* Oleh Lewa Karma
HARI Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tanggal 20 Mei merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Momentum ini tidak sekadar menjadi ritual tahunan atau nostalgia historis, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana kesadaran kolektif bangsa dibangun melalui perjuangan intelektual, persatuan, dan cita-cita kemerdekaan.
Harkitnas lahir dari berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 yang menjadi simbol munculnya kesadaran nasionalisme modern di Indonesia.
Pada masa penjajahan, rakyat Indonesia hidup dalam penderitaan panjang akibat eksploitasi kolonial. Kesadaran untuk bangkit tidak muncul secara instan, tetapi lahir dari proses pendidikan, pengalaman sosial, serta munculnya kaum intelektual pribumi dari sekolah-sekolah modern seperti STOVIA. Tokoh-tokoh seperti Wahidin Soedirohusodo dan Soetomo mendorong lahirnya gerakan yang tidak lagi bersifat kedaerahan, melainkan berorientasi pada persatuan nasional.
Kebangkitan nasional menjadi titik balik perjuangan bangsa Indonesia. Jika sebelumnya perlawanan terhadap penjajah dilakukan secara sporadis dan lokal, maka sejak lahirnya semangat kebangkitan nasional, perjuangan mulai menggunakan pendekatan organisasi, pendidikan, dan pemikiran modern.
Semangat ini kemudian melahirkan berbagai organisasi pergerakan lain hingga mencapai puncaknya pada peristiwa Sumpah Pemuda tahun 1928 yang menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.
Dalam konteks kekinian, makna Hari Kebangkitan Nasional mengalami transformasi yang sangat relevan dengan tantangan zaman modern. Jika dahulu musuh bangsa adalah kolonialisme fisik, maka hari ini bangsa Indonesia menghadapi bentuk “penjajahan baru” berupa disinformasi, radikalisme digital, degradasi moral, konsumerisme, individualisme, serta ketergantungan teknologi asing.
Oleh sebab itu, kebangkitan nasional saat ini bukan lagi perjuangan mengangkat senjata, tetapi perjuangan membangun kualitas sumber daya manusia, literasi digital, etika sosial, dan daya saing global.
Era digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Internet dan media sosial memberi ruang demokrasi yang luas, tetapi juga menghadirkan ancaman berupa hoaks, ujaran kebencian, polarisasi sosial, dan lunturnya nilai kebangsaan. Semangat nasionalisme generasi muda sering kali terjebak dalam simbolisme semata tanpa implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah relevansi Hari Kebangkitan Nasional menjadi penting sebagai pengingat bahwa kemajuan bangsa tidak dapat dibangun tanpa kesadaran kolektif, persatuan, dan tanggung jawab sosial.
Indonesia saat ini juga sedang menghadapi momentum bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.
Berbagai kajian menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia berada pada usia produktif sehingga menjadi peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional. Namun, bonus demografi juga dapat berubah menjadi bencana sosial apabila kualitas pendidikan, keterampilan digital, dan karakter generasi muda tidak dipersiapkan secara serius.
Dalam kajian mengenai bonus demografi Indonesia 2045 disebutkan bahwa tantangan terbesar bangsa adalah ketimpangan kualitas pendidikan, akses keterampilan, dan kesiapan lapangan kerja di era digital. Oleh karena itu, semangat kebangkitan nasional pada masa kini harus diarahkan pada pembangunan manusia unggul yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tetapi tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan dan budaya lokal. Kebangkitan nasional juga harus diwujudkan melalui penguatan literasi digital dan budaya.
Di tengah arus globalisasi, generasi muda sering kali mengalami krisis identitas akibat dominasi budaya populer global. Banyak anak muda lebih mengenal budaya luar dibanding sejarah perjuangan bangsanya sendiri. Kondisi ini menjadi tantangan serius karena hilangnya kesadaran sejarah akan melemahkan identitas nasional. Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah perjuangannya.
Selain itu, kebangkitan nasional masa kini juga berkaitan erat dengan etos kerja, inovasi, dan integritas. Korupsi, intoleransi, pragmatisme politik, dan rendahnya disiplin sosial merupakan hambatan besar dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Nasionalisme tidak cukup diwujudkan melalui slogan atau upacara seremonial, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata seperti menghargai keberagaman, membayar pajak, menjaga lingkungan, bekerja secara profesional, serta menggunakan teknologi untuk kemajuan bangsa.
Di era kecerdasan buatan dan transformasi digital, Indonesia membutuhkan “kebangkitan intelektual baru”. Generasi muda harus mampu menjadi produsen pengetahuan, inovator teknologi, dan pelaku ekonomi kreatif, bukan sekadar konsumen teknologi global. Kebangkitan nasional modern berarti membangun kemandirian ekonomi, memperkuat pendidikan berbasis riset, serta menciptakan masyarakat yang kritis, toleran, dan berdaya saing tinggi.
Semangat Hari Kebangkitan Nasional juga relevan dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia. Polarisasi sosial akibat politik identitas dan konflik di media sosial dapat mengancam kohesi bangsa. Oleh karena itu, nilai persatuan yang diwariskan para tokoh kebangkitan nasional harus terus dihidupkan melalui dialog, moderasi, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Pada akhirnya, Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi momentum membangun masa depan bangsa. Kebangkitan hari ini bukan lagi melawan penjajah secara fisik, melainkan melawan kemiskinan, kebodohan, intoleransi, korupsi, ketergantungan teknologi, dan degradasi moral. Semangat yang diwariskan oleh para pendiri bangsa harus diterjemahkan dalam kerja nyata, inovasi, dan penguatan karakter kebangsaan.
Jika generasi dahulu berhasil membangkitkan kesadaran nasional melalui pendidikan dan organisasi, maka generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk membangkitkan Indonesia melalui ilmu pengetahuan, literasi digital, integritas, dan kolaborasi sosial. Dengan demikian, Hari Kebangkitan Nasional tetap menjadi energi moral dan ideologis bagi bangsa Indonesia untuk terus maju menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas kebangsaannya. []
*) Penulis adalah Kasi Pendis Kemenag Buleleng, Mahasiswa Program Doktoral IAHN Mpu Kuturan
Daftar Pustaka
1. Kompas.com. (2024, May 20). Sejarah Hari Kebangkitan Nasional. Retrieved from Kompas.com
2. Kompas.com. (2025, May 20). Hari Kebangkitan Nasional 2025: Sejarah, tujuan, dan logonya. Retrieved from Kompas.com Skola
3. Kompas.com. (2023, May 19). Sejarah Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, latar belakang, dan tokoh-tokohnya. Retrieved from Kompas Tren
4. ResearchGate. (2025). Bonus demografi: Peluang atau tantangan bagi kemajuan Indonesia di tahun 2045. Retrieved from ResearchGate
5. Kompas.id. (2025, April 29). Bonus demografi tidak terjadi tahun 2030-2045. Retrieved from Kompas.id
6. Neraca.co.id. (2022, May 20). Kebangkitan nasional, kebangkitan digital. Retrieved from Neraca.co.id

