BULELENG – Sebanyak 9 mahasiswa dari Norwegia mengikuti “wisata pengabdian” di desa bersejarah Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, Jumat (3/5/2024). Mereka, yang semuanya perempuan itu, datang bersama mahasiswa dan dosen dari Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana mengikuti kegiatan Field Trip Antropologi Sosial.
Ikut mengantar mereka Wakil Dekan FIB, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., serta sejumlah dosen PS Antropologi dan beberapa program di FIB Unud. Kedatangan mereka disambut Sekretaris Desa Pegayaman, Hatta Amrullah, Pemerhati Sejarah dari Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto, dan sejumlah warga, termasuk Sekaa Burdah Burak Pegayaman.
Begitu rombongan tiba, mereka langsung disambut alunan kidung burdah, dengan irama yang menggetarkan. Para mahasiswa dari Unud maupun dari Norwegia langsung mengabadikan aksi para seniman burdah tersebut.
Sekretaris Desa Pegayaman, Hatta Amrullah, menyambut positif kedatangan para mahasiswa dan dosen, terutama mahasiswa dari Norwegia. Menurutnya, Desa Pegayaman dikenal sebagai desa yang memiliki keunikan, baik dari budaya dan sejarahnya.
Dikatakan, meskipun lokasinya terpencil, jauh dari keramaian, dengan cuaca yang dingin, semakin banyak pengunjung yang datang ke Pegayaman, baik itu wisatawan, budayawan dan akademisi. “Jadi silahkan menikmati keunikan desa kami, Pegayaman,” ujarnya.
Sementara Wakil Dekan FIB, Dr. I Gede Oeinada, S.S., M.Hum., menjelaskan, kunjungan ke Desa Pegayaman merupakan pengabdian kepada masyarakat yang merupakan bagian dari Tri Dharma perguruan tinggi, selain pendidikan dan penelitian.
“Tujuan dari kegiatan ini memberikan apresiasi kepada para seniman burdah Pegayaman,” jelasnya. Dr. I Gede Oeinada membuka kegiatan tersebut.
Setelah pembukaan, para mahasiswa mendapatkan penjelasan tentang sejarah Desa Pegayaman, termasuk seni burdah, dari Pemerhati Sejarah dari Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto. Mulai dari mana asal-usul warga Pegayaman hingga akulturasi budaya Islam dan Bali yang terjadi di Desa Pegayaman.
Sejumlah mahasiswa asal Norwegia mengajukan pertanyaan kepada Ketut Muhammad Suharto. Tampil sebagai penerjemah dialog antara mahasiswa Norwegia dan Ketut Muhammad Suharto yakni anggota Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Buleleng, Nyoman Dodi Irianto, S.Pd.
Usai pembukaan yang dilaksanakan di sebuah ruang kelas SDN 1 Pegayaman tersebut, mahasiswa asal Norwegia berbaur dengan siswa-siswi dan masyarakat. Para siswa begitu antusias mengerubuti para mahasiswa Norwegia yang cantik-cantik dan masih muda itu. Mungkin mereka mengira para mahasiswa Norwegia itu artis. Para siswa berebutan minta tanda tangan mereka. Para mahasiswa Norwegia tersebut melayani dengan sabar dan terus tersenyum.
Sesi terakhir, adalah pementasan seni burdah. Para mahasiswa dari Norwegia tersebut tampak terkesima dengan penampilan seniman burdah. Kidung yang dilantunkan sekaa burdah yang dipimpin Amirudin itu terasa sangat sakral. Pukulan-pukulan rebananya menggetar jiwa. Sambil menonton, para mahasiswa dan peserta pengabdian tersebut mengabadikan penampilan sekaa burdah.
Pementasan semakin menarik, ketika ditampilkan seni pencak. Dua seniman burdah maju ke tengah-tengah pemain burdah. Menggunakan senjata rotan, keduanya bertarung saling tangkis. Seru dan mendebarkan. Begitu pementasan selesai, penonton bertepuk tangan meriah.
Salah seorang mahasiswa dari Norwegia, Vilde Brager Larsen, saat dimintai tanggapannya, mengaku sangat tertarik dengan Desa Pegayaman. “Saya tertarik dengan kebudayaannya. Dan anak-anak sekolah di sini sangat ramah. Pertunjukan seni burdahnya sangat menarik,” katanya.
Vilde juga mengaku sangat menyukai suasana Desa Pegayaman. “Saya sangat suka, suasananya sangat tenang,” ujarnya.
Mengenai seni burdah, Vilde menilai, sangat berbeda dengan kesenian lainnya. “Sangat menarik. Benar-benar berbeda. Mereka (para pemain burdah-red) benar-benar bertalenta,” tandasnya. (bs)





