KOMUNITAS Mahima Singaraja akan mementaskan teater wayang bertajuk ‘RWA’ di Teater Besar Taman Ismail Marzuki Jakarta, Senin (11/12/2023). Pementasan ini mengolaborasikan unsur wayang, tari, dan teater dalam satu komposisi, dengan tetap menggunakan sastra dan susastra Bali sebagai pijakan utama.
Teater wayang ‘RWA’ digarap dua pasangan sastrawan pendiri dan pimpinan Komunitas Mahima Kadek Sonia Piscayanti-Made Adnyana Ole. Kadek Sokia sebagai Pimpinan Produksi dan Adnyana Ole sebagai sutradara.
Sementara Naskah/Dalang I Putu Ardiyasa, Penata Musik/Artistik Kadek Anggara Rismandika, Narator Ni Kadek Putri Santiadi, Aktor I Gede Candra Gupta Nugraha dan Putu Bratria Sama Dayanu, dan Penari Sangat Ayu Kade Dinda Pratiwi dan Ni Made Linda Swastini.

Komunitas Mahima menjadi satu dari sebelas komunitas yang akan menyuguhkan penampilannya dalam Pentas Karya Komunitas Sastra yang digelar Badan Bahasa Kemendikbudristek RI tersebut.
Penampilan tersebut adalah salah satu apresiasi yang diterima oleh Komunitas Mahima. Sebelumnya mereka menjadi satu dari 79 komunitas di Indonesia yang mendapatkan dana pengembangan komunitas sastra dari Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Dana pengembangan senilai Rp 105.340.000 diterima oleh Komunitas Mahima dan telah digunakan untuk menyelenggarakan Pekan Raya Cipta Karya Mahima 2023.
Pimpinan Produksi Teater Wayang ‘Rwa’ sekaligus pendiri Komunitas Mahima, Kadek Sonia Piscayanti, mengatakan Pentas Karya Komunitas Sastra bertajuk ‘Sastra Perekat Kebhinekaan’ itu adalah bentuk apresiasi kepada komunitas sastra yang terpilih.
Komunitas sastra yang terpilih, termasuk Komunitas Mahima, mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan pada publik bahwa mereka yang menerima dana hibah tersebut memang layak tampil dan layak menerima bantuan itu.
“Salah satu penentu program telah melihat Komunitas Mahima sejak lama. Persiapan kami lakukan setelah menyelesaikan Pekan Raya Cipta Mahima, kurang lebih seminggu lamanya,” kata Sonia.

Sutradara Teater Wayang ‘Rwa’ yang juga pendiri Komunitas Mahima, Made Adnyana Ole, mengatakan Komunitas Mahima akan tampil membawakan fragmen yang diambil dalam geguritan Sucita dan Subudi dengan konsep teater pakeliran.
Sebuah konsep yang mengolaborasikan unsur wayang, tari, dan teater dalam satu komposisi dengan tetap menggunakan sastra dan susastra Bali sebagai pijakan utama.
Fragmen diambil dari geguritan Sucita Subudi karangan pujangga Bali kelahiran Singaraja, Ida Ketut Jelantik.
Geguritan tersebut berkisah tentang percakapan dua sahabat, Sucita dan Subudi. Dua sahabat ini melakukan perjalanan dan berdialog untuk menemukan ilmu pengetahuan dan kesucian.
“Selama ini Komunitas Mahima memperkenalkan karya sastra klasik kepada generasi muda. Kita alihwahanakan sastra klasik menjadi seni pertunjukan,” terang Ole. (bs)

