Tantangan dalam Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar

  • Esai Dr. Surayanah *)

PENDIDIKAN karakter merupakan konsep pendidikan yang berkaitan dengan pengembangan nilai-nilai moral, etika, dan kepribadian yang positif pada individu. Di zaman sekarang ini, penting bagi setiap orang untuk memiliki karakter yang kuat dan terlatih agar dapat menghadapi berbagai situasi dan tantangan kehidupan dengan baik.

Pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab sekolah atau guru, tetapi juga melibatkan keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Tujuan dari pendidikan karakter adalah membentuk manusia yang memiliki kepribadian yang baik, bertanggung jawab, mandiri, jujur, toleran, dan memiliki empati terhadap orang lain.

Dalam esai ini, akan dibahas tantangan dalam implementasi pendidikan karakter dan cara mengatasi tantangan dalam implementasi pendidikan karakter di Indonesia.

Pendidikan karakter merupakan aspek penting dalam dunia pendidikan terutama di Indonesia. Sebab, pendidikan karakter membantu membentuk individu yang memiliki kepribadian yang baik, tangguh, dan mampu menghadapi berbagai situasi dalam hidup. Pendidikan karakter bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau guru, tetapi juga melibatkan keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitar.

Keluarga memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak, karena anak-anak sering menghabiskan waktu bersama keluarga mereka. Oleh karena itu, keluarga harus memberikan contoh dan mendidik anak mereka mengenai nilai-nilai moral dan etika yang baik.

Di sisi lain, sekolah juga memiliki peran yang penting dalam membentuk karakter anak. Sekolah dapat menyediakan lingkungan yang mendukung perkembangan karakter, seperti memberikan pengalaman sosial, mengembangkan keterampilan kritis dan kreatif, dan mengajarkan nilai-nilai moral dan etika. Selain itu, sekolah juga dapat melibatkan siswa dalam kegiatan-kegiatan sosial untuk mengembangkan empati dan rasa tanggung jawab sosial.

Namun, dalam implementasinya pendidikan karakter di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Beberapa faktor penghambat yang mempengaruhi impelmentasi pendidikan karakter di sekolah dasar yaitu kurangnya pemahaman tentang pendidikan karakter.

Banyak guru dan staf sekolah yang masih menganggap pendidikan karakter sebagai hal yang tidak penting atau tidak menjadikan pendidikan karakter sebagai prioritas. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pemahaman tentang pentingnya pembentukan karakter dalam membentuk siswa yang berkualitas.

Kedua, tidak adanya kurikulum yang khusus untuk pendidikan karakter. Kurikulum di sekolah dasar cenderung lebih fokus pada penguasaan materi pelajaran dan kurang memberikan ruang bagi pembentukan karakter. Hal ini menyebabkan guru kesulitan untuk mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran. Untuk permasalahan kurikulum ini telah diupayakan penanganannya oleh pemerintah dengan adanya Kurikulum Merdeka.

Ketiga, kurangnya waktu yang tersedia dalam setiap harinya membuat guru kesulitan untuk melaksanakan kegiatan pembentukan karakter secara konsisten dan berkelanjutan. Kegiatan-kegiatan pendidikan karakter yang biasanya dilakukan di luar jam pelajaran seringkali terabaikan karena terkendala oleh waktu.

Keempat, kurangnya dukungan dari orang tua. Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak-anaknya. Namun, tidak semua orang tua memiliki kesadaran yang sama tentang pentingnya pembentukan karakter. Beberapa orang tua lebih fokus pada pencapaian akademik dan kurang memperhatikan pembentukan karakter anak-anaknya.

Terakhir tidak adanya penghargaan atas prestasi karakter. Meskipun pentingnya pembentukan karakter sudah disadari oleh banyak pihak, namun masih jarang sekali diberikan penghargaan atau apresiasi kepada siswa yang berhasil menunjukkan nilai-nilai karakter yang baik. Padahal, penghargaan dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk terus memperbaiki diri dalam hal pembentukan karakter.

Adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat menjadikan tantangan dalam membentuk karakter siswa juga semakin kompleks. Anak-anak cenderung lebih tertarik dengan gadget dan internet, sehingga nilai-nilai karakter yang telah diajarkan di sekolah bisa terabaikan.

Oleh karena itu, guru harus bisa mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran karakter. Misalnya, dengan menggunakan video pembelajaran atau game edukasi yang dapat membantu siswa memahami nilai-nilai karakter dengan cara yang lebih menyenangkan. Namun, perlu diingat bahwa teknologi hanya dapat menjadi alat bantu pembelajaran, dan bukan pengganti interaksi sosial yang sebenarnya antara siswa dengan guru dan teman-teman sekelas.

Upaya pembentukan karakter tidak hanya terbatas pada lingkup sekolah. Orang tua juga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak-anaknya. Orang tua dapat menjadi contoh yang baik bagi anak-anak dengan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai karakter yang diharapkan, seperti jujur, bertanggung jawab, dan empati. Selain itu, orang tua juga dapat membantu guru dalam mengajarkan nilai-nilai karakter dengan mendukung dan mengawasi anak-anak saat mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan pembentukan karakter.

Dalam mengatasi tantangan tersebut, perlu ada peningkatan pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya pendidikan karakter, baik di kalangan masyarakat maupun pengambil kebijakan. Selain itu, perlu adanya upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia dan infrastruktur pendidikan, seperti pelatihan guru serta fasilitas yang memadai.

Pemerintah juga perlu memberikan dukungan kebijakan dan anggaran yang memadai untuk pendidikan karakter. Dengan adanya implementasi pendidikan karakter di Indonesia yang masih menghadapi banyak tantangan, perlu ada upaya yang lebih besar dari semua pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk bekerja sama dan mengatasi tantangan tersebut.

Pendidikan karakter bukanlah sekadar materi yang diajarkan di sekolah, tetapi juga merupakan nilai-nilai dan etika yang terbentuk dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendidikan karakter yang baik, diharapkan kita dapat membentuk generasi yang lebih baik, tangguh, dan berkarakter kuat untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

Dalam upaya pembentukan karakter siswa, konsistensi sangatlah penting. Pembiasaan nilai-nilai karakter harus dilakukan secara konsisten dan terus menerus dalam berbagai aspek kehidupan siswa, baik di lingkungan sekolah, di rumah, maupun di lingkungan sekitar. Selain itu, pengembangan karakter juga harus diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan, sehingga siswa tidak hanya belajar tentang akademik, tetapi juga nilai-nilai karakter yang diperlukan untuk menjadi individu yang berkualitas. []

*) Penulis adalah Dosen Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *