Kolom Khusus Ketut Muhammad Suharto Bagian 1 – Bersambung
Pengantar
Kemenag RI melaksanakan acara ‘Ngaji Budaya dan Tradisi Islam di Nusantara” di Hotel Aston Denpasar, Bali, Rabu, 6 Maret 2024. Salah satu pembicara dalam “Ngaji Budaya dan Tradisi Islam di Nusantara” tersebut adalah Pemerhati Sejarah dari Desa Pegayaman, Bali, Drs. Ketut Muhammad Suharto. Ia menyampaikan materi berjudul ”Adat Berpangku Syara’ Bersandar Kitabullah, Sebuah Metode Pertahanan Nilai-nilai Norma Agama, Adat, Budaya Desa Pegayaman, Bali”. Bagaimana isi materi tersebut, silahkan ikuti tulisan Ketut Muhammad Suharto yang kami publikasikan secara berseri dan dilakukan pengeditan seperlunya. Berikut bagian pertama.
USIA Desa Pegayaman sudah empat abad. Itu kalau dihitung dari kedatangan nenek moyang warga Pegayaman yang dikenal dengan julukan “Sri Aji Kumpi Bukit” pada tahun 1648 M. Dalam perjalanan melintasi empat abad tersebut, sejumlah model budaya (akulturasi) dimunculkan oleh warga Pegayaman, yang menjadi ciri khas Pegayaman.
Akulturasi budaya tersebut teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari semenjak dahulu sampai sekarang dan terlaksana tanpa adanya komplain dari dua pihak, Islam dan di luar Islam. Artinya, warga Pegayaman yang 95 persen beragama Islam merasa nyaman-nyaman saja melaksanakan kehidupan kesehariannya dengan atribut akulturasi budaya Bali. Dan warga sekitar Pegayaman yang beragama Hindu Bali, juga nyaman-nyaman saja berdampingan dengan warga Pegayaman, dengan akulturasi tersebut. Tidak ada yang merasa terganggu dan diganggu.
Di antara sejumlah nilai yang berkembang menjadi nilai akulturasi di Pegayaman yaitu:
1. Nama-nama Warga Pegayaman
Sepintas bila memasuki Desa Pegayaman akan terbiasa saja berkomunikasi dengan warga muslim Pegayaman. Akan tetapi bila satu tahap masuk lebih dalam pemaknaan, akan sedikit terperanjat jika mendengar warga memanggil nama dengan panggilan-panggilan Bali seperti Wayan, Nengah, Nyoman Ketut. Pasti akan muncul tanda tanya “Kok ada Wayan, Nengah, Nyoman dan Ketut-nya.
Inilah keunikan Pegayaman. Kebiasaan ini berlangsung demikian adanya sejak Pegayaman ada, dalam kurun waktu empat abad. Kebiasaan ini berjalan demikian adanya dan melabel pada semua tingkat strata sosial, baik pada kalangan kiai, ustadz, guru-guru ngaji, dan pada warga semuanya.
Jadi pada warga Pegayaman tidak mengenal strata atau kasta social. Yang menentukan tingkatan tinggi-rendahnya posisi warga adalah pada keilmuannya. Jika warga tersebut memiliki keilmuan yang memang sangat bermanfaat bagi warga sekitarnya, maka orang tersebut mendapat tempat spesial di mata warga, baik ilmu agama, ilmu umum, ilmu kesehatan (dukun, ahli pijat, ahli urut, ahli penanganan bayi, dan seterusnya).

Nama-nama dari semua warga Pegayaman dalam memainkan kehormatan dalam memanggil nama, biasanya dengan memanggil nama awal panggilan, Wayan, Nengah, Nyoman, Ketut, seperti: Wayan Hasyim, Nengah Ghofar Ismail, Nyoman Hozin, Ketut Muhammad Suharto. Dan kebiasaan ini masih berlaku sampai sekarang.
2. Bahasa
Komunikasi antar warga Pegayaman sejak dahulu sampai sekarang menggunakan bahasa Bali. Hal ini membuktikan bahwa warga Pegayaman sekalipun 95 persen beragama Islam tidak menutup diri dalam menggunakan bahasa dengan bahasa aslinya dari Blambangan dan Mataram, Jawa Tengah.
Bahasa Bali di Desa Pegayaman adalah bahasa keseharian dan kental dengan bahasa yang sangat berciri khas Pegayaman. Bahasa Bali dialek Pegayaman punya ciri khas berirama dengan panjang dan pendeknya, sesuai dengan dialek kumpi-nya yang berasal suku Jawa, yakni dari Osing Kemiren, Blambangan, Jawa Timur.
Selain itu, bahasa Pegayaman merupakan bahasa Bali yang sangat halus dan tidak umum dipakai di Bali. Seperti kata ‘biane’ yang artinya ‘tidak’. Kata ‘tidak’ di Bali umumnya memakai dengan kata ‘ten’. ‘Ten’ artinya tidak.
Beberapa kata yang dipakai Masyarakat Pegayaman juga diadopsi dari bahasa Arab, seperti kata ‘kawe’, yang berasal dari bahasa Arab ‘kahwa’, yang artinya kopi. Bahasa Arab ‘silwarun’ menjadi ‘seluar’ yang artinya celana.
Bahasa Bali di Pegayaman dipergunakan sesuai dengan tingkatan umur penuturnya. Ada bahasa ‘biasa’, ‘menengah’, dan ‘halus’. Bahasa ‘biasa’ untuk yang seumuran. Bahasa ‘menengah’ untuk tingkat tinggi-rendah umur atau umur yang berbeda, dan bahasa ‘halus’ untuk para kalangan dewasa dan para penglingsir. Bahasa ‘halus’ juga dipakai dalam pelaksanaan acara resmi adat, seperti dalam acara peminangan yang lebih akrab disebut acara nyangkreb.
Bahasa Bali juga diterapkan dalam dunia Pendidikan. Dalam pengajaran dasar-dasar agama juga menggunakan bahasa Bali. Dalam khutbah Jumat, juga ada khatib yang menggunakan bahasa Bali. Dalam pendidikan dasar pembacaan Al-Qur’an juga menggunakan bahasa Bali.
Intinya, bahasa Bali di Pegayaman dipakai dalam komunikasi keseharian, acara adat, acara keagamaan, pendidikan agama, dan yang lainnya.
3. Kuliner Bali
Kuliner Pegayaman pakemnya juga dengan standar ‘adat berpangku syara’ bersandar kitabullah’. Malah dalam hal ini sangat ekstra teliti dan hati-hati, sebab sangat terkait dengan nilai halal dan haramnya. Baik untuk minuman, makanan dan yang lainnya. Keseharian warga Pegayaman sangat dibiasakan untuk memilah dan memilih makan yang baik, dan halal.
Masakan dengan jenis khas Bali selalu disuguhkan oleh orangtua, seperti jenis lawar, tum, pesan, urab, be mesere, rambanan, sambel matah, sate gempol, loloh gamongan, loloh kunyit, jaje uli, tape, jaje kaliadrem, jaje latah, dan yang lainnya.
Nenek moyang orang Pegayaman adalah dari kalangan Pasek yang dimuallafkan. Perpaduan antara para kesatria 100 orang Jawa Blambangan kawin dengan kalangan Pasek, dan juga dari kalangan suku Bugis, memunculkan kuliner Pegayaman yang bersumber dari tiga suku ini. Akan tetapi yang paling kuat pengaruhnya adalah pengaruh kuliner Bali, yang sudah terfilterisasi dengan ‘Adat Berpangku Syara’ Bersandar Kitabullah’.
Kuliner-kuliner tersebut masih bisa dinikmati sampai sekarang, dan malah lidah orang Pegayaman sudah terbiasa dengan rasa kuliner asli Pegayaman, dengan istilah masakan-masakan yang ‘sepek’ (lezat sesuai dengan lidah Pegayaman).
4. Metode Pengajaran Agama
Pendidikan dasar keagamaan Islam di Pegayaman selama ini selalu menggunakan bahasa Bali, seperti dalam mengeja Al-Qur’an. Dalam memahamkan dasar-dasar hukum keseharian keislaman, seperti tentang tata cara sholat, masalah Najis, dan tata cara bersuci, bergaul keseharian, tata cara akhlak bergaul, juga di pengajian dewasa menggunakan kitab-kitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Bali. Kegiatan ini dilaksanakan di rumah-rumah, pesantren, dan masjid.
Hal ini membuktikan bahwa adat budaya warga Desa Pegayaman sudah membumi di Bali, selama berabad-abad lamanya. Dibuktikan dengan tata cara pelaksanaan adat istiadat dengan gaya Bali, juga dalam sistem pendidikan dan pemahaman agama Islam di Pegayaman.
Meskipun umpayanya ada warga Pegayaman tamatan kota Makkah, Saudi Arabia, tamatan Jombang, tamatan Ponpes Blok Agung Banyuwangi, tamatan Pancor, Lombok Timur, tamatan Kediri Lombok Barat, tamatan Bengkel Lombok Barat, ketika pulang ke Pegayaman, mereka memberikan pemahaman pendidikan keagamaannya selalu memakai bahasa Bali. []
*) Penulis adalah Pemerhati Sejarah dari Pegayaman

