- Meneruskan Perjuangan Ayahnya, Pejuang Kemerdekaan Kapten Anang Ramli
DR. Tuty Mariani mewarisi nilai-nilai perjuangan dari ayahnya, yakni salah seorang pejuang Kemerdekaan RI dari Singaraja, Buleleng, Kapten M. Anang Ramli. Dalam diri Dr. Tuty Mariani selalu tertanam keinginan untuk selalu menjaga Bali dan berjuang untuk tanah kelahirannya ini.
Tentu saja berbeda bentuk perjuangan Dr. Tuty Mariani dengan ayahnya, Kapten Anang Ramli. Karena memang beda zaman dan beda momentum. Kapten Anang Ramli dulu berjuang mempertahankan Indonesia yang baru menproklamasikan kemerdekaannya dari upaya penjajahan kembali oleh Belanda (NICA).
Salah satu peran heroik Kapten Anang Ramli yang hingga kini dikenang masyarakat Bali adalah menurunkan bendera Belanda di Pelabuhan Buleleng dan menggantinya dengan bendera Merah Putih. Itu terjadi pada 27 Oktober 1945.
Terus apa bentuk perjuangan yang akan dilakukan Dr. Tuty Mariani untuk meneruskan apa yang pernah dilakukan ayahnya, Kapten Anang Ramli, terhadap Bali dan masyarakat Bali? Dr. Tuty memilih melakukannya melalui jalur politik. Karena itu, ketika ia diminta menjadi calon anggota (Caleg) DPR RI, ia terima. Dr. Tuty Mariani menjadi Caleg DPR RI dari Partai Keadilan Sosial (PKS) dari Dapil Bali.
“Sebagai anggota DPR RI dengan fungsi legislasi dan pengawasannya, nantinya saya bisa mengawal terbitnya regulasi mulai tingkat pusat hingga daerah, agar regulasi tersebut adil terhadap seluruh elemen masyarakat tanpa kecuali dan tidak diskriminatif,” ujar ibu yang lahir di Singaraja, 26 Februari 1960 ini.
Menurutnya, ayahnya mengajarkan agar dalam berjuang harus adil dan tidak diskriminatif. Ayahnya, Kapten Anang Ramli, telah mempraktikkan hal itu. Ketika ikut berjuang melawan Belanda yang masuk kembali ke Indonesia, termasuk ke Bali, seusai Proklamasi Kemerdekaan, Kapten Anang Ramli berjuang bersama-sama pejuang dari latar belakang dan suku yang berbeda. Sebut saja Kapten Gde Muka, Wayan Mudana, dan pejuang lainnya. Kapten Anang Ramli bergabung dengan pasukan I Gusti Ngurah Rai dan bahkan pernah dipercaya menjadi pemimpin pasukan khusus I Gusti Ngurah Rai.
“Ayahanda kami tercinta, Kapten Anang Ramli tidak memandang sekat-sekat keagamaan dalam berjuang. Bagi para orang tua kami, yang merupakan tokoh pejuang muslim, membela bumi Bali itu sebagai bagian dari membela tanah air Indonesia,” jelas Dr. Tuty Mariani.

Menurutnya, harmoni Bali yang ditunjukkan dan dipraktikkan para pejuang dulu harus terus dipertahankan. Harus tetap ajeg, untuk kemaslahatan umat. Semua pihak harus terus merawat Bali harmoni yang pernah dicontohkan oleh para pejuang tersebut.
Selain itu, menurut Dr. Tuty Mariani, jika dirinya terpilih menjadi angota DPR RI, sesuai peran DPR RI dengan fungsi legislasinya, akan memperjuangkan perlunya keputusan politik berupa UU atau keputusan pemerintah bahwa tanggal 18 Agustus adalah Hari Konstitusi. “Ini diperlukan agar seluruh komponem bangsa tahu dan sadar akan sejarah bangsanya terkait perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara,” katanya.
Sementara melalui fungsi budgeting, Dr. Tuty Marinai akan mengawal anggaran negara secara proporsional, termasuk proporsional terhadap program dan atau kegiatan keumatan.
“Sedangkan melalui fungsi pengawasan terhadap pemerintah, akan dilakukan pengawasan program-program strategis pemerintah yang berpihak kepada masyarakat luas, termasuk kesiapan pemerintah menyongsong Indonesia Bonus Demografi mulai 2030 hingga 2045 dengan program-program antisipatif yang diperlukan, seperti kesempatan atau lapangan kerja, dan sebagainya,” jelasnya.
Juga melalui fungsi regulasi, budgeting dan pengawasan, Dr. Tuty Mariani akan konsentrasi pada isu-isu gender yang sangat sering terabaikan oleh pengambil kebijakan dan atau politisi selain Perempuan. Kata dia, perlu ada UU Ketahanan Keluarga, sehingga soal pendidikan, isu-isu reproduksi, stunting serta permasalahan lainnya dimana perempuan punya indra perhatian lebih dalam soal itu.
Dr. Tuty Mariani punya modal untuk memperjuangkan semua itu. Jam terbangnya tergolong lengkap. Ia pernah bekerja di Sekretariat Negara Jakarta antara 2006 hingga 2011. Pernah bekerja di Dewan Pertimbangan Presiden 2007-2008. Di Sekretariat Wakil Presiden (zaman Wapres Jusuf Kalla) pada 2011-2018.
Pengalaman kerja dan prestasinya juga mengagumkan. Dr. Tuty Mariani pernah menjadi Instruktur Tata Negara DKI dengan prestasi terbaik I, Instruktur Tata Negara Nasional (terbaik I), Guru Teladan Jakarta Timur pada 2000, menjadi terbaik III Diklatpim Setneg (2026) dan menjadi pembicara dalam sejumlah seminar di Jakarta dan beberapa daerah.
Dr. Tuty Mariani menyelesaikan pendidikan S3-nya di Universitas Padjajaran Bandung. Sementara pendidikan sarjananya di Universitas Udayana, dan S2-nya di STIE IPWI Jaya Jakarta. Dr. Tuty Mariani juga aktif di berbagai organisasi, seperti di ICMI Pusat, MUI Pusat, KB PII Pusat dan Badan Otonom DMI Pusat. (bs)

