DATANGLAH ke Desa Pegayaman di bulan-bulan Mei hingga Agustus. Anda akan mencium semerbak wangi yang khas. Wangi yang tak didapatkan di bulan-bulan lain. Ya, wangi khas itu adalah wangi bunga cengkeh.
Di lantai depan rumah atau ruang tamu sebagian besar warga desa yang berada di atas bukit di Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali itu dipenuhi bunga-bunga hijau yang baru dipetik atau dipungut. Di halaman-halaman rumah, di samping, atau di belakang rumah terjemur bunga-bunga cengkeh yang telah dilepas dari tangkainya. Ada yang masih hijau, ada yang setengah kering, atau ada yang sudah kering dengan warna kecoklatan. Dijemur dengan alas kertas atau kampil atau apa saja di bawah terik matahari.
Antara Mei hingga Agustus, bahkan kadang-kadang mulai April, dan puncaknya Agustus, setiap tahunnya, memang bunga-bunga cengkeh di Desa Pegayaman mulai merekah. Tidak terlalu muda, dan tidak terlalu tua. Itulah yang ditunggu warga pemilih pohon cengkeh. Dan bunga-bunga cengkeh tersebut siap dipetik.
‘Ritual’ petik cengkeh di Desa Pegayaman dimulai pagi hari. Bapak-bapak, ibu-ibu, remaja dan anak-anak, laki-laki atau perempuan terlihat membawa kampil menuju ke pohon-pohon cengkeh yang tumbuh (ditanam) baik di pekarangan rumah atau di kebun-kebun warga. Beragam ukuran dan umur pohon cengkeh tumbuh di Desa Pegayaman. Yang baru belajar berbunga (sekitar lima tahun) atau yang sudah berumur 50-an tahun. Yang tingginya baru 3 meter atau yang sudah puluhan meter.
Para pemetik cengkeh tersebut biasanya menawarkan diri ke pemilik pohon cengkeh untuk memetik bunga cengkehnya yang sudah mencapai kondisi terbaiknya. Atau bisa juga pemilik pohon cengkeh yang meminta bantuan kepada warga untuk memetikkan bunga cengkehnya.
Tak hanya memetik di pohon dengan memanjat, ada juga yang namanya ngorek. Yaitu memungut satu per satu bunga cenkeh yang sudah jatuh ke tanah. Upah untuk yang memetik di pohon berbeda dengan besaran upah bagi yang ngorek.
“Untuk yang memetik di pohon setiap satu kilogramnya upahnya sebesar Rp 5.000. Untuk yang ngorek, upahnya Rp 15.000 tiap kilogramnya,” kata Ibu Dewi, saat ditemui usai memanjat pohon cengkeh untuk memetik bunga-bunganya, Minggu (26/5/2024).
Kenapa upah ngorek lebih besar dari yang memetik? Menurut Ibu Dewi, karena ngorek itu memungutnya satu per satu bunga cengkeh yang sudah jatuh. Waktunya jauh lebih lama dibandingkan yang memetik. Menurutnya, kalau memetik, dalam satu hari (dari pagi hingga pukul 13.00 atau 14.00) bisa mendapatkan 25 sampai 30 kilogram. Sementara yang ngorek paling-paling dalam jangka waktu yang sama mendapatkan 2 atau 3 kilogram.
“Kalau lebih dari 3 kilogram apalagi sampai 10 kilogram, patut dicurigai dia tidak ngorek, tetapi memetik. Pemilik pohon cengkeh tidak bisa ditipu,” timpal Ibu Nur.
Dari penjelasan Ibu Dewi maupun Ibu Nur, para pemetik bunga cengkeh dalam seharinya bisa mendapatkan 25 sampai 30 kilogram. Kalau diuangkan, setiap pemetik bisa mendapatkan upah Rp 150 ribu sehari. Sementara untuk pe-ngorek paling hanya mendapatkan upah Rp 45 ribu sehari.
Setelah dipetik atau ngorek, bunga cengkeh diangkut dengan menggunakan kampil diserahkan ke pemiliknya. Sesampai di rumah pemilik, bunga cengkeh ditimbang. Karena itu, hampir di semua rumah pemilik pohon cengkeh tersedia timbangan.
Setelah ditimbang, bunga-bunga cengkeh tersebut memasuki ‘ritual’ berikutnya. Yakni apa yang disebut mikpik. Mikpik adalah memisahkan bunga cengkeh dari tangkainya. Sebab, ketika dipetik, bunga cengkeh masih dengan tangkainya.
‘Ritual’ mikpik ini biasanya berlangsung dari pukul 14.00 hingga pukul 18.00. Bahkan kadang-kadang berlanjut hingga malam hari (pukul 20.00). Yang melakukan mikpik ini juga ada bapak-bapak, ibu-ibu atau remaja dan anak-anak. Setiap satu kilogram yang berhasil di-pikpik, upahnya sebesar Rp 1.500.
Dalam sehari (dari pukul 14.00 hingga 18.00), seorang yang ikut mikpik paling hanya dapat 10 kiligram. Artinya dia mendapatkan upah Rp 30.000. “Tapi kita kan senang kumpul-kumpul, sambil mikpik, sambil ngopi, sambil ngobrol,” kata Ibu Ida, ditemui saat mikpik di rumah warga di Banjar Barat Jalan, Desa Pegayaman.
Yang menarik, semua proses memetik bunga cengkeh dilaksanakan sangat profesional. Mulai dari memetik, ngorek, hingga mikpik dilakukan profesional. Artinya upah dibayar sesuai besaran yang sedang berlaku. Tidak peduli, apakah yang melakukan adalah adik, kakak, paman, anak, atau orangtua sendiri. Upahnya dibayar sesuai hasil kerjanya.
Bahkan kalau keluarga atau saudara sendiri, upah kadang-kadang ditambah. Misalnya dapat mikpik 2 kilogram, upahnya seharusnya Rp 3.000, tetapi ditambah Rp 2.000 menjadi Rp 5.000. Yang Rp 2.000 sebagai sedekah.
“Ini yang dipetik, yang di-ngorek, yang di-pikpik kan ‘uang’? Masak minta gratisan? Walaupun adik kandung yang membantu tidak ada yang gratisan. Tetap dikasih upah. Malah yang punya cengkeh kadang-kadang ngasih lebih kalau keluarganya yang membantu. Misalnya, kalau dapat Rp 20 ribu, dikasih Rp 25 ribu. Yang Rp 5 ribu sedekah,” timpal tokoh Pegayaman, Drs. Ketut Muhammad Suharto, saat menyaksikan ‘ritual’ mikpik bunga cengkeh di rumah warga tersebut.
Setelah mikpik, bunga cengkeh langsung dijual. Termasuk tangkainya. Ada juga yang tidak langsung menjualnya, tetapi dijemur sendiri. “Kalau ada yang dijemur, itu untuk stok biar uangnya tidak cepat habis,” jelas Drs. Ketut Muhammad Suharto.
Perempuan Tangguh
Di balik cerita ‘ritual’ petik bunga cengkeh di Desa Pegayaman, ternyata ada perempuan-perempuan tangguh. Mereka ikut naik atau memanjat pohon untuk memetik bunga-bunga cengkeh. Tidak kalah cekatan dengan para pria. Mereka mendapatkan upah yang sama dengan laki-laki.
“Ibu-ibu juga sama upahnya. Juga ada yang memanjat pohon langsung atau pakai tangga. Tergantung pohon cengkehnya, apakah bisa dipanjat atau harus pakai tangga,” cerita Ibu Ida.
Loh kenapa ibu-ibu boleh ikut naik pohon? “Yang karena dia bisa naik pohon,” katanya. Menurutnya, baik ibu-ibu atau bapak-bapak sama-sama pernah juga mengalami kecelakaan saat naik pohon memetik bunga cengkeh.
“Tiap tahunnya ada saja yang jatuh dari pohon. Ada juga yang sampai meninggal dunia,” papar Ibu Ida.
Dari perempuan-perempuan pemanjat pohon cengkeh di Desa Pegayaman, yang paling hebat, popular dan fenomenal adalah Rukayyah. Berbagai panggilan dilekatkan pada perempuan yang kini berusia 75 tahun tersebut. Kayyah, itulah panggilannya. Ada yang memanggilnya Kayyah Tuung, karena walaupun kecil tapi gesit dan lincah.
Mengenai kelihaiannya memanjat pohon, Kayyah dikagumi warga Pegayaman. Ia biasa memanjat pohon cengkeh tanpa pengaman. Bahkan tubuhnya seperti melayang-layang. Karena itu, warga menduga Kayyah menggunakan ilmu pengampang-ampang. Ilmu peringan tubuh, yang hanya dimiliki orang-orang tertentu” tutur Suharto.
Bahkan bukan hanya pohon cengkeh, Kayyah juga biasa memanjat pohon durian dan pohon wani yang besar. Dengan ketinggian hingga 30 meteran. “Dia perempuan, dan tidak menggunakan pengaman apapun, misalnya tali,” tambahnya.
Cerita tentang Kayyah yang disampaikan Ketut Muhammad Suharo dibenarkan Ibu Dewi dan Ibu Nur. Menurut mereka, kalau hanya memanjat pohon cengkeh, banyak perempuan di Desa Pegayaman bisa melakukan. Akan tetapi, untuk memanjat pohon-pohon besar seperti pohon wani dan pohon durian, baru Kayyah yang mereka tahu.
“Usia beliau sekarang sekitar 75 tahun. Sehari-hari sekarang jualan sayur keliling. Masih sehat dan lincah. Kalau hanya memanjat cengkeh, sekarang beliau masih bisa,” kata Ibu Dewi. (bs)













