tokoh dunia yang sukses yang mengalami disleksia. Contohnya, Albert Einstein, yang dikenal sebagai salah satu orang tercerdas di dunia juga mengalami disleksia sehingga kesulitan dalam membaca ketika masih anak-anak. Namun, hal tersebut tidak menghentikan langkahnya menjadi ahli fisika terbaik dunia.

Steve Jobs, pendiri Apple Inc, juga disleksia. Dia memiliki pemikiran yang visioner dan berhasil membangun industri raksasa di bidang teknologi komputer dan ponsel pintar. Richard Branson, pendiri Virgin Group yang menjalankan 400 lebih perusahaan. Dia berhasil memaksimalkan kemampuan berpikir inovatif dan di luar kebiasaan untuk membangun kerajaan bisnisnya. Agatha Chriestie, novelist dunia yang menghasilkan lebih dari 60 novel yang mendunia dan ratusan cerita pendek yang terkenal. Begitu pula, aktor ternama Hollywood, Tom Cruise juga merupakan seorang aktor yang cerdas tidak hanya sebagai aktor namun juga sebagai pilot yang bisa menerbangkan hampir semua jenis pesawat terbang bahkan sampai pesawat tempur.

Dari contoh-contoh tersebut, dapat dipahami bahwa disleksia tidak ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan seseorang. Mereka yang disleksia, meski memiliki kelemahan, juga memiliki kelebihan tersendiri. Apabila orang tua mampu mendukung anak-anak mereka yang disleksia untuk fokus pada kelebihan mereka dengan memberikan dukungan yang tepat, maka niscaya mereka akan mampu menjadi anak-anak yang luar biasa. Untuk itu, orang tua wajib memahami dan menjadi motivator bagi anak-anak mereka yang disleksia. []

*) Penulis adalah akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *