Bung Karno Berkunjung ke Singaraja

  • Esai Sejarah dr. Soegianto Sastrodiwiryo *)

BEBERAPA hari sebelum Hari Kemerdekaan 1954, anak-anak SR 2 Banjar Jawa diminta bersiap menyambut kedatangan Bung Karno di alun-alun atas Giri Putri. Dari kelas satu sampai kelas enam telah bersiap di alun-alun dan Dolok yang baru berusia 9 tahun juga ikut.

Pesawat helikopter diberitakan datang jam 10 pagi, tapi molor satu jam karena baru jam 11.00 baru terdengar dengung pesawat di atas alun-alun. Kami semua berteriak-teriak mengucapkan ”Merdeka, merdeka, merdeka”. Bukan hanya anak-anak SR 2 saja yang bergabung di alun-alun, tapi juga dari SR 4 Banjar Tengah, SR 1 Sukasada dan SR 3 Banjar Bali. Mereka berdesak-desakan menyambut pimpinan negara ini.

Akhirnya tibalah yang dinanti-nanti. Diselingi debu dan getaran angin yang keras, nampak Bung Karno turun dari pesawat berpakaian lengkap jas kepresidenan.

Dolok berdiri paling depan dan tertegun memandang wajah Bung Karno yang kharismatik berwarna bersih putih kekuningan seakan memancarkan cahaya pesona dari dalam dirinya. Rencana Dolok untuk mendekati Bung Karno tiba-tiba batal oleh tarikan pesona yang membuatnya tertegun-tegun. Waktu tidak lama dan diantara teriakan ratusan siswa: Merdeka… merdeka…merdeka, datanglah tim penjemput dengan memakai sedan milik Gubernur DK 1000.

Rombongan Presiden dan pengawalnya tidak ke kantor Gubernur dahulu tapi menuju rumah anak angkatnya Mayor Iwan Stamboel, seorang Komandan Kodim Buleleng. Disana Bung Karno dijamu makan siang oleh ibu-ibu pembesar setempat, selain Ibu Iwan dan Ibu Gedong Bagoes Oka, isteri Residen Oka, Ibu Kapten Musung dan lain-lain.

Setelah makan siang Bung Karno diminta menghadiri pertemuan silaturahmi di Aula kantor Gubernur. Di sana hanya dijamu dengan kue-kue dan teh saja. Adapun yang membawa talam sajian dipilih Ibu Sumantri, isteri Komisaris Besar Polisi R Sumantri, orang Cirebon.

Bu Sumantri yang amat cantik ini sempat mempesona Bung Karno beberapa detik. Sebagai lazimnya, Bung Karno bila memandang wanita cantik maka sorot matanya tajam ke ujung jari kaki sampai ke rambut. Bu Sumantri yang dipandang dengan cara demikian menjadi keder.

Maklum baru pertama ketemu Presiden. Dan di sinilah terjadi kejadian yang tak terduga. Tangan Bu Sumantri bergetar dan tak mampu menjaga keseimbangan talam serta merta jajannya tumpah ke lantai. Bung Karno maklum dan meminta orang lain menggantikan. Sejak saat itu, Bu Sumantri sakit selama dua hari tapi kemudian pulih kembali. Pak Sumantri hanya tersenyum oleh kejadian itu.

Acara selesai dan Bung Karno minta pada ajudannya buat menyiapkan Choper karena beliau ingin keliling kota Singaraja dari udara melihat tanah kelahiran ibunya, Nyoman Rai Srimben.

“Bawa aku terbang ke atas kota tepat di atas rumah seorang Haji yang memiliki anak paling cantik di kota ini,” kata Bung Karno tiba-tiba.

Sang pilot yang sudah dibisiki oleh ajudan sebelum terbang hanya menjawab “Siap Pak”, dan Bung Karno tersenyum. Pak Haji Ali dan keluarganya terheran-heran melihat sebuah helikopter terbang mengelilingi rumahnya.

Bung Karno hanya menginap semalam di rumah Gubernur dan keesokan harinya terbang langsung ke Denpasar kemudian ke lapangan terbang Tuban dan melesat ke Jakarta karena harus mempersiapkan pidato Kemerdekaan 17 Agustus 1954. []

Catatan Redaksi:

dr. Soegianto Sastrodiwiryo merupakan cendekiawan dan sejarawan. Menulis beberapa buku sejarah penting seperti I Gusti Anglurah Panji Sakti, Perang Jagaraga, Perang Banjar, Danghyang Nirartha, Jejak Islam di Bali, Perlawanan Bali Age serta buku novel Budak Pulau Surga, serta beberapa buku kumpulan esai.

dr. Soegianto Sastrodiwiryo meninggal dunia pada 18 Desember 2023 lalu di Bekasi, Jawa Barat. Esai-esai yang dimuat dalam balisharing.com dikutip dari bukunya “Mumbul Melintasi Zaman” dengan seizin Penerbit Indie Singaraja dan dari penulis semasa masih hidup. Yang berminat buku tersebut bisa menghubungi nomor +62 818-0533-9885

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *